Keesokan paginya saat menyewa perahu kayu menuju pemandian air panas di kaki Seminung, kabut tebal tiba-tiba turun menyelimuti seluruh danau. Mesin perahu mati mendadak, permukaan air membentuk pusaran raksasa bercahaya hijau toska yang menelan perahu Fathan ke kedalaman tak berdasar.
“Pegang erat kemudi! Danau ini sedang membuka mulutnya!”
--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--
BAGIAN 1: KABUT ANYIR DI BIBIR SUKABANJAR
···[ ⚔️ ]···
Kabut pagi di Danau Ranau tidak pernah turun sebagaimana kabut di pegunungan lain; ia tidak melayang perlahan dari kubah langit yang cerah, melainkan merayap bangkit dari pori-pori air yang membeku. Seolah-olah dasar kaldera itu menyimpan paru-paru purba yang baru saja mengembuskan napas panjang setelah tertidur seribu tahun dalam kegelapan.
Pukul lima lewat tiga puluh menit. Udara terasa setajam mata sembilu, menyayat pori-pori kulit dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum belulang. Bau belerang muda mengambang tipis di atas permukaan dermaga kayu Sukabanjar yang lapuk berlumut, bercampur dengan aroma anyir lumut basah dan getah kayu surian. Fathan berdiri mematung di ujung titian papan yang bergoyang lemah setiap kali riak kecil menyentuh tiang-tiang penyangga.
Di balik punggungnya, kain mori hitam pembungkus badik pusaka terasa dingin dan kaku menempel di pinggang. Matanya yang kelam, diteduhi sepasang alis tebal yang jarang mengendur, menatap lurus ke arah barat laut. Setengah jam lalu, siluet Gunung Seminung masih tampak megah bagai raksasa yang sedang bersemayam di atas air, menopang sisa-sisa bintang fajar dengan bahu hutannya yang hijau kehitaman. Namun kini, Seminung telah raib. Raksasa itu seakan-akan ditelan mentah-mentah oleh tirai putih pekat yang terus menggulung maju, melahap pulau-pulau kecil, menenggelamkan garis bukit, dan menyisakan hamparan air seluas dua belas ribu hektar itu dalam ketiadaan batas.
"Perjalanan pagi ini tidak beres, Nak," suara serak Pak Mansur membelah kebisuan fajar.
Lelaki tua berumur enam puluhan itu sedang menuangkan sisa solar dari jeriken plastik ke dalam tangki mesin tempel perahu keteknya. Tangannya yang dipenuhi otot liat dan bekas luka goresan jala gemetar halus. Caping anyaman pandan tua di kepalanya sudah basah oleh titik-titik embun yang mengembun pekat bagai gerimis tak kasatmata.
"Airnya terlalu hening," lanjut Pak Mansur tanpa menoleh pada Fathan. Ia mengetuk-ngetuk dinding lambung perahu kayu dengan buku jemarinya yang kapalan—sebuah ritual ganjil yang biasa dilakukan para penambang tua untuk mendengarkan 'suara perut' Ranau. "Jika burung-burung kuntul putih tidak berani terbang melintasi selat menuju pemandian air panas di kaki Seminung, itu tandanya danau sedang mengunci pintu. Danau sedang ingin sendiri."
"Kita sudah membuat janji, Pak Mansur," timpal suara lain dari belakang tumpukan karung kopi di dermaga.
Danu Arga melangkah keluar dari bayang-bayang pondok penambang. Langkah kakinya seringan dedaunan gugur, nyaris tak menghasilkan derit sedikit pun di atas papan kayu lapuk dermaga—kebiasaan pesilat yang telah menjiwai gerak Langkah Bayang Cendana. Selendang tapis bermotif pucuk rebung tersampir di pundak kirinya, berkibar pelan tertiup angin danau yang basah. Di wajahnya yang tirus terpatri senyuman tipis yang dingin, sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah Fathan dengan tatapan yang selalu memancing bara api.
"Danau hanya sebuah kawah berisi air hujan dan rembesan mata air belerang, Pak Tua," ujar Danu dengan nada meremehkan yang disengaja. "Air tidak punya kehendak, tidak punya pintu, dan tidak punya hak menolak selembar uang perak yang telah kau kantongi semalam. Jangan biarkan dongeng anak-anak menunda perjalanan kita ke pemandian belerang."
