Fathan disergap oleh makhluk air bersisik mirip laskar katak raksasa. Menggunakan silat tangkasnya, Fathan melumpuhkan mereka tanpa membunuh. Aksinya dihentikan oleh kemunculan sesosok wanita bertudung sutra biru bermahkota emas mengambang di atas air: Puteri Ratna Nilam Sari, yang menodongkan selendang berenergi ke leher Fathan.
“Siapa kau, fana lancang? Bagaimana mungkin darah manusia berani melintasi tirai Gerbang Tujuh Hayat tanpa izin leluhurku?”
--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--
## Bagian I: Tapak Dingin di Ambang Muara Kelam
Misteri Danau Ranau dan Detak Jantung yang Beradu Sunyi
···[ ⚔️ ]···
Malam di Danau Ranau bukanlah malam yang ramah bagi mereka yang bernapas dengan paru-paru fana. Di tempat ini, pekat kegelapan tidak sekadar menutupi pandangan; ia meraba, meresap ke dalam pori-pori kulit, lalu mencengkeram relung dada dengan hawa dingin yang mematikan. Air danau yang terbentang luas di hadapan Fathan tampak seperti cermin obsidian purba—hitam pekat, kaku, dan tanpa riak sama sekali, seolah-olah seluruh molekul di dalamnya telah mengikat sumpah darah untuk membungkam setiap rahasia yang pernah ditenggelamkan ke dasarnya selama ribuan purnama.
Kabut tebal turun perlahan dari lereng raksasa Gunung Seminung yang membisu di seberang cakrawala. Bukan kabut putih bersih seperti embun pegunungan biasa, melainkan gumpalan uap dingin berwarna kelabu keperakan yang merayap di atas permukaan air laksana jemari mayat basah yang meraba-raba mencari mangsa. Aroma belerang purba beradu samar dengan wangi anyir kelopak teratai malam yang layu, menghasilkan bau khas muara terlupakan yang menusuk rongga hidung, menyesakkan tenggorokan, dan memicu rasa mual yang tertahan di balik rahang.
Fathan menghentikan langkahnya tepat di tepi gelagah yang basah oleh embun berbisa. Sepatu laras tipisnya telah tenggelam sebatas mata kaki ke dalam lumpur hitam berlumut. Dinginnya lumpur itu merayap naik dengan cepat, menembus kain tebal celananya, dan mengirimkan getaran menggigil yang menusuk hingga ke pangkal paha. Namun, bukan gigilan dingin jasmani yang membuat dadanya terasa sesak dan sempit, melainkan kesunyian yang terlampau pekat. Kesunyian yang begitu mutlak dan menekan, hingga detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman genderang perang di dalam gua dada yang hampa.
Degup itu beradu kencang dengan keheningan danau. Satu... dua... tiga... Setiap detakan memantul di gendang telinganya, memompa darah yang bergolak oleh kecemasan batin yang telah bertahun-tahun ia kubur di dasar ingatannya. Di balik baju silatnya yang berwarna hitam arang, telapak tangan kanan Fathan perlahan meraba dada kirinya. Di balik balutan kain kasa dan jahitan kasar yang mengering, terdapat bekas luka melintang yang bergerigi—luka masa lalu yang ia dapatkan pada malam kehancuran padepokan leluhurnya tujuh tahun silam. Setiap kali ia mendekati wilayah yang berbau sihir purba, luka itu akan berdenyut ngilu dan panas membakar, seakan-akan sembilu tak kasat mata kembali menyayat dagingnya yang belum pernah benar-benar sembuh.
“Danau ini masih mengingat dosa-dosa manusia,” bisik Fathan lirih pada dirinya sendiri. Suaranya tercekat di tenggorokan, pecah menjadi desah pendek yang seketika ditelan oleh tebalnya dinding kabut di sekelilingnya.
Ia memicingkan mata, menatap ke arah tengah muara teluk. Di sana, di antara pekatnya air yang sunyi, mengapung rumpun teratai raksasa yang dikenal para tetua rimba sebagai Padma Swarna. Daun-daunnya selebar perisai prajurit berkilau kehijauan pucat di bawah pantulan rembulan sabit yang tersembunyi di balik cadar awan hitam. Di antara daun-daun raksasa itu, kuncup-kuncup bunga teratai berwarna ungu kehitaman perlahan membuka kelopaknya satu per satu tanpa suara desau angin. Setiap kali sehelai kelopak merekah, semburat cahaya kebiruan yang redup menyala di bagian putiknya, menyerupai lentera arwah yang mengapung tanpa nakhoda di atas makam air yang tak bertuan.
Naluri pendekar Fathan berteriak waspada. Otot-otot betis dan lengannya menegang dalam kesiagaan penuh. Ada keganjilan yang merayap di udara muara ini. Angin malam yang berembus turun dari arah lembah semestinya menciptakan gelombang-gelombang kecil di tepian lumpur, namun permukaan air di hadapannya tetap membeku kaku bagai lempengan kaca hitam. Bahkan suara jangkrik, derit serangga rawa, dan kuakan katak pohon yang biasanya meramaikan malam di kaki gunung telah lenyap sama sekali, seakan seluruh alam liar telah melarikan diri dalam ketakutan sebelum sesuatu yang purba dan lapar bangkit dari palung terdalam.
