MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Tawanan di Istana Bawah Air

#Fathan dibawa ke Keraton Tirta Nilam, istana megah berdinding kristal air di dasar danau paralel. Di hadapan dewan tetua gaib, Fathan diinterogasi. Yang mengejutkan mereka semua, liontin di dada Fathan bereaksi dengan prasasti utama keraton, membuktikan bahwa ia bukan sekadar pengembara tersesat.

“Batu di dadanya adalah serpihan Mustika Hayat... Bagaimana mungkin seorang anak manusia membawanya tanpa terbakar hangus?”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--

## Bagian 1: Dingin yang Menghunus di Tepian Kabut

Tepian Vulkanik Danau Ranau · Jam Menjelang Dini Hari

···[ ⚔️ ]···

Malam di tepian Danau Ranau tidak pernah sekadar sunyi; kesunyiannya adalah sejenis ancaman yang bernyawa. Kabut pekat turun dari lereng Gunung Seminung laksana kafan raksasa yang merayap tanpa suara, memagari tepian air hitam pekat yang tak memperlihatkan riak sekecil apa pun. Aroma belerang purba yang dingin beradu dengan anyir lumut basah, menyengat pangkal hidung Fathan hingga dadanya terasa tertikam jarum es. Setiap tarikan napasnya menghembuskan uap putih tipis yang lekas ditelan kegelapan, seolah danau itu rakus melahap sisa-sisa kehangatan terakhir yang masih bersemayam di dalam raganya.

Fathan terpuruk di antara bebatuan vulkanik berselimut pakis purba. Lutut kanannya berdenyut nyeri, luka gesekan batu cadas merembeskan darah kental yang langsung mendingin di atas kain celana silatnya yang koyak-moyak. Ia mencoba menegakkan tulang punggungnya, mematuhi ajaran dasar Kuda-Kuda Pasak Bumi dari silat Pertiwi Kristal yang telah ia latih sejak jemari tangannya masih terlalu rapuh untuk menggenggam hulu keris. Namun malam ini, tanah pertiwi di bawah telapak kakinya terasa asing—licin, dingin menggigil, seakan bumi sendiri menolak menopang bebannya dan hendak menjerumuskannya ke dalam perut danau yang tak berdasar.

Di hadapannya, permukaan air Ranau membentang laksana lempengan obsidian cair. Begitu pekat, begitu tenang. Namun ketenangan itulah yang membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Orang-orang tua di pesisir Kota Batu selalu memperingatkan: jangan pernah menatap pusaran kabut Ranau ketika jam menunjukkan lewat tengah malam, sebab air yang diam bukanlah air yang tidur, melainkan rahang predator purba yang sedang menganga menunggu mangsa tersesat.

Detik itu, detak jantung Fathan beradu dengan sunyi yang menindih. *Deg. Deg. Deg.* Setiap dentumannya terdengar teramat bising di dalam gendang telinganya sendiri, menjadi satu-satunya penanda bahwa ia masih bernapas di ambang kematian yang kian rapat melingkar. Dan kemudian, desau itu datang.

Bukan desau angin biasa yang menggugurkan dedaunan randu alas, melainkan dengungan berfrekuensi rendah yang merambat langsung lewat air dan menyengat tulang tumitnya. Permukaan danau yang semula datar mendadak merekah tanpa suara cipratan. Kabut di atas air memadat, berpilin menjadi sulur-sulur kelabu pucat yang menyerupai jemari-jemari panjang tak berdaging. Dari rekahan air hitam tersebut, sosok-sosok jangkung melangkah keluar tanpa memecah ketenangan air.

Mereka mengenakan zirah tipis berkilau nila gelap, sisik-sisik halus yang memantulkan pendar dingin tak kasat mata. Wajah-wajah mereka tirus, pucat laksana lilin yang dibakar di ruang pekuburan, dengan manik mata berwarna biru laut kelam yang tak berkedip sama sekali. Di tangan kanan mereka tergenggam tombak panjang berhulu es hitam—kristal air padat yang tidak mencair meski bersentuhan dengan udara malam.

"Anak manusia," sebuah suara bergema di dalam kepala Fathan, bukan lewat udara melainkan lewat getaran cairan di dalam otaknya sendiri. Dingin, tumpul, dan sarat racun kebencian. "Langkah kakimu yang kotor telah mengotori ambang pintu Tirta Nilam. Berlututlah, atau biarkan sumsummu kami bekukan menjadi umpan karang."

