MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Retakan Pertama Segel Danau

Matahari di Swarnaloka meredup seketika. Air danau berubah menjadi ungu keruh dan bau belerang menusuk hidung. Monster bayangan menyerbu pos perbatasan. Fathan dan sang puteri memimpin pertahanan, menyadari bahwa gerbang dimensi sudah mulai bocor ke dunia manusia.

“Jika kita tidak menutup retakan ini segera, desa-desa di sekeliling Danau Ranau di duniamu akan lenyap ditelan kabut kematian!”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--

### Bagian 01: Redupnya Surya Swarnaloka

Riak Ungu dan Uap Belerang yang Mengoyak Kedamaian Nirwana

···[ ⚔️ ]···

Cahaya keemasan yang biasanya membasuh pilar-pilar pualam Swarnaloka meredup tanpa aba-aba, seolah matahari di langit nirwana itu dicekik oleh jemari raksasa yang tak kasatmata. Langit yang semula sewarna madu murni perlahan-lahan membusuk menjadi kelabu kebiruan, sebelum akhirnya menetap pada rona lembayung pekat yang memancarkan aura kematian. Angin yang berembus melintasi pelataran Gerbang Selatan tidak lagi membawa aroma wangi melati dewata, melainkan sengatan belerang busuk yang begitu pekat hingga membuat kerongkongan Fathan tercekat perih. Udara terasa berat, mengendap seperti timah cair yang dipaksakan masuk ke rongga dada.

Fathan mencengkeram gagang keris pusakanya yang tersampir di pinggang kirinya. Ujung jemarinya dingin membeku, bergetar tipis di bawah balutan kain sarung tenun ranau yang melilit tubuhnya. Matanya yang tajam—mata yang terlatih membaca gelombang cuaca di tepian Danau Ranau sejak ia masih bocah penjala ikan—menatap lurus ke bawah jurang pelataran pualam. Di sana, tepat di tapal batas di mana alam gaib kahiyang berimpit langsung dengan dimensi manusia fana, permukaan danau purba itu mulai bergolak ganjil. 

Air yang biasanya jernih berkilau laksana cermin zamrud yang menampung bayangan langit kini berubah warna secara mengerikan. Dari tepian hingga palung terdalam, air itu bermutasi menjadi ungu keruh—seperti darah basi yang tercampur abu kawah mati dan minyak jelaga purba. Tidak ada gelombang anggun yang terhempas ke tebing karang; yang ada hanyalah letupan-letupan gelembung besar berisi gas beracun yang pecah dengan suara berdesis lirih, memuntahkan kabut pekat ke udara malam.

"Lihat air itu, Tuan Puteri," bisik Fathan, suaranya parau menembus kesunyian yang menindas. Napasnya terengah halus, membentuk kepulan uap putih di udara yang mendadak anjlok sedingin es pegunungan. "Itu bukan riak biasa yang ditiup angin barat. Danau Ranau sedang mendidih dari rongga perutnya yang paling kelam. Bau ini... ini bau belerang kawah Gunung Seminung yang terkutuk. Sejak aku berusia tujuh tahun, para tetua kampung selalu bersumpah bahwa jika danau berbau busuk seperti bangkai belerang ini di malam purnama redup, maka pintu neraka dasar air telah terbuka."

Di sampingnya, Puteri Dyah Lembayung berdiri tegak tak bergerak. Gaun sutra birunya yang bertatahkan benang perak kahiyang berkibar liar didera pusaran angin bawah yang berputar tak menentu. Namun kemegahan busananya tak sanggup menyembunyikan perubahan drastis pada parasnya. Wajah yang biasanya seputih pualam, dingin, dan memancarkan wibawa ningrat dewata yang tak terjangkau itu, kini disaput rona pucat pasi yang mengerikan. Manik matanya yang sewarna telaga musim gugur melebar tanpa kedip, merefleksikan riak ungu yang kian membubung di permukaan danau bawah sana. Jemarinya yang lentik meremas erat busur kencana pusaka hingga buku-buku jarinya memutih kaku.

"Segel dasar danau... pasak penahan itu bergeser dari porosnya," ucap sang puteri, suaranya bergetar tipis. Getaran itu begitu halus, namun bagi Fathan terdengar laksana lonceng kematian. Selama berbulan-bulan ditempa di Swarnaloka, belum pernah sekalipun ia melihat wanita berdarah bangsawan langit ini memperlihatkan celah kegamangan. "Tujuh ratus tahun pasak penahan itu ditancapkan oleh tujuh Resi Agung Kahiyang, mengunci sisa-sisa kegelapan purba di dasar palung terdalam. Dan malam ini... malam ini benang-benang gaib penopangnya terputus satu demi satu laksana senar kecapi yang ditarik paksa."

