MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Bisikan di Udara Dingin

Saat Fathan tertidur, suara gaib dingin berbisik di dalam mimpinya. Bayangan menyeramkan dengan jubah hitam bercahaya bara—Sang Bathara Malawira—menertawakan usahanya dan menyebut Fathan sebagai 'darah kepunyaanku'. Fathan terbangun dengan keringat dingin dan sesak nafas.

“Bermainlah sesukamu, Anak Manja. Semakin kuat kau melatih ragamu, semakin sempurna wadah yang kau siapkan untukku!”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--


BAGIAN 01 : DUKA KABUT DAN NAPAS DANAU PURBA

Ketika sunyi Danau Ranau menelan kehangatan darah di Pantai Kahiyang

···[ ⚔️ ]···

Malam di Pantai Pasir Putih Kahiyang tidak pernah benar-benar mati; ia hanya menahan napasnya seperti seorang pesakitan yang menunggu algojo mencabut nyawanya.

Di bawah kubah langit yang keruh oleh selimut awan kelabu tebal, hamparan pasir putih di tepian Danau Ranau terbentang pasi. Bukan putih hangat laksana pesisir laut selatan yang disinari terik kemarau, melainkan putih pucat yang dingin dan muram—serupa serbuk tulang purba yang digiling halus lalu ditaburkan di atas tanah basah. Setiap butir pasir seolah menyimpan memori beku dari masa-masa ketika darah dan sumpah masih ditumpahkan tanpa saksi, menolak kehangatan sekecil apa pun yang tersisa dari terik siang yang lekas menguap.

Beberapa depa di hadapan bibir pantai, permukaan Danau Ranau membentang tanpa batas pandang. Di kegelapan yang pekat ini, air danau kehilangan warna birunya yang agung. Danau itu telah bermutasi menjadi genangan jelaga raksasa yang pekat, diam, dan tak beriak. Tidak ada gelombang ramah yang berbisik di tepian batu cadas; yang ada hanyalah desau halus yang ganjil, laksana napas panjang dari makhluk raksasa yang tertidur pulas beribu-ribu tombak di bawah palung terdalam.

Jauh di seberang air yang hitam itu, siluet Gunung Seminung menjulang kaku menembus langit malam. Sosok raksasa purba itu berdiri tegak bagai raksasa hitam yang membisu dengan jubah kabut tebal melilit pinggangnya. Dari lereng-lereng curam Seminung yang dingin itulah kabut putih mulai merayap turun. Ia merayap perlahan di atas permukaan danau, mulanya tipis bagai kelambu sutra yang robek, sebelum akhirnya menebal menjadi dinding uap putih pekat yang dingin menusuk tulang sumsum.

Kabut itu menelan dermaga bambu tua yang telah lapuk. Kabut itu menyelimuti sampan-sampan nelayan yang tertambat bisu. Dan kini, perlahan namun pasti, uap putih yang berbau belerang samar dan lumut basah itu mulai menjilat bibir Pantai Pasir Putih Kahiyang, merangsek mendekati sebuah perkemahan darurat tempat para pendekar muda Tempaan Panca Elemen mengistirahatkan raga mereka yang remuk.

Angin malam bertiup dari celah bukit, membawa serta desis dingin yang ganjil. Desis itu terdengar bukan seperti gesekan daun ketapang atau bambu hutan, melainkan serupa desah lirih suara manusia yang mengeluh dalam keputusasaan abadi. Suara yang membuat bulu kuduk berdiri tegak bahkan sebelum pikiran sempat mencernanya.

Di dalam sebuah pondok bambu terbuka beratap ilalang kering, terbaring sosok Fathan. Pemuda itu tertidur di atas dipan bambu tipis beralas tikar pandan yang telah aus. Di samping pembaringannya, sebuah tungku minyak kelapa menyala redup, melemparkan lidah api kuning yang menari gelisah ditiup hawa dingin yang menyelinap lewat celah dinding bambu.

Namun, tidur Fathan malam itu bukanlah tempat berteduh dari kepenatan raganya. Bagi Fathan, tidur telah bermetamorfosis menjadi pintu gerbang menuju labirin teror yang paling ia takuti: ruang gelap di dalam benaknya sendiri di mana batas antara kewarasan dan kegilaan mulai luntur terkikis kabut.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

BAGIAN 02 : JURANG BAWAH SADAR DAN TEROR BARA HITAM

Gema tawa Bathara Malawira di dalam ruang mimpi yang terbelenggu

···[ ⚔️ ]···

Di dalam alam mimpinya, dunia tidak memiliki daratan dan tidak memiliki langit. Yang terhampar hanyalah kehampaan hitam tak bertepi yang digenangi air setinggi mata kaki Fathan. Air itu terasa sedingin lelehan es kutub, namun anehnya, setiap kali langkah kakinya menginjak permukaan itu, riak yang tercipta memercikkan bunga api hitam keunguan yang berbau amis darah lama.

Fathan mencoba berlari. Kakinya terasa seberat timah panas yang dicor ke dasar bumi. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan segenggam beling kaca yang menghancurkan tenggorokan. Udara di sekitarnya begitu padat dan menyesakkan, seolah seluruh bobot air Danau Ranau sedang menimpa dada kurusnya.

Lalu, dari pusaran kabut kelam di hadapannya, kegelapan mulai memadat.

Bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sebuah entitas yang nyata dan bernapas. Bentuk itu menjulang tinggi melebihi pohon beringin tua, diselimuti jubah panjang dari serat bayang-bayang obsidian yang berkibar liar tanpa hembusan angin. Di balik lipatan jubah kelam itu, tidak ada raga berdaging atau wajah fana. Yang tampak hanyalah retakan-retakan menyala laksana urat bara api merah saga yang berpendar pelan, menyuarakan amarah purba yang telah terpendam selama berabad-abad di bawah dasar Ranau.

Sang Bathara Malawira.

Nama itu menghantam dinding kesadaran Fathan bagai guntur di siang bolong, membuat setiap persendian di tubuhnya goyah dan lumpuh seketika. Bau belerang yang pekat bercampur dengan bau bangkai basah menyeruak memenuhi rongga pernapasan sang pendekar muda.

Dari balik bayangan kepala entitas purba itu, terdengar suara tawa. Tawa itu tidak merambat melalui udara atau menyentuh daun telinga fana; tawa itu bergaung dingin tepat di rongga dada Fathan, bergetar di sela tulang rusuknya, dan meremas jantungnya hingga berdenyut nyeri.

“Bermainlah sesukamu, Anak Manja!” suara itu mendesis, dalam, parau, dan dipenuhi seringai penghinaan yang meremukkan martabat. “Kocoklah udara dengan jurus-jurus bocahmu! Pukul batu cadas sampai jemarimu hancur! Kumpulkan chi panca elemen seolah-olah kau adalah juru selamat dunia fana!”

Fathan berteriak sekuat tenaga, mencoba mengalirkan chi api ke kedua kepalan tangannya untuk menerjang. Namun api di telapak tangannya padam sebelum sempat menyala. Hawa murni yang telah ia latih dengan tetesan keringat dan darah selama berbulan-bulan di padepokan terasa membeku, terisap oleh gravitasi gelap yang dipancarkan oleh sang Bathara.

Bayangan berjubah bara itu melayang mendekat, merendahkan dirinya hingga Fathan bisa merasakan panasnya bara api purba yang memanggang wajahnya, beradu dengan hawa beku yang membekukan tengkuknya.

“Kau pikir mengapa gurumu membawamu ke tepi Ranau ini, Fathan?” bisik sang entitas purba, kali ini dengan nada yang begitu manis dan beracun, laksana tetesan bisa ular kobra yang diselipkan ke cawan madu. “Kau mengira ini hanyalah ujian tempaan raga? Kau mengira kau sedang melatih diri untuk menjadi pahlawan pelindung negeri?”

Sang Bathara tertawa lagi—sebuah tawa panjang yang menggetarkan fondasi mimpi kelam itu.

“Semakin kuat kau melatih ragamu, semakin sempurna wadah yang kau siapkan untukku! Setiap urat yang kau kuatkan, setiap napas panjang yang kau tarik dalam hening meditasi... kau hanya sedang merapikan ranjang bagi kebangkitanku! Darah yang mengalir di pembuluhmu adalah darah kepunyaanku! Kau tidak bisa lari dari takdir bejana, Anak Manja!”

Sepasang tangan bayangan hitam legam dengan kuku-kuku yang membara merah mencengkeram leher Fathan. Fathan merasa tenggorokannya remuk. Matanya mendelik ke atas. Dalam bayang-bayang wajah sang Bathara yang tersingkap sekilas di balik bara jubah, Fathan melihat sesuatu yang membuat jiwanya berteriak ngeri tak terkira:

Wajah yang tersenyum dingin di balik jubah iblis itu bukanlah wajah monster bertaring—melainkan wajahnya sendiri, dengan mata hitam pekat tanpa pupil yang meneteskan air danau!

“Bangunlah, bejanaku!”

Tersentak!

Fathan melompat dari dipan bambunya dengan jeritan tercekat di kerongkongan. Napasnya memburu kasar, terengah-engah seperti orang yang nyaris tenggelam di dasar palung. Keringat dingin mengalir deras membasahi pelipis dan punggungnya, membasahi pakaian katun hitamnya hingga melekat erat di kulit. Jantungnya berdentang begitu keras dan tak beraturan—dug... dug... dug—beradu dengan keheningan malam Pantai Kahiyang yang menindih.

Pemuda itu meremas dadanya sendiri dengan jemari yang gemetar hebat, berusaha meyakinkan dirinya bahwa tulang rusuknya belum remuk. Di luar pondok, suara desau angin Ranau menyelinap masuk, membawa hawa dingin yang persis sama dengan bisikan yang baru saja mengoyak mimpinya.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

BAGIAN 03: BAYANGAN DI TEPI PASIR PUTIH

Ketika cermin air menolak memantulkan wajah seorang manusia biasa

···[ ⚔️ ]···

Fathan tidak sanggup lagi berada di bawah atap pondok bambu itu. Ruangan sempit itu terasa seperti peti mati yang sedang ditimbun tanah basah. Setiap tarikan napas berbau aroma dupa mati dan kayu lapuk yang menyesakkan.

Dengan langkah gontai dan lutut yang masih lemas gemetar, ia menolak selimut kasarnya dan melangkah keluar menembus dingin malam. Kakinya yang telanjang menginjak butiran pasir putih Kahiyang. Sensasi dingin langsung menjalar dari telapak kakinya ke sumsum tulang belakangnya, seolah ia sedang menginjak hamparan salju kotor yang telah mati ribuan tahun silam.

Lihat selengkapnya