Setiap hembusan napas Fathan kini mengeluarkan uap putih yang mengepul pendek di udara yang kian membeku. Ia menarik napas dalam-dalam melalui hidung, memusatkan hawa murni ke pusat cakra di bawah pusarnya, meredakan debar jantung yang kian liar. Tujuannya melintasi tapal batas ini bukanlah untuk mencari mati, melainkan menuntut jawaban atas sebuah nama yang terus menghantui mimpinya dalam igauan berdarah: Segel Tujuh Hayat. Namun, semakin jauh ia melangkah ke dalam rahim kabut Danau Ranau, semakin jelas ia merasakan bahwa tempat ini bukan sekadar teluk terasing, melainkan penjara bagi kutukan masa silam yang menolak untuk mati.
Air di hadapannya mendadak bergetar halus. Bukan oleh angin, melainkan oleh getaran frekuensi rendah yang merambat dari dasar lumpur paling dalam. Fathan mundur setengah langkah, meletakkan jemari kanannya tepat di samping pinggang, siap menyambut apa pun yang hendak menyembul dari perut rawa.
✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦
## Bagian 2: Gemerisik Lumpur & Sergapan Laskar Tirta
Pentas Silat Tangkas Tanpa Tetesan Darah
···[ ⚔️ ]···
Gemerisik itu meledak tanpa aba-aba. Mula-mula hanya berupa letupan gelembung udara kecil yang merayap di antara sela-sela tangkai teratai, meletupkan aroma bangkai lumut dan lumpur purba yang menyengat tajam. Namun dalam hitungan detik, gelembung itu menjelma pusaran liar yang berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Air danau yang semula mati mendadak mendidih bergolak, menumpahkan buih kelabu ke atas batang-batang gelagah.
KRAAAKK! Batang gelagah di sebelah kanan Fathan patah berkeping-keping di bawah tekanan hantaman dari bawah air. Dari balik tirai air yang keruh dan bercampur lumpur, muncullah sosok-sosok yang menyeruak dengan kecepatan mengerikan. Kulit mereka berwarna kelabu kehijauan, berlapis sisik licin berlendir tebal yang memantulkan kilatan perak di bawah temaram malam. Tubuh mereka pendek namun gempal berotot kekar, dengan tungkai belakang yang melengkung kuat layaknya katak purba berukuran raksasa setinggi dada manusia dewasa. Sepasang mata bundar berwarna kuning berminyak menatap Fathan tanpa pupil yang jelas, berkilat dengan rasa lapar liar dan kebencian purba terhadap penyusup.
Laskar Amfibi Tirta. Makhluk-makhluk penjaga teluk yang selama ini hanya pernah didengar Fathan dalam dongeng lisan para tetua Pasemah saat memperingatkan anak-anak agar tidak mendekati bibir Ranau ketika bulan mati.
Tiga tombak berduri panjang yang dipahat dari tulang rusuk ikan purba raksasa melesat serentak dari tiga arah berbeda—mengincar tenggorokan, ulu hati, dan lambung Fathan. Suara desingan angin yang dibelah oleh ujung tombak bergerigi itu memekakkan telinga, membawa deru kematian yang dingin. Jika Fathan terlambat sepersekian detik saja dalam mengambil keputusan gerak, tubuhnya pasti sudah terkoyak menjadi umpan bagi ikan-ikan predator di dasar danau.
Namun, tubuh Fathan tidak bereaksi dengan kepanikan buta. Sebagai pendekar yang telah menempa diri dalam aliran Silat Tangkas, tubuhnya telah dilatih untuk menanggapi bahaya bagai embusan bayang-bayang yang tak berbobot. Sesaat sebelum mata tombak pertama merobek jaket kanvasnya, Fathan merendahkan kuda-kudanya hingga lutut kanannya hampir mencium lumpur basah. Dalam gerakan memutar yang luar biasa lentur dan anggun, ia meliukkan pinggangnya ke sisi kiri—jurus Langkah Mengalir Daun Teratai.
WUSSHH! Ketiga mata tombak itu hanya mengenai udara kosong dan mencabik gulungan kabut malam. Menggunakan sisa momentum putaran tubuhnya yang elastis, Fathan tidak membalas dengan pukulan keras melainkan melompat ke udara. Sepasang kakinya mendarat dengan seringan kapas di atas batang tombak lawan terdepan, lalu melenting tinggi sebelum mendarat dengan mantap di atas sehelai daun teratai Padma Swarna yang terapung di permukaan danau.
Daun raksasa berdiameter dua depa itu hanya bergetar pelan, sama sekali tidak tenggelam ke dalam air. Keseimbangan tubuh Fathan begitu sempurna, menyalurkan bobot badannya ke sekeliling urat daun layaknya tetesan embun pagi yang menari tertiup angin.
“KRRR-GHKKK!” geram makhluk-makhluk air itu serentak dengan suara parau yang memekakkan telinga. Kantung udara di bawah rahang mereka menggelembung besar sebesar kelapa, bergetar mengeluarkan frekuensi getar yang mengacaukan konsentrasi batin. Empat ekor lagi melompat keluar dari perairan dalam dengan cipratan lumpur hitam, mengepung daun teratai tempat Fathan berpijak. Mereka tidak membuang waktu; cakar-cakar berselaput mereka yang dilengkapi duri beracun mencakar ke arah pergelangan kaki Fathan dengan geraman buas.