Pak Mansur menghentikan kegiatannya. Perlahan, lelaki tua itu mengangkat kepalanya. Sorot matanya yang keruh oleh katarak menatap Danu dengan intensitas yang mengerikan, membuat senyum sinis di bibir pemuda itu sedikit membeku.
"Orang asing yang sombong selalu mengira mereka bisa menimbang takdir dengan uang," bisik Pak Mansur dengan suara bergetar tertahan. "Danau Ranau terbentuk dari darah bumi yang meledak ketika para datu purba bertarung merebut mustika kaldera. Di bawah ketenangan air ini ada lembah-lembah kuburan yang tak berdasar. Tiga puluh tahun lalu, aku melihat perahu saudagar Palembang ditelan air setenang kaca ini tanpa menyisakan sebatang korek api pun. Jika kalian ingin bunuh diri, jangan ajak perahu dan anak cucuku."
"Pak Mansur," sela Fathan tenang. Suaranya rendah, berwibawa, dan sarat dengan getaran hawa murni yang seketika meredakan ketegangan di udara. "Kami tidak berniat menantang pantangan danau ini. Kami hanya perlu mencapai mata air belerang di lereng Seminung sebelum tengah hari. Ada obat yang harus diracik, ada sumpah yang harus ditunaikan. Aku yang menjamin keselamatan perahumu."
Pak Mansur menatap Fathan lekat-lekat. Untuk sesaat, mata tua itu terpaku pada telapak tangan Fathan yang terkulai di samping tubuh—jari-jemari yang rileks namun terbuka sedikit melengkung, membentuk posisi kesiagaan alami dari pesilat yang mampu membaca gerak sebelum bayangan jatuh. Lelaki tua itu menghela napas panjang, aroma tembakau krosok murahan menguar dari napasnya yang berat.
"Semoga leluhurmu memaafkan kesombongan kata-katamu, Pendekar Muda," gumam Pak Mansur pasrah seraya menarik tali starter mesin perahu.
*Brem... brek... brem-brem-brem!*
Mesin tempel dua tak itu hidup dengan batukan kasar, menyemburkan asap putih tipis berbau minyak tanah dan oli samping ke udara berkabut. Perahu kayu berukuran panjang enam meter itu bergetar hebat saat baling-balingnya mulai membelah air. Fathan melompat turun ke bagian haluan dengan kelenturan tanpa bobot, disusul oleh Danu yang mengambil tempat di bangku tengah, menjaga jarak aman dari Fathan seolah-olah sahabat seperjalanannya itu membawa wabah mematikan.
Tali tambang dilepaskan dari pasak dermaga. Dengan dorongan galah kayu ulin di tangan Pak Mansur, moncong perahu perlahan berputar, mengarah lurus ke jantung danau yang kini seutuhnya putih, hilang dalam pelukan kabut abadi.
✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦
BAGIAN 2: GEMING AIR DAN DURI MASA SILAM
···[ ⚔️ ]···
Perjalanan baru berlangsung dua puluh menit, namun bagi Fathan, setiap detik terasa bagai tetesan air dingin yang jatuh berulang-ulang menghantam tempurung kepalanya.
Dunia di luar perahu telah lenyap. Tidak ada daratan, tidak ada bukit, tidak ada batas cakrawala. Hanya ada kubah putih susu yang melingkupi mereka dari segala arah, menciptakan ilusi mengerikan seolah-olah perahu kayu mereka sedang melayang di ruang hampa yang tiada berujung. Suara deru mesin tempel yang monoton tidak memecah keheningan, melainkan justru mempertegas betapa sunyinya alam di sekeliling mereka. Suara itu terperangkap oleh kabut tebal, teredam dan kembali memantul ke telinga mereka dengan dengung yang hambar dan ganjil.
Fathan duduk bersila di papan haluan. Kedua telapak tangannya bertumpu di atas lutut, punggungnya tegak lurus bagai tiang layar. Di bawah pakaian drill kelabunya, ia sedang mempraktikkan olah napas dasar *Rasa Gerak*—membiarkan kepekaan batinnya merembes turun melalui serat kayu haluan, menembus lapisan cat minyak yang mengelupas, dan menyatu dengan air danau di bawahnya.
Namun, semakin dalam ia mencoba membaca riak air, semakin dingin darah di pembuluh nadinya.
Ada yang salah dengan air Danau Ranau pagi ini.
