MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Ujian Api di Kawah Seminung

Datuk Lembayung membawa Fathan mendaki kawah aktif Gunung Seminung untuk menyerap Elemen Agni. Fathan harus menghadapi manifestasi ilusi ketakutan terbesarnya: rasa bersalah atas kegagalan masa lalu dan bayangan orang tuanya yang telah tiada.

“Api ini membakar rasa bersalahmu, bukan jiwamu. Relakan apa yang telah pergi, rangkul apa yang harus kau jaga.”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--

Bagian 1: Kabut Hitam di Tepian Ranau

Desir Air yang Membisu dan Cermin Dosa Purba. Lokasi: Tepian Barat Danau Ranau, Kaki Gunung Seminung | Suasana: Mencekam, dingin menggigit, misterius, sunyi yang menekan gendang telinga

···[ ⚔️ ]···

Malam di tepian Danau Ranau tidak pernah benar-benar tidur; ia bernapas dalam senyap yang menakutkan, seperti binatang buas raksasa yang menahan dengkur di balik selimut kegelapan abadi. Air danau yang terbentang laksana lelehan timah hitam itu tidak memantulkan sebutir bintang pun malam ini. Langit tertutup jelaga kelabu yang pekat, sementara kabut tebal merangkak naik dari permukaan air yang tenang ganjil, menggulung perlahan menyentuh mata kaki, lalu naik menyelimuti lutut dan dada para pengembara yang bernyali lancang.

Fathan berdiri membeku di atas batu andesit berlumut yang mencuat dari bibir air. Dingin malam itu bukan sekadar udara pegunungan yang menusuk pori-pori; itu adalah hawa beku yang seolah memiliki kehendak purba, merayap masuk melalui telapak kakinya yang telanjang, membekukan darah di pembuluh nadinya. Di hadapannya, permukaan Danau Ranau terdiam kaku tanpa riak sedikit pun—sebuah ketenangan palsu yang justru menyembunyikan palung-palung tak berdasar. Orang-orang tua di pesisir Banding Agung selalu berbisik dalam ketakutan bahwa di dasar danau ini bersemayam kota mati kaum purba yang ditenggelamkan amarah dewa, dan siapa pun yang menatap airnya terlalu lama di tengah malam buta akan melihat wajah orang-orang mati yang menuntut tebusan.

“Jangan biarkan matamu tenggelam ke dalam air itu, Fathan,” desis sebuah suara dari balik kabut. Suara itu parau, rendah, dan dingin bagai gesekan dua bilah batu kali.

Fathan tersentak kecil, rahangnya mengerat. Ia tidak menoleh. Ia mengenali langkah kaki yang tak bersuara itu. Datuk Lembayung muncul dari tirai kabut putih laksana arwah yang tercipta dari uap air. Jubah hitam kebiruannya berkibar pelan tertiup angin basah, sementara tangannya menggenggam tongkat kayu liat bertatahkan ukiran sulur api yang telah memudar dimakan zaman. Wajah lelaki tua itu dipahat oleh garis-garis ketuaan yang keras; matanya yang cekung tidak menatap Fathan, melainkan tertuju lurus melintasi bentangan air danau menuju siluet raksasa Gunung Seminung yang menjulang muram di seberang sana.

“Air Danau Ranau memiliki ingatan yang lapar,” lanjut Datuk Lembayung perlahan, ujung tongkatnya menyentuh permukaan air danau tanpa menimbulkan suara percikan. “Ia menampung semua rasa bersalah yang kau buang ke dalamnya. Dan semakin dalam kau menyembunyikannya, semakin lapar air ini menunggu saat untuk menyeretmu ke dasarnya.”

Dada Fathan berdegup kencang. Detak jantungnya beradu liar dengan kesunyian malam yang menindih. Di bawah lapisan kulit dadanya, sebuah denyutan panas terasa membakar pelan—tanda mula bahwa darah Agni di dalam tubuhnya menolak hawa dingin danau ini. Namun, bersamaan dengan denyutan itu, ingatan yang telah bertahun-tahun ia kunci rapat di bilik tergelap jiwanya mendadak berderak terbuka. Bau air danau yang payau dan dingin itu seketika bercampur dengan ilusi aroma yang paling ia benci: bau kayu gosong, bau daging terbakar, dan bau anyir darah yang menetes ke lantai tanah peraduannya dulu.

