MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Celah Dimensi Swarnaloka

Alih-alih tenggelam dan kehabisan nafas, Fathan terlempar melewati dinding air vertikal bercahaya keemasan. Ia mendarat di tepian danau yang serupa namun berbeda: airnya memancarkan pendaran nilam, langitnya berhias dua rembulan kembar, dan pepohonan rimba berukuran raksasa membisu kaku.

“Ini bukan lagi Sumatera... Udara di sini bernafas dengan denyut yang hidup.”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--

BAGIAN 1 : TINGKAT KETEGANGAN

Robeknya Tirta dan Keruntuhan Gravitasi Fana

···[ ⚔️ ]···

Dinding air itu tidak meremukkan dadanya, dan itulah kengerian yang sesungguhnya.

Dalam detik-detik terakhir di Danau Ranau dunia fana, Fathan telah bersiap menyambut kematian yang dingin dan basah. Ia telah membayangkan paru-parunya merekah bagai kantung perca koyak ketika air danau yang pekat merangsek masuk melalui kerongkongannya, merampas sisa keputusasaan yang ia bawa dari lereng Seminung. Di kedalaman tiga puluh depa, di mana sinar matahari pun enggan menembus lumut purba, kegelapan adalah vonis yang mutlak. Namun alih-alih mati tercekik oleh air dingin yang membekukan darah, tubuhnya justru tersentak oleh sebuah tolakan yang tak masuk di akal manusia.

Air Danau Ranau di hadapannya mendadak membeku dalam wujud sebuah dinding vertikal tegak lurus—selembar tirai raksasa yang menyala dengan pijar keemasan cair. Gelombang yang seharusnya menghantam kepalanya justru terbelah, merekah membentuk celah sempit beraroma damar dan logam terbakar. Gravitasi yang selama dua puluh enam tahun mengikat tumitnya ke bumi Sumatera seolah ditarik lepas bagai benang rapuh. Raga Fathan terpelanting ke depan, menembus lapisan air keemasan itu dengan suara derak kaca pecah yang menggempa di dalam tengkoraknya.

Ia tidak jatuh ke dasar danau. Ia terlempar keluar.

Hantaman pertama mendarat pada tulang rusuknya. Fathan berguling di atas hamparan kerikil kasar yang berderit nyaring, menabrak sebongkah batu karang berlumut basah sebelum akhirnya terhenti dalam posisi tengkurap. Segenap persendiannya menjerit nyeri, mengirimkan denyutan ngilu yang menjalar dari tumit hingga ke pangkal leher. Napasnya tersengal parah; ia terbatuk-batuk liar, memuntahkan cairan payau yang terasa getir dan beraroma belerang manis di lidahnya. Tangannya mencengkeram tanah basah, jari-jarinya menancap ke dalam butiran pasir kelabu yang ganjil.

Pasir itu tidak dingin seperti lumpur Ranau yang ia kenal sejak bocah. Pasir ini hangat—hangat seperti kulit makhluk hidup yang sedang demam tinggi. Dan di setiap sela jemarinya, butiran-butiran kerikil itu memancarkan pendaran nilam samar, seakan-akan tanah tempat ia terkapar dialiri oleh pembuluh darah bercahaya yang berdenyut di bawah kerak bumi.

“Uhuk... Akh!” Fathan mencengkeram dadanya yang naik turun tak beraturan. Matanya berair, pedih tertusuk partikel kabut yang aneh. Ia memaksa kepalanya terangkat, menepis rambut basah yang melekat di pelipisnya yang berdarah.

Segala pemahaman logis tentang ruang, waktu, dan ilmu alam yang pernah ia pelajari di bangku sekolah kota seketika luntur menjadi remah tak berguna.

Di hadapannya membentang tepian danau yang luasnya melampaui batas pandang mata telanjang. Airnya begitu tenang—terlalu tenang hingga nyaris menyerupai lempengan cermin obsidian cair yang dipoles tanpa cela. Tidak ada riak ombak kecil yang biasanya berdebur di dermaga Kotabatu. Tidak ada gemericik angin malam yang menggoyang eceng gondok. Permukaan air itu membisu mutlak, namun memancarkan pendaran biru nilam yang pekat dari kedalamannya, seolah ada seribu lentera arwah yang menyala di dasar jurang air tanpa dasar.

Namun bukan permukaan air itu yang membuat tenggorokan Fathan tercekat kering sampai ia lupa cara menghembuskan napas.

Ia mendongak ke angkasa.

Di atas sana, kanopi langit berwarna ungu kelam pekat tanpa taburan bintang. Dan tepat di tengah kubah hampa itu, menggantung dua rembulan kembar yang bertengger berdampingan bagai sepasang mata buta raksasa. Rembulan pertama berwarna perak pucat dengan kawah-kawah tajam yang seolah menatap lurus ke arahnya, sementara rembulan kedua berukuran sedikit lebih kecil, berpijar dengan lingkaran halo keemasan redup yang berputar lambat berlawanan arah jarum jam.

