Puteri Ratna Nilam Sari membawa Fathan ke Ruang Arsip Bayangan. Di sana tersimpan ramalan tertulis aksara ulu kuno: suatu masa ketika Segel Palung rapuh, seorang keturunan 'Ar Rimbai' akan datang membawa takdir pemulihan atau justru pemusnahan total kedua alam.
“Nama keluargamu terukir di batu ini seribu tahun sebelum kau dilahirkan, Pendekar Fathan.”
--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--
BAGIAN 1: TAPAL BATAS KABUT DAN AIR YANG MEMBISU
Tepian Danau Ranau, Pukul Dua Dini Hari — Dermaga Batu Tua, Kaki Gunung Seminung
···[ ⚔️ ]···
Dingin yang menyergap seakan mencabik sukma, mengunci setiap napas dalam jerat ketakutan. Di tepian Danau Ranau, malam tidak sekadar turun sebagai pergantian waktu, melainkan jatuh bagai kain kafan basah yang membekap bumi hingga ke akar-akarnya. Permukaan air di hadapan Fathan membentang seluas cermin batu giok hitam yang mati—begitu tenang, begitu rata, hingga batas antara langit malam Sumatera dan kedalaman kaldera purba itu lebur tanpa sisa. Tidak ada riak. Tidak ada kecipak ikan malam ataupun nyanyian serangga hutan dari lereng Gunung Seminung yang menjulang bagai raksasa bisu di seberang sana. Yang ada hanyalah kabut putih kelabu, tebal dan pekat seperti kapas yang direndam air es, merayap perlahan di atas permukaan danau seolah memiliki kehendak dan rasa laparnya sendiri.
Fathan menarik kerah jaket parasut tipisnya hingga menutupi dagu, namun kain sintetis buatan pabrik kota itu tak ubahnya selembar tisu basah di hadapan hawa dingin Ranau yang ganjil ini. Jari-jari tangannya yang terbiasa menggenggam cangkir kopi hangat di balkon kos-kosan dan mengetik laporan di balik layar kaca, kini membiru dan gemetar hebat di dalam saku. Dua hari yang lalu, ia hanyalah seorang pemuda dua puluh empat tahun yang memesan tiket bus malam demi melarikan diri dari penatnya hiruk-pikuk Jakarta. Ia datang ke danau vulkanik ini untuk mencari matahari terbit, menyewa perahu kayu nelayan, dan melupakan sejenak beban hidup yang membosankan. Ia sama sekali tidak pernah menandatangani perjanjian untuk berdiri di tengah belantara batu berlumut pada pukul dua dini hari, mengikuti langkah seorang perempuan bangsawan yang berpakaian seolah baru saja melangkah keluar dari abad keempat belas.
Di dalam rongga dadanya, detak jantung Fathan beradu dengan sunyi. Setiap degupnya terdengar begitu keras di gendang telinganya sendiri—dug, dug, dug—memantul di antara kesenyapan air danau yang menyimpan rahasia kelam di balik kabut tebal malam itu. Mengapa air sedalam ratusan depa itu tampak seperti menahan napas? Semakin lama Fathan menatap ke arah kabut yang bergulung di permukaan danau, semakin kuat perasaan ganjil yang menggerogoti kewarasannya: perasaan bahwa bukan dirinya yang sedang memandangi danau itu, melainkan sesuatu yang bersemayam di dasar palung gelap di bawah sanalah yang sedang mendongak, mengamati setiap tarikan napasnya.
Di depannya, berjarak tiga langkah di atas undakan batu andesit yang basah oleh embun malam, Puteri Ratna Nilam Sari berjalan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Kain songket tenun benang emas tua yang membalut tubuh anggunnya tidak bergesekan seperti kain biasa; ia mengalir bagai bayangan air. Di tangan kanannya, sebuah lentera kuningan berukir sulur pakis memancarkan nyala api berwarna kuning tembaga yang anehnya tidak bergoyang sedikit pun meski angin lembah berembus menusuk tulang. Cahaya lentera itu hanya mampu menembus kabut sejauh dua depa, menyisakan kegelapan pekat di sekeliling mereka yang terasa hidup dan mengintai.
