MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Menyelami Nafas Tirta

Latihan Elemen Tirta dimulai di bawah bimbingan langsung Puteri Ratna Nilam Sari. Fathan harus belajar bermeditasi di pusaran air deras tanpa melawan arus. Di momen ini, mereka mulai saling berbagi cerita tentang kesepian masa lalu dan nilai-nilai hidup masing-masing.

“Jangan melawan air, Fathan. Jadilah air itu sendiri; lembut saat disentuh, namun tak terpatahkan saat mengalir.”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--

## Bagian 1: Selimut Kabut Danau Ranau dan Langkah Sunyi

Kecemasan Batin di Tepian Air Hitam yang Membisu

···[ ⚔️ ]···

Malam itu, Danau Ranau seolah kehilangan batas antara langit dan air. Kabut tebal merayap dari perut danau laksana kain kafan raksasa yang dibentangkan perlahan oleh tangan-tangan tak kasat mata, menelan siluet raksasa Gunung Seminung hingga hanya menyisakan kegelapan pekat yang membungkam semesta. Udara malam tidak sekadar dingin; ia merayap dengan kelembapan purba yang menusuk melalui pori-pori kulit, menembus lapisan kain surjan hitam yang dikenakan Fathan, lalu mengendap di rongga dadanya sebagai gumpalan kecemasan yang liat dan dingin.

Di tepian danau yang membisu itu, permukaan air nyaris tidak bergerak. Airnya hitam pekat, tenang bagai lempengan batu obsidian yang baru diasah. Namun, ketenangan itu sama sekali bukan kedamaian. Itu adalah keheningan yang menakutkan—seperti seekor binatang pemangsa purba yang menahan nafasnya di dalam liang gelap, mengintai setiap denyut nadi mangsa sebelum menerkam tanpa aba-aba. Setiap kali hembusan angin malam bertiup melewati pepohonan beringin dan trembesi tua yang menjuntai di bibir tebing, aroma belerang samar bercampur lumut basah menguar, mengingatkan siapa pun bahwa di bawah ketenangan ini terkubur dapur magma purba dan misteri berabad-abad yang tak pernah tuntas.

Fathan melangkah di atas hamparan pasir hitam yang bercampur kerikil cadas vulkanik. Setiap kali telapak kakinya yang beralas kulit rusa menjejak tanah, ada rasa waswas yang merayap naik dari tumit ke tengkuknya. Di tempat ini, kesunyian malam begitu mutlak hingga detak jantungnya sendiri terdengar begitu keras—berdegup kencang, beradu dengan sunyi yang menindih, seolah-olah gendang telinganya dipukul oleh rasa takut yang berusaha ia sangkal. Setiap bayangan dahan pohon yang memanjang di bawah siraman cahaya bulan yang temaram tampak seperti jemari kurus raksasa yang hendak menjulur, menelan sisa keberaniannya dalam kesenyapan yang membekukan.

Tangan kanan Fathan tanpa sadar terus meraba hulu keris pusaka yang terselip rapat di balik stagen pinggangnya. Buku-buku jarinya memutih karena cengkeraman yang teramat erat. Sebagai seorang pemuda yang dibesarkan di tengah kobaran api dendam dan pertumpahan darah, ia tidak pernah belajar bagaimana caranya merasa aman tanpa senjata di tangannya. Baginya, kewaspadaan adalah satu-satunya perisai yang membedakan antara bernafas dan menjadi mayat.

“Engkau berjalan seolah-olah setiap jengkal tanah ini berniat mengoyak dagingmu, Fathan,” sebuah suara memecah kesunyian malam, begitu bening, merdu, namun sarat dengan kedinginan gaib yang membuat bulu kuduk meremang.

Fathan tersentak. Langkahnya terhenti seketika, tubuhnya merendah dalam refleks kuda-kuda silat yang terlatih. Sepasang matanya yang tajam menyapu lapisan kabut yang berpusar di atas permukaan air. Di sana, beberapa tombak di depan bibir pantai, sosok Puteri Ratna Nilam Sari berdiri.

Wanita itu tidak berdiri di atas batu karang, melainkan menjejakkan telapak kakinya yang telanjang tepat di atas permukaan air danau yang hitam legam. Tak ada riak, tak ada gelombang yang pecah di bawah kakinya; permukaan danau yang luas mematuhinya bagai kaca padat. Kain kemben sutra berwarna biru nila bercampur kelabu tersampir anggun di pundaknya, berkibar perlahan kendati tak ada angin kencang yang terasa. Wajah sang Puteri sepucat embun dini hari, dengan tulang pipi yang tegas dan sepasang mata biru gelap yang menyimpan rahasia ratusan purnama tanpa pernah menua.

“Tempat ini... tidak menyukai mereka yang masih berdarah hangat, Gusti Puteri,” bisik Fathan, suaranya parau tertahan oleh dingin yang menggigit pita suaranya. Matanya melirik ke arah bayang-bayang hitam di bawah permukaan air yang tampak bergerak perlahan di balik selubung kabut tebal.

Puteri Ratna Nilam Sari tidak tersenyum. Tatapannya menatap lurus ke dalam pupil mata Fathan, begitu dingin dan menghunus, seolah mampu membaca setiap goresan luka dan kepalsuan yang tersimpan di bilik jantung sang pemuda. “Danau ini tidak membenci kehidupan, Fathan. Danau ini hanya menolak kepura-puraan. Air mengingat setiap darah yang pernah tertumpah ke dalam rahimnya, dan malam ini, air mencium aroma keputusasaan serta amarah membara yang kau bawa dari duniamu yang fana.”