Dalam ajaran Tapak Tirta, air yang sehat memiliki 'denyut kehidupan' yang lentur; ia bergolak oleh arus konveksi suhu, bergetar oleh liukan kawanan ikan mujair dan seluang, serta bernapas mengikuti tekanan angin permukaan. Namun air di bawah lunas perahu ini... mati rasa. Kerapatannya terasa aneh, lebih pekat dari air danau biasa, seakan-akan jutaan molekul air di kedalaman sedang menahan napas serentak, membeku dalam ketakutan yang mencekam di hadapan sesuatu yang jauh lebih purba daripada waktu.
"Kau tampak pucat, Fathan," suara Danu tiba-tiba menyusup di antara desau angin dingin.
Danu duduk bersandar pada dinding perahu, kedua tangannya terlipat di depan dada. Tatapan matanya yang tajam bagai belati tertuju lurus pada tengkuk Fathan. Senyuman tipis di bibirnya tidak pernah mencapai matanya yang dingin.
"Atau mungkin kau sedang mendengarkan sesuatu di bawah sana?" lanjut Danu, suaranya sengaja ditekan rendah namun sarat dengan bisa racun. "Mendengarkan suara teriakan yang meminta tolong? Suara bocah dua belas tahun yang tenggelam di palung berlumpur sementara kakaknya yang perkasa memilih mendekap gulungan kitab rahasia?"
Jari-jari Fathan di atas lututnya mengencang tanpa sadar. Ujung kuku-kukunya memutih menekan kain celana. Sentakan rasa ngilu yang amat sangat menjalar di ulu hatinya, merobek kembali luka busuk yang telah ia perban rapat-rapat selama lima tahun pengembaraan tanpa arah.
"Danu, diamlah," ujar Fathan pelan. Suaranya setenang air di permukaan telaga, namun ada getaran halus di dasarnya yang menandakan magma batin yang mulai bergolak.
"Kenapa aku harus diam?" Danu menegakkan tubuhnya, melangkah setindak ke arah haluan. Papan lantai perahu sedikit bergoyang di bawah bobot tubuhnya. "Selama lima tahun ini kau hidup seperti pertapa suci, mengemis maaf pada rumput dan batu, bersumpah tidak akan pernah lagi mengangkat tangan untuk memukul musuh. Kau menolak jabatan Lurah Padepokan Telaga Renjana, kau membuang lencana kebesaran aliran Tirta, dan kau membiarkan nama perguruan kita diinjak-injak oleh perguruan silat Lembah Belalau!"
Danu membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga Fathan bisa mencium aroma daun tembakau dan dendam dari napas pemuda itu.
"Katakan padaku, Fathan. Apakah Banyu mati karena takdir arus sungai, atau karena kau sengaja melepaskan tangannya? Katakan bahwa kau takut adiknya yang jenius itu suatu hari nanti akan melampaui ilmumu dan merebut hak waris kitab Tapak Tirta!"
*SREKKK!*
Dalam sepersekian detik yang tak mampu ditangkap mata telanjang, tubuh Fathan telah bergeser. Tangan kanannya mencengkeram kerah baju Danu dengan kecepatan yang melampaui kedipan mata. Jari-jari Fathan menekan tepat di simpul saraf leher Danu, mengunci aliran darah dan tenaga dalam pemuda itu hingga Danu tercekat, matanya melotot kaget oleh ledakan kecepatan yang mustahil diprediksi.
Wajah Fathan kini hanya terpaut sejengkal dari wajah Danu. Sepasang mata Fathan yang biasanya redup dan sayu kini menyala dengan intensitas yang mengerikan—tatapan seorang pendekar yang telah menyeberangi neraka dan kembali dengan separuh jiwa yang tertinggal di sana. Urat-urat di pelipis Fathan berdenyut tegang, dan napasnya yang panas menerpa wajah Danu.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang malam itu, Danu," bisik Fathan, setiap kata terlontar bagai ketukan palu godam di atas besi tempaan. "Kau hanya seorang pengecut yang bersembunyi di balik dinding asrama padepokan saat bendungan batu itu jebol dihantam banjir bandang. Kau tidak melihat bagaimana air bah itu menelan rumah-rumah panggung dalam hitungan napas. Kau tidak merasakan bagaimana pergelangan tangan Banyu terlepas dari genggamanku saat kayu gelondongan sebesar pohon beringin menghantam dadaku!"