Sebelum Fathan sempat menarik napas untuk menyalurkan tenaga dalam Pertiwi ke kedua lengannya, cambuk fluida dingin telah menyambar dari balik kabut. Tali air beku itu membelit pergelangan tangannya, mengunci sendi-sendinya dengan suhu yang begitu menyengat hingga kulitnya memutih seketika. Tubuhnya ditarik tanpa ampun, terseret melintasi bebatuan licin menuju bibir danau. Saat punggungnya menyentuh permukaan air, rasa dingin itu tidak menenggelamkannya seperti air biasa—ia justru terserap menembus membran gaib, meluncur ke dalam jurang kehampaan di mana danau di atasnya berubah menjadi langit cair yang berkilau mengerikan.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

## Bagian 2: Menembus Membran Keraton Tirta Nilam

Palung Danau Paralel · Kedalaman Tanpa Dasar

···[ ⚔️ ]···

Fathan mengira paru-parunya akan meledak oleh serbuan air danau yang pekat. Secara naluriah ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat, memejamkan mata sambil menahan napas hingga pelipisnya berdenyut bagai dihantam palu godam. Namun, maut basah yang ia nantikan tidak kunjung datang. Ketika kelopak matanya terpaksa terbuka oleh sengatan rasa sakit di pergelangan tangannya, pemandangan yang terhampar di depan matanya meremukkan akal sehatnya sebagai manusia biasa.

Ia tidak sedang tenggelam; ia sedang berdiri di atas jalan setapak pualam hitam yang basah, dikelilingi oleh kubah udara tipis bertekanan luar biasa. Di sekelilingnya, membentang Keraton Tirta Nilam—sebuah peradaban bawah air yang selama ini hanya dianggap dongeng pengantar tidur para nelayan Ranau yang mabuk tuak. Dinding-dinding istana itu bukan dibangun dari batu bata atau kayu jati, melainkan dari balok-balok kristal air beku berstruktur heksagonal sempurna. Kristal-kristal itu memancarkan cahaya nila kebiruan (cyan) yang lembut namun menusuk tulang, memperlihatkan siluet lumut-lumut bercahaya dan fosil ikan purba yang terperangkap abadi di dalamnya.

Di langit-langit balairung yang melengkung setinggi dua puluh tombak, pusaran raksasa Danau Ranau berputar perlahan tanpa henti. Fathan dapat melihat dasar perahu-perahu kayu nelayan di dunia atas tampak samar-samar laksana noktah hitam kecil di kejauhan langit air, terpisah oleh batas tabir dimensi yang tak tertembus mata fana. Ada rasa mual yang mendalam mengaduk perutnya; berada di kedalaman ini tanpa tabung oksigen atau jimat pelindung membuat setiap inci pori-pori kulitnya merasakan bobot jutaan ton air yang tertahan semata-mata oleh mantra purba penghuni alam ini.

Dua prajurit pengawal mendorong punggung Fathan dengan ujung tombak es mereka yang dingin membakar. "Jalan, perusak ketenangan!" desis salah seorang pengawal yang memiliki sirip tipis transparan di sepanjang tulang telinganya. "Dewan Tetua telah menanti di Balairung Utama. Bersyukurlah kau masih diizinkan bernapas selangkah lagi sebelum hukuman pengasingan dijatuhkan."

Fathan terhuyung-huyung melangkah maju. Lantai pualam hitam di bawah telapak kakinya yang telanjang terasa licin laksana cermin berminyak. Setiap langkahnya meninggalkan bercak darah merah tua yang langsung membeku menjadi kristal merah kusam, diserap oleh pori-pori lantai istana. Rasa nyeri di lututnya kini telah menjalar ke pangkal paha, namun yang lebih menyiksa adalah kebingungan yang meremukkan dadanya. Mengapa tempat ini terasa tidak sepenuhnya asing? Mengapa bau udara dingin ini membangkitkan aroma yang pernah menyapa masa kecilnya—aroma kain selendang sutra tua yang dulu selalu membungkus tubuh ibunya sebelum wanita itu lenyap tanpa jejak di danau terkutuk ini?

Mereka tiba di gerbang ganda setinggi sembilan meter yang dipahat dari batu karang hitam pekat berhias relief perang antar-bangsa gaib. Ketika gerbang itu membuka perlahan dengan dengung berat yang menggetarkan rongga dada, Fathan mendapati dirinya melangkah masuk ke dalam jantung Keraton Tirta Nilam: Balairung Utama yang agung sekaligus mengerikan. Di ujung ruangan yang luas itu, berdiri sebuah monolit batu hitam menjulang—Prasasti Tirta Nilam—yang di atasnya terpahat aksara purba memancarkan urat cahaya keperakan yang berdenyut lambat, bagai denyut nadi seekor monster purba yang terlelap.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

Lihat selengkapnya