“Mengapa kita harus berhenti di tepian terkutuk ini, Datuk?” tanya Fathan, suaranya tercekat di tenggorokan, bergetar tipis meski ia berusaha sekuat tenaga menegakkan bahunya. “Bukankah kau berjanji akan membimbingku membuka simpul Agni? Kawah Seminung berada di atas sana, bukan di dalam kubangan air mati ini!”

Datuk Lembayung menoleh perlahan. Dalam kegelapan yang pekat, sepasang mata lelaki tua itu berkilat dengan cahaya kuning pucat yang mengerikan—seperti mata harimau dahan yang mengintai mangsa di pucuk dahan rimba. Tatapan itu menghunjam tepat ke ulu hati Fathan, menelanjangi segala kepalsuan ketabahan yang pemuda itu pasang.

“Kau tidak bisa melangkah menuju api kawah dengan membawa bangkai di punggungmu, anak muda,” ujar Datuk Lembayung dingin tanpa ampun. “Danau ini adalah gerbang pemilahan. Jika jiwamu masih terikat pada jeritan masa lalumu di tepian air ini, kawah Seminung tidak akan membakar simpul kuasamu—ia akan membakar akal sehatmu hingga kau menjadi abu gila yang merangkak di antara batu belerang.”

Keringat dingin menetes di pelipis Fathan, menyatu dengan butir embun malam yang basah. Jari-jari tangannya mencengkeram erat sarung keris kecil yang terselip di pinggangnya, hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Ia tahu sang guru tidak sedang menggertak. Di balik kabut yang kian pekat menggulung di atas Danau Ranau, bayangan masa silamnya mulai menari laksana hantu-hantu air yang menuntut perhitungan.

"“Air Danau Ranau memiliki ingatan yang lapar. Ia menampung semua rasa bersalah yang kau buang ke dalamnya.”"

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦


Bagian 2: Jejak Berdarah Meniti Punggung Seminung

Pendakian di Antara Jurang Kelam dan Angin Pembawa Racun. Lokasi: Punggungan Hutan Lumut Menuju Kaldera Seminung | Suasana: Klaustrofobik, menanjak curam, napas memburu, tanah bergetar pelan

···[ ⚔️ ]···

Mereka meninggalkan bibir danau ketika malam mencapai titik tergelapnya, saat lolongan serigala rimba di kejauhan bersahut-sahutan dengan kepak sayap kelelawar pemakan bangkai. Jalan setapak yang mereka lalui bukanlah lintasan manusia; itu adalah igir bukit yang tajam seperti bilah badik terhunus, diapit dua jurang menganga yang dasarnya tak terlihat tertutup kabut putih pekat laksana kuah racun yang mendidih.

Setiap langkah Fathan terasa berat seolah kakinya dipasung timah panas. Udara yang semula dingin basah berangsur-angsur berubah menjadi pengap dan kering. Vegetasi hutan tropis yang lebat perlahan lenyap, berganti dengan pepohonan cantigi kerdil yang menghitam meranggas dan lumut kerak yang menempel pada batu-batu obsidian runcing. Bau harum daun basah telah lenyap sama sekali, digantikan oleh aroma tajam belerang yang mulai menusuk hulu hidung dan mengikis kerongkongan.

Tanah di bawah telapak kaki mereka mulai menghangat secara ganjil. Dari rekahan-rekahan batu di sepanjang tebing, asap putih tipis mengepul keluar, membawa desis halus yang terdengar seperti rintihan perempuan yang terluka. Fathan merasakan dadanya menyempit. Paru-parunya menolak udara beracun itu, namun Datuk Lembayung yang berjalan tiga langkah di depannya terus melangkah tanpa henti, mantel birunya berkelebat di antara kabut belerang bagai bayangan elang malam.

“Atur napasmu, Fathan!” bentak Datuk Lembayung tanpa menoleh ke belakang. “Napas Panca Elemen bukan dihisap lewat tenggorokan, melainkan ditelan ke palung pusarmu! Kunci hawa dingin di dasar ginjalmu, biarkan hawa panas tanah ini menjadi minyak bagi pelitamu!”