Suara Fathan bergetar hebat. Untuk pertama kalinya, topeng ketenangannya hancur berkeping-keping. Di pelupuk matanya yang memerah, tampak bayangan kengerian yang teramat nyata: malam yang gelap gulita diiringi gemuruh air bah, jeritan putus asa adiknya yang terseret pusaran banjir, dan jemari kecil yang terlepas dari cengkeramannya yang berdarah-darah.
"Aku menyelam tiga hari tiga malam di dasar sungai berlumpur itu sampai paru-paruku memuntahkan darah hitam!" desis Fathan, suaranya kian tercekat oleh kepedihan yang tak tertanggungkan. "Aku mencari jasadnya sampai kuku-kukuku copot mencakar bebatuan kali! Dan kau... kau berani menuduhku menukar nyawanya dengan selembar kitab kertas usang?!"
Danu terbatuk, wajahnya memerah karena kehabisan napas di bawah cengkeraman saraf Fathan. Namun, alih-alih gentar, di sudut bibir Danu justru terbit seulas senyum kemenangan yang keji.
"Bagus..." bisik Danu dengan suara serak yang tercekik. "Keluarkan amarahmu, Fathan. Tunjukkan bahwa kau masih seorang pesilat... bukan bangkai bernyawa yang lari dari kenyataan. Tapi ketahuilah satu hal... apa pun alasanmu, tanganmu telah melepaskannya. Dan rasa bersalah itu akan menenggelamkanmu hidup-hidup, sama seperti Banyu tenggelam di dasar lumpur!"
"Kalian berdua anak muda... demi Gusti Allah yang menguasai langit dan bumi... hentikan!"
Teriakan Pak Mansur terdengar begitu parau dan putus asa, seakan-akan lelaki tua itu baru saja melihat malaikat maut berdiri tegak di atas atap perahunya.
Fathan tersentak. Ia melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Danu. Danu terhuyung mundur, terbatuk-batuk rakus menghirup udara dingin sambil memegangi lehernya yang memerah. Fathan menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan badai amarah di rongga dadanya, namun saat ia menoleh ke arah Pak Mansur, rasa dingin yang jauh lebih pekat mendadak mencengkeram seluruh sendi tubuhnya.
Bukan pertengkaran mereka yang membuat Pak Mansur ketakutan setengah mati.
Melainkan apa yang sedang terjadi di sekeliling perahu kayu mereka.
✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦
BAGIAN 3: KUTUKAN LESUNG EMAS DAN KEBISUAN MAUT
···[ ⚔️ ]···
Mesin tempel perahu itu... telah mati.
Tidak ada suara batuk tersengal, tidak ada suara logam beradu, dan tidak ada semburan asap hitam yang biasanya menandai kerusakan busi atau kehabisan bahan bakar. Mesin dua tak yang tadi meraung berisik itu padam begitu saja dalam satu detik, seakan-akan keberadaannya di muka bumi diputus oleh sebilah pedang gaib yang membelah dimensi waktu.
Dan bersamaan dengan matinya mesin itu, seluruh semesta membisu.
Keheningan yang turun bukan sekadar ketiadaan suara bising; ini adalah keheningan yang memiliki massa, keheningan yang menekan gendang telinga dengan beban berton-ton udara hampa. Riak ombak kecil yang biasanya menampar-nampar lambung kayu perahu lenyap tanpa bekas. Tiupan angin danau yang basah mendadak berhenti total, meninggalkan kabut putih tebal menggantung kaku di udara bagai kapas mati. Bahkan uap napas yang keluar dari mulut ketiga orang itu tidak membubung ke atas, melainkan jatuh terkulai membeku ke lantai papan perahu.
"Pak Mansur... ada apa dengan mesinnya?" bisik Danu. Suara pemuda itu tidak lagi terdengar sombong dan menantang. Nada angkuhnya terkikis habis, digantikan oleh getaran kecemasan hewani yang muncul ketika manusia berhadapan dengan predator puncak yang tak kasatmata.
Pak Mansur tidak bergerak. Tubuh kurusnya terpaku di bangku buritan, kedua tangannya masih mencengkeram tuas kemudi kayu yang kini dingin bagai balok es. Topi caping pandannya terlepas dari kepala, jatuh ke lantai perahu tanpa ia pedulikan. Matanya yang keruh melotot lebar ke arah permukaan air di samping perahu, dan di wajahnya yang legam terukir kepucatan yang mengerikan—warna abu-abu mayat yang telah direndam air berhari-hari.