“Berhentilah menoleh ke arah air hitam itu, Fathan,” suara Ratna Nilam Sari memecah kebisuan, rendah dan jernih bagai denting gamelan perunggu yang dipukul di dalam gua batu. Ia tidak menoleh ke belakang, namun bahunya yang tegak menegang tipis. “Air Danau Ranau di atas garis batas tengah malam memiliki ingatan yang panjang. Jika kau menatapnya terlalu lama dengan pikiran yang telanjang dan cemas, ia akan mengenali bau darahmu. Dan apa yang tidur di bawah sana tidak suka dibangunkan oleh keraguan.”
Fathan menelan ludah yang terasa pahit dan kering di kerongkongan. Ia memaksakan seulas senyum sinis untuk menutupi gemeretak giginya, sebuah mekanisme pertahanan diri yang selalu ia gunakan setiap kali rasa takut mulai mencekik lehernya. “Kau bicara seolah danau ini binatang buas yang bisa mencium bau keringat, Puteri,” sahut Fathan, suaranya terdengar serak dan terlalu nyaring di tengah keheningan itu. “Ini cuma uap belerang dari kawah Gunung Seminung dan kabut pegunungan Bukit Barisan. Secara ilmiah, suhu udara turun drastis di atas permukaan air yang luas. Tidak ada yang sedang mengintaiku dari bawah sana.”
Ratna Nilam Sari menghentikan langkahnya. Perlahan, perempuan itu membalikkan tubuhnya. Cahaya lentera kuningan menyapu separuh wajahnya dari bawah, memperlihatkan garis rahang yang tegas namun menyimpan kelelahan ribuan malam, serta sepasang mata hitam legam yang begitu dalam hingga Fathan merasa bisa tenggelam di dalamnya. Tidak ada kemarahan di wajah Ratna, melainkan sejenis iba yang dingin—tatapan seseorang yang melihat anak kecil bermain api di atas gudang mesiu.
“Ilmu pengetahuan dari kota asalmu mampu mengukur suhu udara dan kedalaman air dengan angka-angka, Fathan,” ucap Ratna perlahan, setiap suku katanya jatuh dengan bobot yang menekan dada. “Tetapi dapatkah ilmu pengetahuanmu menjelaskan mengapa sejak kaki kananmu menginjak tanah dermaga Banding Agung sore tadi, permukaan air danau ini naik tiga jari tanpa setetes hujan pun turun dari langit? Dapatkah akal sehatmu menjelaskan mengapa burung-burung malam berhenti berkicau, dan mengapa luka lama di pundak kirimu—luka yang kau kira hanya tanda lahir sejak kecil—berdenyut panas seperti ditempeli besi membara?”
Napas Fathan tercekat. Tangan kirinya secara refleks bergerak menyentuh pangkal bahu kanannya, tepat di bawah tulang selangka, di mana sebuah guratan kulit berbentuk menyerupai pusaran air beruas tiga memang sedang berdenyut nyeri sejak matahari terbenam tadi. Wajah Fathan yang semula dipaksakan tampak acuh tak acuh kini memucat pasi. Bibirnya sedikit terbuka, kehilangan seluruh kata-kata sanggahan yang baru saja ia susun di kepalanya. Dari mana perempuan asing ini mengetahui tanda di balik pakaiannya? Tanda yang bahkan hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan almarhum kakeknya yang selalu menangis diam-diam setiap kali melihat bahu cucunya saat kecil.
“Kau... bagaimana kau bisa tahu tentang tanda itu?” bisik Fathan, suaranya merosot menjadi parau. Kecemasan batin yang sejak tadi ia tekan di dasar perut kini meluap naik, merambati dada hingga membuat ujung-ujung jarinya mati rasa. Kabut di tepian danau mendadak bergolak pelan, merayap naik melewati mata kaki Fathan seperti jemari es yang meraba tulang keringnya.
