MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Tampak Braja Yang Menggetarkan

Fathan berhasil menguasai jurus Tapak Braja Seminung, memancarkan aura panas suci dari telapak tangannya. Puteri Ratna Nilam Sari menyaksikannya dengan tatapan takjub bercampur cemas, menyadari betapa pesatnya perkembangan pemuda ini.

“Kekuatan sebesar ini di tangan orang yang salah adalah malapetaka, Fathan. Tapi di tanganmu... itu adalah keteduhan yang membakar kegelapan.”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--


BAGIAN 1 : NAPAS KARANG DAN BARA ABADI DI PUNCAK SEMINUNG

Puncak Tebing Api Seminung — Pertemuan Antara Magma dan Dingin Malam

···[ ⚔️ ]···

Malam di pucuk Seminung tidak pernah benar-benar tidur; ia bernapas dalam tarikan lambat yang mengandung maut. Di bibir tebing setinggi ribuan tombak itu, angin malam berhembus bagai bilah belati tipis yang disesahkan langsung dari lembah tersekat. Karang-karang basal hitam menyembul dari perut lereng laksana gigi raksasa yang membeku usai menelan peradaban silam. Setiap celah sempit di antara bebatuan purba itu memuntahkan uap belerang keputihan—panas, menyengat tenggorokan, dan mendesis pelan seolah ribuan ular berbisa sedang bersarang di bawah pijakan kaki.

Jauh di dasar jurang, membentang Danau Ranau. Malam itu, permukaan airnya menyerupai lempengan cermin obsidian yang maha luas: rata, tanpa riak, dan teramat kelam. Kabut tebal merayap lambat dari tepian air, menggeliat naik seperti jemari pucat yang meraba dinding-dinding jurang Seminung. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada pekik burung malam. Rimba belantara di sekeliling tebing membisu dalam ketakutan yang ganjil, seakan seluruh dedaunan dan akar tua di tanah Pasemah tahu bahwa malam ini, tabir antara dunia manusia dan bayang-bayang kelam di dasar ranau sedang menipis hingga ke batas paling genting.

Di atas sebuah tonjolan batu pipih yang berlumur jelaga vulkanik, Fathan berdiri mematung. Jubah ringkas kelabunya berkibar liar dicambuk badai dingin, namun kedua telapak kakinya menancap kukuh laksana pasak besi yang terpatri ke urat bumi. Pemuda itu memejamkan mata. Napasnya ditarik dalam-dalam melalui rongga dada, membiarkan aroma belerang tajam dan hawa dingin menggigil membanjiri paru-parunya. Di dalam tubuhnya, sebuah pergolakan purba sedang berlangsung.

Aliran darah Fathan terasa mendidih, bukan oleh demam jasmani, melainkan oleh kebangkitan hawa murni Agni yang telah dikurungnya selama berpekan-pekan puasa pati geni di gua lereng barat. Urat-urat di pelipisnya bertonjolan, berdenyut keras menyaingi degup jantungnya sendiri yang berdegup berat di balik tulang rusuk. Setiap detakan terasa seperti hantaman godam tempaan pandai besi: du-gup... du-gup... menggemakan sunyi yang terlampau pekat di sekitarnya.

Beberapa langkah di belakangnya, terlindung di balik ceruk batu cadas yang membelakangi hembusan angin, Puteri Ratna Nilam Sari berdiri kaku. Jemari lentiknya yang terbiasa membelai dawai kecapi kini meremas erat selendang cindai sutra birunya. Matanya yang jernih—biasanya menyimpan ketenangan telaga pedalaman—kini melebar tanpa kedip. Bibir mungil sang puteri sedikit terkatup rapat, pucat pasi diterpa pantulan uap belerang. Dadanya naik-turun dalam irama yang tidak beraturan; ketakutan dan rasa takjub berebut ruang di rongga sukmanya.


Sang puteri telah melihat ratusan pendekar pilih tanding dari berbagai kadipaten menapaki Puncak Seminung. Sebagian besar dari mereka pulang dengan urat nadi hangus, bila tidak jatuh terpelanting ke dalam pelukan maut Danau Ranau yang tak pernah mengembalikan jasad korban-korbannya. Namun pemuda di hadapannya ini—pemuda asing dengan sorot mata yang sarat duka dan tekad baja—tampak berbeda. Di punggung Fathan, Ratna melihat bayangan seorang manusia yang rela membakar jiwanya sendiri demi mencari sepercik keteduhan bagi dunia yang koyak.

“Kendalikan napasmu, Fathan...” bisik sang puteri lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan, nyaris tersapu deru angin yang meraung di celah bebatuan. “Jangan biarkan panas Seminung menelan kewarasanmu. Ingat sumpahmu di mata air ranau kelam itu.”

Fathan tidak menjawab dengan kata. Hanya otot rahangnya yang mengetat. Perlahan, kedua kelopak matanya terbuka. Dan saat kedua mata itu menatap kegelapan di atas Danau Ranau, dari celah pupilnya memancar pendar merah keemasan—nyala api suci yang telah tidur selama tiga ratus musim di perut gunung terkutuk ini.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦


BAGIAN 2 : RESONANSI TAPAK BRAJA & NYALA AGNI SUCI

Konsentrasi Cakra — Getaran Murni yang Meremukkan Sunyi Rimba

···[ ⚔️ ]···

Fathan menggeser kaki kanannya setengah jengkal ke depan. Gesekan sol kainnya pada permukaan batu cadas memercikkan serpihan kerikil pijar yang langsung terbakar habis sebelum menyentuh tanah. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya perlahan ke depan dada, merapatkan kedua telapak tangan dalam sikap sembah batara, lalu merenggangkannya kembali dengan tarikan tenaga batin yang luar biasa lambat namun sarat bobot.

Udara di sekitar tubuhnya seketika bergelombang. Hawa dingin pegunungan yang tadi membekukan kulit tiba-tiba tersentak mundur, terdesak oleh kubah panas transparan yang memancar dari pori-pori kulitnya. Embun beku yang menempel pada tebing-tebing batu di radius sepuluh tombak mendadak menguap menjadi desis asap tipis. Dan di telapak tangan Fathan, keajaiban yang mengerikan itu mulai mewujud.

Lihat selengkapnya