MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Malam Beribu Kunang-Kunang

Di sebuah pulau terapung di tengah danau, Fathan dan Puteri Ratna Nilam Sari beristirahat di bawah naungan pohon teratai cahaya. Sang puteri menceritakan betapa sepi hidup abadi selama 500 tahun tanpa ada yang menganggapnya sebagai wanita biasa, sementara Fathan menceritakan keindahan dunia fana dan kesederhanaan hidup.

“Jika suatu hari semua ini berakhir, Fathan... apakah kau bersedia mengajakku melihat matahari terbenam di duniamu sebagai seorang wanita biasa?”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--

### Bagian 01: Napas Hitam Danau Ranau dan Tepian yang Bernyawa

Air danau tidak memantulkan bintang; ia menelannya laksana tenggorokan binatang purba.

···[ ⚔️ ]···

Malam di Danau Ranau bukanlah malam yang lazim turun di atas pematang sawah atau pelataran dusun tanah fana. Di sini, di cekungan kaldera purba yang dikepung lereng-lereng curam, kegelapan memiliki bobot, aroma, dan detak jantungnya sendiri. Kabut pekat bergulung-gulung turun dari pinggang Gunung Seminung yang menjulang legam menantang cakrawala, merayapi permukaan air yang luar biasa tenang. Ketenangan itu ganjil dan mengerikan—begitu tenangnya hingga menyerupai lempengan obsidian cair yang dibekukan oleh mantra purba ratusan tahun silam, menolak untuk beriak kendati angin malam bertiup kencang.

Perahu cadik kecil yang membawa Fathan dan Puteri Ratna Nilam Sari kini tertambat pada jalinan sulur raksasa di tepi Pulau Terapung Nilam. Pulau itu tidak berpijak pada lempung bumi; ia mengapung laksana sarang teratai raksasa yang dianyam oleh akar-akar purba ratusan depa di bawah permukaan air. Setiap kali riak air bergerak pelan karena hembusan angin atau gesekan dayung, daratan itu bergoyang halus dengan ritme yang lambat dan menghantui, seolah-olah mereka berdua tengah berpijak di atas punggung seekor raksasa tertidur yang napasnya sengaja ditahan agar tidak membangunkan petaka purba.

Bau belerang tipis bercampur anyir lumut basah mengapung di udara, menusuk rongga hidung Fathan dengan rasa dingin yang ganjil. Dingin itu tidak sekadar merambati kulit jaket tenunnya yang basah kuyup oleh embun, melainkan menusuk langsung menembus daging hingga ke sumsum tulangnya yang paling dalam. Seakan-akan air danau ini mengalir langsung dari lubang terdalam bumi tempat segala kepedihan dan kematian masa silam disimpan rapat-rapat.

Fathan menarik napas panjang, menekan rasa nyeri yang masih berdenyut di bahu kirinya—bekas benturan jurus elemen tanah pada sesi tempaan petang tadi. Seluruh urat sarafnya masih terasa terbakar oleh benturan tenaga dalam yang belum selaras sempurna dengan aliran darahnya. Namun rasa sakit ragawinya tidak sebanding dengan gemuruh yang menghentak dadanya. Kesunyian di tepian pulau terapung ini terlalu mutlak, terlalu padat, seakan dunia di luar danau ini telah lama punah. Tidak ada derit jangkrik rimba, tidak ada kepakan sayap kelelawar malam, bahkan tidak ada gemercik katak danau yang biasanya riuh menyambut gelap. Yang terdengar hanyalah satu hal: detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, bertalu-talu laksana genderang perang yang tersudut di tengah sunyi.

“Kau gelisah, Fathan,” suara Ratna Nilam Sari memecah hening tanpa menimbulkan gema. Suaranya begitu halus seperti desau kain sutra di atas bebatuan kali, namun ada getaran dingin yang membuat bulu kuduk Fathan meremang seketika.

Fathan menoleh perlahan. Sang puteri berdiri hanya beberapa jengkal dari bibir tebing pulau terapung, tepat di perbatasan antara daratan akar yang rapuh dan jurang air hitam yang tak berdasar. Selendang birunya yang berwarna nila berkibar pelan tanpa hembusan angin yang jelas, seolah digerakkan oleh hawa batin yang berpusar di sekeliling tubuhnya. Di bawah keremangan kabut tipis, wajah Ratna tampak seputih pualam pusara keramat yang terpahat sempurna. Matanya menatap lurus ke dalam pusaran air hitam di bawah kakinya—tempat di mana kedalaman danau menyembunyikan palung tak bertepi.

“Air ini... tidak memantulkan bintang sedikit pun, Gusti Puteri,” bisik Fathan perlahan, suaranya agak parau menahan kecemasan yang ia sembunyikan sedari mereka mengayuh perahu melintasi selat kabut. “Ia menelan semua cahaya yang jatuh ke atasnya. Seolah-olah ada ribuan pasang mata di bawah sana yang menatap kita balik dari kedalaman kelam, mengawasi setiap jengkal napas kita.”

Ratna tidak segera menjawab. Jemarinya yang ramping dan pucat mengusap tepi lengan bajunya dengan gerakan lambat yang mekanis. Sudut bibirnya yang ranum terangkat membentuk senyuman tipis, namun itu bukan senyum ketenangan atau keramahan; itu adalah senyum seseorang yang telah akrab dengan kengerian selama berabad-abad hingga rasa takut itu sendiri kehilangan maknanya.