Fathan menelan ludah. Rasa pahit yang getir menyengat pangkal lidahnya. Di telinganya yang terlatih peka, suara desau air danau di bawah sana tidak lagi berbunyi seperti deburan ombak, melainkan menyerupai rintihan ribuan jiwa yang menjerit parau dari dasar lumpur purba. Kabut tebal yang biasanya enggan turun sebelum lewat tengah malam kini telah merayap naik dengan kecepatan yang tak masuk akal dari bibir danau, menggulung lereng-lereng tebing karang seperti ular sanca raksasa yang sedang kelaparan. Kabut itu tidak putih bersih laksana halimun fajar, melainkan keperakan pekat bercampur bayangan hitam yang menyembunyikan siluet-siluet bengkok dan tak bertulang di balik selubungnya.

Danau Ranau yang ia kenal di dunia fana—tempat ibunya duduk menatap air tenang sambil mencuci beras di titian bambu saat matahari merekah, tempat adik perempuannya, Laras, tertawa riang mengejar capung di tepi dermaga kayu Kotabatu—kini seakan terhapus dari kenyataan. Danau itu telah bermutasi menjadi rahim kegelapan yang siap melahirkan kembali teror purba yang terkubur ratusan windu. Misteri yang selama ini hanya tersimpan sebagai kidung pengantar tidur para sesepuh desa mendadak bangkit menjelma menjadi mimpi buruk yang berwujud darah dan nanah.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

### Bagian 02: Detak Jantung yang Beradu Sunyi

Retakan Memanjang di Pualam Kahiyang & Gemuruh Misterius Gunung Seminung

···[ ⚔️ ]···

Sunyi mendadak membeku di pelataran pualam itu. Keheningan yang tercipta bukanlah kedamaian, melainkan kebisuan yang begitu rapat, pekat, dan menindas hingga detak jantung Fathan berdegup nyaring di rongga dadanya, beradu dengan sepi malam yang sarat racun. 

Dug... dug... dug... 

Setiap dentuman darahnya memompa kecemasan purba yang tak mampu ia jinakkan. Bunyinya seperti palu godam yang menghantam dinding dadanya dari dalam. Keringat dingin merembes dari pori-pori dahinya, mengalir lambat melewati alisnya dan jatuh membasahi pelataran batu. Di hadapan keheningan yang mencekam itu, bunyi gesekan halus ujung kain sutra sang puteri pun terasa mengiris telinga, dan bunyi butiran kerikil yang meluncur ke bibir tebing terdengar laksana gelegar guntur yang menandai keruntuhan jagat.

KRAAAKKK!

Sebuah rekahan membelah lantai pualam di bawah kaki mereka. Retakan itu bukan sekadar rekahan batu biasa akibat gempa bumi, melainkan garis patahan dimensi metafisik yang memancarkan pendar ungu berbisa disertai kepulan asap hitam yang berdesis membakar ubin marmer suci. Dari celah selebar jengkal tangan itu, tercium uap lumpur busuk dan terdengar suara gemuruh lamat-lamat dari kejauhan—suara erangan berat yang teramat sangat dikenal Fathan sejak masa kanak-kanaknya. 

Itu adalah erangan perut Gunung Seminung. Gunung purba yang berdiri angkuh memayungi Danau Ranau di dunia manusia fana, yang selama ribuan tahun tertidur lelap menyimpan lautan api dan belerang di bawah kalderanya.

"Gunung Seminung... raksasa itu merespons retakan ini," gumam Fathan, matanya membelalak liar, napasnya memburu cepat. Otot-otot di rahangnya mengeras hingga giginya bergemeretak. Rasa panik yang dingin menjalar dari telapak kakinya langsung ke ubun-ubun. "Ibu... Laras... mereka berada di rumah panggung tepat di kaki tebing lereng selatan itu! Desa Banding Agung berada di tepi air yang paling landai! Jika pasak segel danau ini benar-benar pecah, kaldera akan meletus dan air danau akan terangkat menjadi air bah belerang panas yang menenggelamkan ribuan manusia!"

Fathan melangkah maju ke bibir rekahan, mencondongkan badannya seolah ingin terjun menembus jurang dimensi untuk kembali ke dunianya. Namun sepasang tangan yang ramping namun bertenaga kuat mendadak mencengkeram lengan bajunya ke belakang.

"Tenangkan hatimu, Pendekar Fathan!" sergah Puteri Dyah Lembayung tajam. Suara sang puteri berusaha terdengar keras dan berwibawa, namun nada kepanikan yang tersembunyi di baliknya tak dapat ditutup-tutupi. "Kecemasanmu yang membabi buta hanya akan menjadi santapan manis bagi kabut pembasmi ini! Tarik napasmu! Lihat pusaran auramu—hawa batinmu mulai retak dan terpapar jelaga hitam!"

Fathan menyentak tangannya dengan kasar, melepaskan cengkeraman sang puteri. Pemuda desa itu berbalik dan menatap mata Dyah Lembayung dengan sorot murka yang bercampur keputusasaan yang teramat pekat. 

