MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Sumpah di Hadapan Datuk Lembayung

Fathan diperkenalkan kepada Datuk Lembayung, tetua pertapa berjanggut keperakan di lereng Seminung Swarnaloka. Sang Datuk menguji jurus silat Fathan dan menyimpulkan bahwa silat lahiriahnya belum cukup untuk menahan benturan energi mitis tanpa menguasai Panca Elemen Alam.

“Pencak silatmu indah, Anak Muda, tapi di hadapan iblis purba, ototmu akan remuk jika nafasmu belum menyatu dengan detak tanah dan air.”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--

## Bagian I: Cermin Hitam di Tepian Ranau

_Ketika Air Menelan Bayang dan Kegelapan Merayap di Balik Kabut_

···[ ⚔️ ]···

Malam telah lama kehilangan cahayanya saat langkah kaki Fathan terhenti di tepian Danau Ranau. Di tempat itu, udara terasa luar biasa berat, seolah setiap tarikan napas harus membelah selimut tak kasat mata yang merayap dari permukaan air. Air danau malam itu sama sekali tidak beriak. Hitam, pekat, dan membeku laksana jelaga cair yang dituang ke dalam cekungan raksasa di kaki Gunung Seminung. Tidak ada riak gelombang kecil yang ramah, tidak pula pantulan bintang di langit temaram. Permukaan danau itu bergeming seperti lempengan kaca obsidian raksasa yang menatap balik ke arah langit dengan kebisuan purba.

Kabut tebal merangkak pelan di atas permukaan air yang mati itu. Gumpalan uap dingin berwarna putih keperakan itu merayap seperti jemari hantu yang menjalar di atas bebatuan basalt yang hitam legam. Bau belerang tua bercampur lumut basah menguar pekat, membawa sengatan dingin yang bukan sekadar membekukan kulit ari, melainkan menusuk lurus hingga ke persendian tulang. Di kejauhan, bayang-bayang raksasa Gunung Seminung menjulang angkuh, membelah langit malam bagai dinding raksasa yang membatasi dunia fana dengan alam kegelapan yang tak tersentuh akal sehat.

Fathan mengencangkan ikatan kain sarung ikat pinggang kulitnya. Jemari kanannya yang kasar meraba gagang badik di pinggang, sebuah gerak refleks yang lahir dari tahun-tahun pengembaraan penuh darah. Namun di tempat ini, kehadiran senjata tempaan pandai besi terbaik pun terasa hampa dan rapuh. Detak jantungnya beradu cepat dengan keheningan yang menindih telinga. Itu bukan keheningan biasa; itu adalah sunyi yang berdengung, sunyi yang menyerap setiap suara ranting patah atau desah napas hingga terasa begitu bising dan telanjang di tengah kengerian malam.

Di dadanya, kecemasan batin yang telah ia kubur berbulan-bulan kembali menggelegak. Setiap kali menatap ke kedalaman air danau yang gelap tanpa dasar itu, Fathan merasa sedang menatap rongga matanya sendiri—rongga yang dipenuhi abu masa lalu. Bayangan malam berdarah di Perguruan Lembah Tualang melintas cepat di pelupuk matanya. Suara kayu gelondongan yang terbakar, jeritan saudari seperguruannya yang terbelah di tengah malam, dan lolongan makhluk bersayap hitam yang merobek dada gurunya dalam satu kali libasan kuku purba. Malam itu ia selamat hanya karena ia pengecut yang terlambat kembali dari lereng sungai. Rasa bersalah itu adalah luka bernanah yang terkubur abadi di relung jiwanya, menggerogoti setiap denyut nadinya tanpa henti.

"Jangan menatap airnya terlalu lama, Fathan," sebuah suara serak memecah sunyi di belakangnya.

Fathan tersentak kecil, memutar tubuhnya setengah langkah dengan kuda-kuda yang otomatis merendah. Di belakangnya berdiri Ki Lurah Danom, pemandu jalan bertongkat akar bahar yang wajahnya tertutup caping pandan usang. Mata orang tua itu tidak memandang Fathan, melainkan tertuju lurus pada pusaran kabut yang berputar lambat di tengah danau.

"Danau Ranau mengingat semua bangkai yang pernah tenggelam di dalamnya," lanjut Ki Danom dengan nada rendah yang bergetar. "Air ini bukan sekadar air pegunungan. Di bawah sana, ada urat bumi yang mengikat dendam ribuan tahun. Jika hatimu membawa luka busuk, danau ini akan memanggil bayang-bayang itu naik ke permukaan, lalu menelanmu sebelum kau sempat menginjakkan kaki di pelataran sang Datuk."