“Ini bukan lagi Sumatera...” bisik Fathan, suaranya parau bergetar, lenyap seketika ditelan kebisuan sekitar. “Udara di sini... bernafas dengan denyut yang hidup.”

Udara yang ia hirup terasa berat dan sarat oleh muatan mistis yang asing. Setiap tarikan napas mengantarkan getaran halus ke rongga dadanya, seolah udara itu sendiri memiliki kesadaran, mengamati si penyusup fana yang baru saja terdampar di tanah yang terlarang bagi manusia hidup.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

BAGIAN 2 : TINGKAT KETEGANGAN

Keheningan Danau Nilam dan Bayangan yang Mengintai

···[ ⚔️ ]···

Celah Tirta Nilam: Dinding air vertikal bersinar keemasan di bibir Swarnaloka.Transisi Dimensi

Fathan berjuang untuk bangkit. Lututnya gemetar hebat saat ia menopang berat badannya pada sebuah pilar batu andesit yang berdiri doyong di bibir air. Pakaian hitamnya basah kuyup, meneteskan air keemasan yang anehnya mengering menjadi serbuk pudar begitu menyentuh tanah. Bau anyir danau bercampur dengan aroma dupa melati hutan yang menyengat, membangkitkan ingatan-ingatan purba yang selama bertahun-tahun berusaha ia kubur di dasar kesadarannya.

Di belakangnya, dinding air vertikal tempat ia terlempar tadi masih berdiri kokoh. Dari sisi ini, tirai air itu tampak seperti sobekan raksasa di udara—sebuah celah dimensional yang di tepiannya berkilat jalinan aksara kuno Swarnaloka yang meliuk-liuk bagai ular api. Melalui transparansi air keemasan itu, samar-samar terlihat bayang-bayang pepohonan pinus dan dermaga reyot Danau Ranau di dunia manusia, tampak begitu jauh, terdistorsi, dan tak terjangkau. Seolah-olah dunia lamanya hanyalah sebuah ilusi di balik kaca aquarium raksasa yang retak.

Dan retakan itu perlahan-lahan mulai menyempit.

“Jangan tutup...” desis Fathan panik, melangkah selangkah ke arah dinding air itu dengan tangan terulur. “Jangan dulu!”

Namun sebelum ujung jarinya sempat menyentuh permukaan air yang mendidih tanpa panas itu, sebuah hembusan hawa dingin yang menusuk tulang belakang meniup tengkuknya. Hawa dingin itu bukan berasal dari angin malam biasa; rasanya seperti hembusan napas dari seseorang yang telah mati beratus-ratus tahun lalu dan kini berdiri tepat dua jengkal di belakang kepalanya.

Detak jantung Fathan berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan dentuman liar yang terdengar memekakkan telinga di tengah kesunyian yang mencekam. Sunyi di tepian ini bukanlah sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menuntut mangsa. Pepohonan purba yang membingkai bibir danau berdiri kaku laksana barisan raksasa batu yang membatu jutaan tahun silam. Batang-batang beringin dan ulin raksasa itu memiliki diameter selebar rumah panggung, dengan akar-akar gantung yang menjuntai menyerupai lengan-lengan kurus yang membeku di udara. Tak sehelai daun pun berdesir. Tak ada derik jangkrik, tak ada kepakan sayap kelelawar, tak ada dengung serangga malam.

Hanya ada detak jantungnya sendiri—beradu dengan kekosongan abadi yang menindih.

Kecemasan batin yang telah lama ia rawat di perantauan kini merebak bagai bisa ular. Sejak malam celaka tujuh tahun silam di tepian Ranau fana—malam ketika ia melepaskan genggaman tangan adiknya dan membiarkan kotak pusaka keluarga tenggelam ke palung tak berdasar demi menyelamatkan nyawanya sendiri—Fathan tahu bahwa hutang darah dan air tidak akan pernah terhapus oleh waktu. Ia telah lari ke kota-kota bising beraspal, bersembunyi di balik keramaian pasar dan deru knalpot, berharap lolos dari panggilan mimpi buruk yang selalu membangunkannya setiap jam tiga dini hari.

Tetapi Danau Ranau tidak pernah melupakan darah tuannya. Ranau telah menuntutnya kembali, dan kini menelannya mentah-mentah ke dalam perut rahasianya yang paling kelam.

Tiba-tiba, dari balik bayang-bayang dinding batu karang yang retak di sebelah kirinya, terdengar suara gerit langkah kaki.

Bukan langkah kaki manusia di atas kerikil biasa. Bunyinya seperti seretan kain basah yang bergesekan dengan batu cadas, disertai denting halus logam yang beradu pelan.

Kring. Kring.

Lihat selengkapnya