"Tenang?! Bagaimana bisa kau menyuruhku tenang, Tuan Puteri?!" sembur Fathan, suaranya menggelegar menantang sunyi pelataran. Dadanya naik-turun menahan sesak. "Kalian yang lahir di singgasana kahiyang yang megah ini terbiasa memandang dunia manusia seperti memandang mainan papan catur dari atas awan! Kalian meminum sari amerta dari cawan emas, sementara orang-orang di kampungku memeras keringat di tengah dinginnya danau hanya untuk sepiring nasi tiwul! Di bawah sana, ada ibu yang melahirkanku! Ada adikku yang masih belia! Ada ribuan nelayan lugu yang sama sekali tidak tahu bahwa di balik keindahan danau tempat mereka mencari nafkah, ada perang terkutuk antara dewata dan siluman yang siap melahap nyawa mereka!"

Mendengar kata-kata itu, sang puteri terkesiap. Tubuhnya tersentak mundur setengah langkah seolah baru saja dihantam angin prahara. Sebersit luka yang amat pedih dan purba melintas di kedua matanya yang berkilau. Bibirnya yang merah delima bergetar hebat, kehilangan seluruh senyum keanggunan ningrat yang selama ini membentengi dirinya. Ia memalingkan wajahnya dari tatapan Fathan, memandang nanar ke arah kabut danau yang kian mendidih di bawah sana.

"Kau tidak mengerti, Fathan..." bisik Dyah Lembayung, begitu lirih hingga suaranya nyaris terhapus oleh gelegar perut bumi. "Kau mengira kami hidup dalam kemuliaan tanpa noda? Ada harga terkutuk yang dibayar oleh tanah ini... rahasia bernoda darah yang bahkan para dewa langit pun malu untuk menuliskannya di atas kitab-kitab suci kahiyang."

Belum sempat Fathan membedah keganjilan di balik ucapan sang puteri, air danau ungu di dasar jurang meledak membubung ke angkasa. Gelombang lendir kehitaman setinggi lima belas depa menyembur ke udara, mendesis membakar pucuk-pucuk pohon cemara dewata di tebing karang hingga luluh lantak menjadi arang hitam.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

### Bagian 03: Serbuan Kala Bayang Purba

Runtuhnya Pos Perbatasan dan Lolongan Roh yang Terkoyak

···[ ⚔️ ]···

Dari dalam gelombang ungu yang membubung tinggi menembus langit malam, muncullah siluet-siluet mimpi buruk yang tak memiliki rupa wajar. Bentuk-bentuk itu merayap keluar dari air keruh laksana gerombolan laba-laba raksasa yang lapar. Tubuh mereka tersusun dari gumpalan bayang-bayang hitam pekat yang bercampur lendir lumpur belerang mendidih, tingginya melampaui pohon kelapa dengan cakar-cakar memanjang menyerupai sulur-sulur akar pohon beringin tua yang membusuk di dasar rawa.

Di tempat yang semestinya adalah kepala dan wajah makhluk hidup, tidak ditemukan mata maupun hidung. Hanya ada rongga hitam menganga tanpa dasar yang memancarkan pendar cahaya ungu redup, dari mana keluar suara jeritan melengking yang menusuk selaput gendang telinga. Suara itu adalah paduan suara ratapan jiwa-jiwa putus asa yang meratap dalam penderitaan tanpa akhir.

"KALA BAYANG DANAU! PASAK PALUNG TELAH TEMBUS!" lolong para perwira penjaga perbatasan Kahiyang yang berjaga di pos benteng gardu depan.

Puluhan tombak kencana berlapis perak dewata dilepaskan serentak dari atas menara pengawas. Kilatan cahaya putih melesat membelah pekatnya kabut belerang, menghujam langsung ke tubuh-tubuh bayangan itu. Namun apa yang terjadi berikutnya membuat darah para pendekar membeku seketika. Alih-alih tumbang bersimbah darah, tubuh amorf para monster itu justru membuka diri, melahap energi cahaya tombak tersebut tanpa cedera sedikit pun. Gumpalan bayang-bayang itu membesar dua kali lipat, menyerap energi kesucian pualam Kahiyang, lalu memuntahkan kembali gelombang kejut hitam yang menyapu pelataran.

BRAAAKKK!

Menara pos perbatasan runtuh berantakan. Pilar-pilar batu marmer hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu. Tiga orang prajurit elit Kahiyang terlempar puluhan meter ke udara sebelum jatuh terhempas menghantam pelataran di dekat kaki Fathan. Darah keemasan menyembur dari mulut dan hidung mereka. Sebelum mereka sempat bangkit, sulur-sulur cakar bayangan merayap keluar dari retakan marmer, melilit leher dan tubuh mereka, lalu menyeret para penjaga itu masuk ke dalam celah dimensi. Lolongan putus asa para prajurit itu lenyap seketika begitu tubuh mereka ditelan air keruh berbusa, menyisakan keheningan yang dingin dan berbau kematian.

Lihat selengkapnya