Fathan menelan ludah yang terasa pahit di pangkal tenggorokannya. Ia memalingkan wajah dari danau, namun hawa dingin yang merayap di punggungnya tidak berkurang sedikit pun. Rasa dingin itu bukan berasal dari tiupan angin pegunungan, melainkan hawa kematian yang seolah mengintai dari balik kabut, mengawasi setiap jengkal gerak-geriknya.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

## Bagian 2 : Tangga Kabut Menuju Padepokan Awan

_Jejak Kaki di Tebing Seminung dan Dengung Nafas Purba_

···[ ⚔️ ]···

Meninggalkan tepian danau berarti meniti jalan setapak terjal yang dipahat langsung pada dinding padas Gunung Seminung. Jalur itu sempit, licin oleh lumut merah purba, dan di sebelah kirinya menganga jurang tanpa dasar yang ditelan halimun pekat. Setiap langkah menuntut kewaspadaan penuh. Batu-batu kerikil yang terlepas dari injakan sandal kulit Fathan meluncur ke dalam kegelapan tanpa pernah terdengar bunyi benturan di dasar jurang. Seolah-olah jurang itu bermuara pada kehampaan abadi.

Semakin tinggi mereka mendaki lereng Seminung Swarnaloka, udara terasa semakin tipis dan menusuk laksana jarum-jarum es. Di antara desau angin yang menyusup di sela pepohonan cemara gunung yang bengkok dan meranggas, terdengar dengungan lirih bernada rendah. Suara itu bukan desau angin biasa, melainkan getaran konstan yang merambat dari perut bumi—detak jantung Seminung yang tidur, namun gelisah.

"Kita hampir tiba di batas kabut," bisik Ki Danom tanpa menoleh. Napas lelaki tua itu tetap teratur, berbeda dengan dada Fathan yang mulai kembang kempis menahan beban tekanan atmosfer yang ganjil. "Ingat pesanku, Anak Muda. Di hadapan Datuk Lembayung, tanggalkan segala gelar pendekarmu. Tanggalkan kesombongan jurus-jurus yang pernah kau pelajari di dataran rendah. Di tempat ini, gelar jawara tak ada bedanya dengan bangkai daun kering yang disapu badai."

Fathan tidak menyahut. Tangannya meraba bekas luka goresan cakar di lengan kirinya yang tertutup kain pembalut hitam. Luka itu tidak pernah sembuh total; ia berdenyut perih setiap kali hawa mistis merapat. Ia tahu dirinya bukan lagi pendekar tanpa tanding seperti yang dielu-elukan orang-orang di pasar kadipaten. Ia adalah buronan dari takdirnya sendiri, manusia yang compang-camping jiwanya, mencari perlindungan sekaligus jawaban di tempat yang paling ditakuti para jawara tanah selatan.

Tiba-tiba, kelokan tebing terakhir membuka sebuah pemandangan yang membuat langkah Fathan membeku seketika.

Di hadapan mereka terhampar pelataran batu andesit bundar yang seolah melayang di atas lautan kabut. Inilah Padepokan Awan Seminung. Tidak ada benteng megah atau gapura emas berkilauan seperti keraton para raja. Yang berdiri di sana hanyalah sebuah pendopo kayu ulin hitam bertiang tunggal, dengan atap ijuk tebal yang basah oleh embun beku. Di sekeliling pelataran, tiang-tiang batu purba dengan pahatan sulur-sulur aksara pra-aksara berdiri melingkar, masing-masing menyangga mangkuk tembaga berisi minyak jarak yang apinya berkobar kebiruan tanpa terganggu oleh hembusan angin malam yang kencang.

Api biru itu memancarkan aroma dupa dupa wangi dan damar hutan yang pekat. Cahayanya berkedip-kedip aneh, melemparkan bayang-bayang panjang meliuk-liuk di atas lantai batu yang menyerupai tarian siluman. Di tengah pelataran, di atas sebuah batu pipih hitam yang permukaannya teramat licin seperti cermin, tampak sesosok tubuh duduk bersila tanpa gerak sedikit pun.

Sosok itu begitu hening, menyatu sempurna dengan batu tempatnya duduk, hingga jika Fathan tidak menajamkan pandangan batinnya, ia akan mengira sosok itu hanyalah sebongkah batu karang yang membeku sejak zaman purba.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

## Bagian 3: Tatapan Sang Pertapa Berjanggut Perak

_Di Bawah Sorot Mata Elang yang Menembus Rongga Tulang_

···[ ⚔️ ]···

Datuk Lembayung mengenakan jubah tenun lurik kasar berwarna kelabu tua yang tepiannya tampak lusuh dimakan usia. Janggutnya keperakan, memanjang hingga ke batas dada, berkilau pucat di bawah pantulan lentera biru. Rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde yang terbuat dari kayu gaharu hitam. Wajahnya dipenuhi guratan-guratan keriput yang dalam laksana pahatan ngarai purba, namun kulitnya memancarkan rona tembaga kemerahan yang menunjukkan daya hidup yang luar biasa liar.

Ketika Ki Danom membungkukkan badan sedalam-dalamnya hingga dahinya hampir menyentuh lantai batu yang dingin, Fathan terpaku. Tekanan tak kasat mata tiba-tiba menimpa pundaknya. Itu bukan angin, bukan pula bobot fisik, melainkan hamparan hawa sakti murni yang begitu padat hingga membuat udara di sekelilingnya terasa seperti lumpur pekat. Paru-paru Fathan tercekat. Detak jantungnya melonjak panik, berdentum keras di rongga telinganya, seakan berusaha melompat keluar dari sangkar rusuknya.

Lihat selengkapnya