Di kejauhan, di tengah hamparan air hitam yang membisu itu, tampak sekelebat bayangan panjang melintas tepat di bawah lapisan kaca permukaan danau—terlalu besar untuk seekor ikan belida raksasa, terlalu luwes untuk sebatang kayu hanyut. Permukaan air tetap rata tanpa riak sedikit pun saat bayangan itu lewat, seolah hukum fisika di tepian Danau Ranau telah mati suri sejak tengah malam tadi. Fathan mundur setengah langkah di atas batu berlumut, tumit sepatunya berdecit pelan. Bau amis lumpur purba yang bercampur wangi bunga kemuning layu mendadak menyeruak dari arah air, membuat perutnya mual oleh firasat buruk yang tak bernama.
Ratna Nilam Sari memperhatikan gerak mundur Fathan dengan sorot mata yang tak berkedip. Lentera di tangannya mengangkat bayangan wajahnya semakin tajam di atas dinding batu tebing. “Jangan pernah membelakangi air saat kabut mulai menebal, Fathan,” peringatnya dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk di tengkuk Fathan berdiri tegak. “Apa yang mengendap di dasar kaldera ini telah menunggu sembilan ratus sembilan puluh sembilan purnama untuk mencium kembali bau darah klan Ar Rimbai. Bagi mereka yang terkurung di bawah sana, rasa takutmu yang manis itu seperti tetesan darah segar di tengah lautan hampa.”
Ratna Nilam Sari tidak langsung menunggu jawaban pemuda itu. Pandangannya turun sejenak ke arah jemari Fathan yang mencengkeram kain jaket di dadanya, lalu kembali menatap manik mata pemuda itu. Ekspresi dingin di wajah sang Puteri retak sepersekian detik, memperlihatkan kilatan duka lama yang teramat pedih sebelum kembali terkunci rapat di balik topeng ketenangan bangsawan Swarnaloka. “Karena tanda yang kau sebut cacat kulit itu bukanlah milikmu seorang, Fathan,” desis Ratna lirih, hampir menyatu dengan desau angin danau. “Itu adalah meterai sumpah yang dibayar dengan nyawa leluhurmu. Dan malam ini, tagihan atas sumpah seribu tahun itu telah jatuh tempo. Ikuti aku sebelum kabut ini benar-benar mengunci jalan masuknya.”
✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦
BAGIAN 2: GERBANG DI BAWAH AKAR BERINGIN AIR
Menuju Pustaka Aksara Ulu Swarnaloka — Lorong Bawah Tanah Kaldera & Ambang Swarnaloka
···[ ⚔️ ]···
Langkah mereka meninggalkan dermaga batu terbuka dan menyelinap ke balik tirai akar-akar pohon beringin tua yang tumbuh menjorok di tebing curam tepian danau. Di balik jalinan akar sebesar tubuh manusia dewasa yang berlumut basah itu, terdapat sebuah celah sempit yang mustahil terlihat dari atas permukaan air. Begitu tubuh Fathan melewati celah batu tersebut, suara angin malam lenyap seketika, digantikan oleh keheningan kedap suara yang menekan gendang telinga hingga berdenging nyaring. Udara di dalam lorong menurun itu tidak lagi berbau belerang atau tanah hutan, melainkan beraroma tembaga tua, kemenyan hutan yang telah membeku ratusan tahun, dan bau langu air purba yang tak pernah tersentuh cahaya matahari.
Seratus anak tangga batu basal hitam terhampar menurun, menembus perut bumi tepat ke arah bawah dasar Danau Ranau. Dinding-dinding lorong di kanan dan kiri mereka basah oleh rembesan air yang menetes lambat—tik... tik... tik—seirama dengan detak jantung Fathan yang kian memburu. Yang membuat bulu kuduk Fathan meremang hebat bukanlah kegelapan lorong itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa jutaan ton air danau yang gelap dan membeku sedang berada tepat di atas atap batu kepala mereka. Setiap tetes air yang jatuh mengenai tengkuknya terasa seperti pecahan es yang mengiris kulit, membisikkan ancaman bahwa atap batu tua ini bisa runtuh kapan saja dan mengubur mereka hidup-hidup di dasar palung.