“Bukan ribuan pasang mata, Fathan,” bisik sang puteri lirih, dan hembusan napasnya mengepul putih di udara beku yang membungkus danau. “Melainkan ingatan. Semua darah yang pernah tumpah, janji sumpah yang dikhianati, dan mereka yang ditelan oleh Danau Ranau sebelum sempat mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang yang mereka cintai. Danau ini tidak pernah lupa, dan malam ini... ia sedang mendengarkan getaran jiwamu.”

Fathan menelan ludah. Kata-kata sang puteri terasa seperti tetesan air es yang jatuh tepat di atas tengkuknya. Ia menatap ke bawah, ke permukaan air yang hitam pekat, dan untuk sesaat ia merasa melihat siluet bayang-bayang berkelebat di kedalaman sepuluh depa, berenang perlahan mengitari pulau terapung mereka.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

### Bagian 02: Pohon Teratai Cahaya dan Percikan Kunang-Kunang Sukma

Bukan serangga belaka, melainkan serpihan cahaya yang lahir dari kepedihan abadi.

···[ ⚔️ ]···

Mereka melangkah menembus lorong belukar lembap menuju pusat pulau terapung, menjauh dari bibir air yang mengancam. Di sanalah berdiri satu-satunya keajaiban yang tampak janggal di tengah kengerian Danau Ranau: Pohon Teratai Cahaya. Batangnya tidak terbuat dari serat kayu biasa yang kasar dan berlumut, melainkan menyerupai batuan kalsedon tembus pandang yang memancarkan pendar biru nilam redup dari dalam intinya. Akar-akarnya menjalar melingkar ke segala arah, teranyam rapat membentuk kanopi alami tempat manusia fana dapat berlindung dari gigitan hawa malam kaldera.

Saat Fathan melangkah mendekat, dedaunan pohon itu bergetar halus tanpa hembusan angin. Dari sela-sela kelopak bunganya yang sebesar perisai perang, titik-titik cahaya mulai bermunculan. Mula-mula hanya satu, dua, sepuluh... hingga mendadak ratusan bintik emas kehijauan melayang ke udara dengan ritme mengambang yang teramat lambat dan anggun.

---

Beribu kunang-kunang.

---

Namun mereka bukanlah kunang-kunang rimba Sumatera yang biasa dilihat Fathan di tepi rawa-rawa tepian Sungai Musi sewaktu masa kanak-kanaknya. Serangga-serangga malam ini bercahaya dengan denyutan yang sinkron dengan tarikan napas sang puteri. Cahayanya dingin menyilaukan, meninggalkan jejak pendaran fosforesens di udara pekat yang berkabut laksana taburan debu intan. Ketika salah satu kunang-kunang melintas dekat di depan mata Fathan, ia dapat merasakan getaran hawa murni yang aneh—bukan getaran hewan liar, melainkan desau lirih doa-doa kuno yang tak pernah sempat diucapkan oleh bibir manusia.

“Kunang-kunang sukma,” ujar Ratna seraya menjatuhkan tubuhnya duduk di atas salah satu akar teratai yang melengkung nyaman. Gaun birunya yang terbuat dari tenun sutra nilam mengembang anggun di atas lumut basah. “Mereka adalah penjaga rasa di pulau ini. Hanya muncul ketika kabut Danau Ranau mencapai ketebalan tertinggi, di malam ketika portal panca elemen berada dalam ekuilibrium yang rapuh. Cahaya mereka adalah sisa-sisa jiwa yang belum tuntas berpasrah kepada takdir.”

Fathan melepaskan sarung keris di pinggangnya dengan gerakan tertib, meletakkannya dengan hati-hati di samping lutut, lalu duduk bersila di hadapan sang puteri dengan jarak beberapa jengkal. Pendar kunang-kunang yang berputar melingkari mereka menciptakan kubah cahaya keemasan di tengah kepungan kabut hitam pekat. Kontras itu menakutkan sekaligus memesona: di dalam lingkaran mereka hangat dan tenang, namun tepat satu langkah di luar jangkauan cahaya, kegelapan danau menganga laksana mulut jurang yang lapar dan tak kenal ampun.

Fathan menatap wajah Ratna Nilam Sari lurus-lurus. Di bawah terpaan cahaya kunang-kunang, garis-garis kecantikan sang puteri tampak nyaris mustahil untuk dipahami nalar manusia fana. Kulitnya mulus tanpa cela setitik pun, pelipisnya sempurna, dan helaian rambut hitamnya beraroma melati hutan yang layu terendam embun pegunungan. Namun ketika mata mereka bertubrukan dalam keheningan rasa, Fathan melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak: keletihan yang teramat sangat.

Itu bukan keletihan seorang petarung seusai adu tenaga dalam atau jurus pedang. Itu adalah keletihan sebuah jiwa yang telah dipaksa terjaga terlalu lama melintasi zaman, menyaksikan generasi demi generasi manusia berganti, menua, dan runtuh menjadi debu sementara ia sendiri tetap beku dalam keindahan yang terkutuk di pulau terasing ini.

“Kau menatapku seakan kau sedang melihat hantu penunggu danau, Pendekar Muda,” bisik Ratna dengan nada menggoda yang terdengar hambar dan getir di telinga Fathan. Matanya menatap jemari Fathan yang berbalut perban kain kasar bernoda obat rempah.

“Aku sedang melihat seseorang yang memikul gunung di atas bahunya seorang diri,” sahut Fathan tulus, tanpa keraguan atau kepura-puraan sedikit pun dalam suaranya. “Dan aku bertanya-tanya... bagaimana mungkin dada serapuh ini tidak hancur berkeping-keping selama lima ratus tahun?”

Lihat selengkapnya