Sang Puteri mengangkat jemari tangannya yang lentik, menunjuk ke arah celah tebing cadas di sisi timur danau. Dari celah sempit itu, terdengar suara gemuruh yang kian membesar—bukan lagi desau air biasa, melainkan raungan dahsyat yang menggetarkan batuan andesit di bawah telapak kaki mereka. Itu adalah suara Air Terjun Suban Kahiyang. Di sanalah, di tengah pusaran jeram yang tak mengenal belas kasihan, ujian sesungguhnya telah menanti.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

## Bagian 2 : Pusaran Kahiyang dan Robeknya Perisai Keangkuhan

Pertarungan Melawan Kedegilan Batin di Jeram Maut

···[ ⚔️ ]···

“Kekuatan ototmu yang kau banggakan itu hanyalah ranting rapuh di hadapan kuasa Tirta. Semakin keras kau meninju arus, semakin remuk tulang-belulangmu dihantam batu.”

— Puteri Ratna Nilam Sari

Mereka menembus ngarai sempit yang diapit oleh dinding batu cadas setinggi puluhan tombak. Dinding-dinding batu itu hitam berkilat, basah kuyup oleh tirai lumut purba yang tak pernah tersentuh hangatnya sinar mentari selama ribuan tahun. Di ujung ngarai, pemandangan Air Terjun Suban Kahiyang membentang dengan kemegahan yang mengerikan. Air berbusa putih menghantam dari ketinggian puncak patahan bumi, jatuh berdebum ke dalam sebuah kedung raksasa yang bergolak laksana kawah mendidih berisi air es.

Uap air berhamburan ke udara laksana badai salju tipis, membasahi wajah dan mengaburkan pandangan Fathan. Namun yang paling membuat dadanya berdenyut kencang adalah pusaran di pusat kedung itu. Di sana, jutaan kubik air berkumpul dan berputar membentuk corong pusaran air raksasa—sebuah mata air hitam berputar kencang yang menyedot segala sesuatu ke dasar palung yang gelap gulita. Batu-batu kali sebesar kerbau yang terbawa arus tampak beradu di dasar lubuk, mengeluarkan bunyi gemeretak yang mengerikan di bawah permukaan air.

“Tanggalkan surjanmu dan terjunlah ke pusat pusaran itu,” perintah Puteri Ratna Nilam Sari. Wanita itu kini berdiri tegak di atas ujung batu andesit runcing yang menjorok tepat di atas bibir jeram. Suaranya tidak keras, namun frekuensinya merambat menembus raungan air yang memekakkan telinga.

Fathan menatap pusaran itu dengan napas yang tertahan di tenggorokan. “Ke dalam pusaran itu? Tanpa tali penahan? Arus sebuas itu akan membanting raga manusia hingga hancur berkeping-keping di dinding cadas!”

“Jika ragamu masih kau isi dengan kesombongan dan batu karang egomu, maka kau memang akan mati berkeping-keping malam ini,” balas sang Puteri tanpa secuil pun belas kasihan di raut wajahnya yang beku. “Engkau datang ke tanah Danau Ranau ini dengan sesumbar ingin menguasai Elemen Tirta agar dapat membalas dendam pada musuh-musuhmu. Kau telah menguasai Bayu dengan kelincahan kakimu, dan kau mengira api amarahmu cukup untuk menaklukkan dunia. Namun selama kau memperlakukan alam semesta sebagai musuh yang harus kau taklukkan dengan kepalan tangan, kau hanyalah seekor serangga yang menunggu terinjak. Terjun, Fathan! Atau kembalilah menjadi pecundang yang meratapi kuburan tanah leluhurnya!”

Darah muda Fathan mendidih mendengar hinaan itu. Kata-kata sang Puteri menusuk tepat pada borok luka batinnya yang paling purba: rasa bersalah karena telah gagal melindungi mereka yang dicintainya di masa lalu. Dengan rahang yang mengeras dan gigi yang bergemeletuk menahan amarah, Fathan melepaskan kain surjan dan senjatanya. Dibiarkannya tubuh bagian atasnya terbuka menyambut gigitan angin malam yang sedingin es.

“Aku tidak akan mati di kubangan air ini!” desis Fathan.

Dengan satu hentakan kuat, ia melompat dari tebing batu, meluncur menembus tirai kabut, dan menjatuhkan tubuhnya tepat ke dalam mulut pusaran Suban Kahiyang.

Dampaknya seketika meremukkan segala angan-angan keberaniannya. Begitu kulitnya menyentuh air, hawa dingin yang tak tertahankan merenggut seluruh oksigen dari rongga dadanya. Rasanya bukan seperti masuk ke dalam air, melainkan seperti dihujam ratusan tombak es yang membekukan darah di urat-urat nadinya. Belum sempat ia menyusun kesadaran, arus bawah air yang berputar ganas langsung mencengkeram kedua kakinya, menariknya ke bawah dengan kekuatan yang tak terbayangkan oleh akal manusia.

Fathan memberontak dengan liar. Naluri pendekarnya yang terbiasa bertarung di medan perang memerintahkan otot-ototnya untuk mengerahkan tenaga dalam secara maksimal. Ia memadatkan hawa murni di pusat pusarnya, menegangkan otot lengan dan punggungnya, lalu mencoba memukul dan menendang arus yang memilin tubuhnya. Ia berusaha menahan putaran air dengan memaksakan kuda-kuda kokoh di dalam air.

Itu adalah kebodohan terbesar dalam hidupnya.

Lihat selengkapnya