Fathan terbatuk keras. Darah di pelipisnya berdenyut liar, seirama dengan detak jantungnya yang menggelegak. Setiap kali ia mencoba menarik napas dalam-dalam, paru-parunya serasa disiram serbuk kaca panas. Lebih dari rasa sakit fisik itu, yang paling mengoyak batinnya adalah rasa terasing yang luar biasa. Di punggung gunung ini, kesunyian malam begitu purba hingga ia bisa mendengar aliran darahnya sendiri yang menderu di balik telinganya—sebuah simfoni ketakutan yang menertawakan ketidakberdayaannya.

Tiba-tiba, kaki Fathan terpeleset pada kerikil belerang yang rapuh. Tubuhnya condong ke sisi kanan, tepat di bibir jurang maut yang curam menjunam ke lembah batu Danau Ranau. Dalam sepersekian detik yang menentukan, tangannya menggapai akar pohon cantigi kering, namun akar itu patah renyah di telapak tangannya. Jeritan tertahan meluncur dari bibirnya saat kehampaan siap menelannya.

Satu cengkeraman sekuat catok besi menghantam pergelangan tangan kirinya. Sentakan itu begitu keras hingga tulang bahunya berderak pedih. Fathan tergantung di atas jurang hitam, napasnya tersengal-sengal, matanya membelalak menatap jurang yang tak berujung di bawahnya, sebelum pandangannya terangkat ke atas.

Datuk Lembayung menahannya hanya dengan sebelah tangan. Otot-otot lengan tua itu menegang liat laksana kawat baja, namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketegangan fisik. Yang terpancar dari wajah sang guru adalah amarah yang dingin—sebuah kekecewaan yang mengiris lebih tajam daripada belati berkarat.

“Kau tersandung bukan karena batu ini licin, Fathan,” desis Datuk Lembayung, lalu dengan satu sentakan bertenaga dalam yang mencengangkan, ia melempar tubuh Fathan kembali ke punggung jalan setapak berbatu. “Kau tersandung karena matamu menoleh ke belakang! Kau masih mencari pelukan ibumu yang telah menjadi abu!”

Fathan terhempas ke tanah belerang, lututnya berdarah menghantam batu cadas tajam. Rasa sakit yang menjalar di kakinya tak sebanding dengan sengatan kata-kata sang guru. Kemarahan yang telah lama ia pendam mendidih di rongga dadanya laksana lahar kawah.

“Jangan sebut nama ibuku dengan mulutmu yang keji itu, Datuk!” geram Fathan, bangkit dengan gigi terkatup rapat, napasnya memburu dan matanya berkilat liar dalam temaram malam. “Kau tidak tahu apa-apa tentang malam itu! Kau tidak berada di sana saat api itu memanggang rumah kami! Kau hanya seorang pembual tua yang bersembunyi di balik mantra-mantra usang!”

Datuk Lembayung tidak membalas makian itu dengan tinju. Ia hanya terdiam kaku. Namun dalam temaram kepulan asap belerang yang tersibak angin, Fathan melihat sesuatu yang belum pernah ia saksikan sebelumnya pada diri sang mentor: rahang sang datuk bergetar halus, dan di sudut kelopak matanya yang berkerut dalam, sepercik kepedihan purba berkilat sebelum lekas ditelan kembali oleh kegelapan malam.

"“Kau tersandung bukan karena batu ini licin. Kau tersandung karena matamu menoleh ke belakang!”"

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦


Bagian 3 : Bibir Neraka Belerang Purba

Kawah yang Bernapas dan Nyala Api Biru Seminung. Lokasi: Bibir Kaldera Kawah Aktif Gunung Seminung | Suasana: Megah, menakutkan, membara dengan api belerang biru, hawa panas mendidih

···[ ⚔️ ]···

Mereka akhirnya tiba di bibir kawah aktif Gunung Seminung. Pemandangan yang terbentang di depan mereka adalah perwujudan nyata dari neraka purba yang dibekukan waktu, lalu dinyalakan kembali oleh amarah bumi. Kaldera raksasa itu menganga laksana mulut naga purba yang terluka; dasarnya dipenuhi danau asam berwarna hijau toska pucat yang mendidih tanpa henti, memuntahkan gelembung-gelembung gas kuning beracun yang pecah dengan suara mendesis menakutkan.

Lihat selengkapnya