MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Pengkhianatan di Balik Jubah Perak

Patih Keraton Nilam, Arya Kencana, ternyata tergiur janji kekuasaan abadi dari Sang Malawira. Ia mencuri Kitab Kunci Segel dan menyabotase pertahanan istana, membuka jalan bagi laskar bayangan untuk mengepung danau.

“Kau buta oleh rasa cintamu pada manusia fana itu, Tuan Puteri! Malawira menawarkan keabadian tanpa kutukan penjara ini!”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--


BAGIAN 01 : KABUT KELAM TEPIAN RANAU

Latar: Anjungan Dermaga Pualam Danau Ranau & Gerbang Sisi Barat Keraton Nilam (Tengah Malam Buta, Menjelang Puncak Kabut Belerang Gunung Seminung)

···[ ⚔️ ]···

  Malam itu, Danau Ranau tidak bernapas; ia menahan dengkur purbanya di balik cadar kabut dingin yang turun merayap dari pinggang Gunung Seminung laksana kafan raksasa yang dibentangkan oleh tangan-tangan gaib. Permukaan airnya yang terhampar luas tampak hitam membeku bagai cermin obsidian mati, begitu licin dan pekat hingga rembulan yang bersembunyi di balik awan kelabu tak mampu memantulkan secuil pun bayangan peraknya. Tak ada riak kecil yang menyapa bebatuan cadas; tak ada deburan lembut yang biasanya membasahi lumut tepian dermaga. Danau itu diam—sebuah ketenangan semu yang teramat ganjil, ketenangan yang tidak memancarkan kedamaian, melainkan ancaman sunyi dari sebuah mulut raksasa yang sedang menunggu saat tepat untuk menelan seluruh kehidupan ke palung terdalamnya.

  Puteri Ratna Nilam Sari berdiri mematung di ujung anjungan batu pualam dermaga Keraton Nilam. Hawa dingin malam itu bukan sekadar udara beku dataran tinggi yang biasa menggigit kulit ari; dingin itu berakar dari kedalaman air purba, merayap naik menembus sol selop beludrunya, menyusup ke persendian tumit, dan membekukan aliran darah di tulang selangkanya. Aroma belerang purba yang berbaur dengan anyir lumut mati dan bau busuk daun senduduk yang membusuk di rawa-rawa tepian mengambang pekat di udara, menyumbat rongga pernapasannya hingga setiap tarikan napas terasa laksana menghirup serbuk kaca.

  Jemarinya yang ramping dan pucat bertengger kaku di atas pagar pembatas berukir naga bersisik nilam. Batu pualam hijau itu begitu dingin hingga terasa membakar kulit jarinya. Sejak matahari terbenam di balik punggung bukit dan menenggelamkan lembah dalam keremangan tembaga, rongga dada Ratna telah dirayapi oleh kegelisahan yang tak mampu ia jinakkan dengan mantram batin apa pun. Bukan sekadar rasa cemas akan datangnya badai hujan musiman, melainkan sebuah firasat tajam yang mencakar-cakar dinding jantungnya—seolah-olah benang ruhani yang selama dua puluh tahun menautkan sukma sang puteri dengan jantung gaib Danau Ranau sedang ditarik kencang oleh sepasang tangan tak terlihat, ditarik hingga merintih di ambang putus.

  Sunyi malam itu terlampau pekat. Begitu rapatnya keheningan yang menyelimuti tepian danau hingga bunyi detak jantungnya sendiri terdengar begitu keras dan mengerikan di telinganya. *Deg. Deg. Deg.* Setiap dentuman darah di pelipisnya beradu dengan kekosongan malam, berdenyut bagai genderang perang yang ditabuh perlahan di dalam liang kubur. Tak ada suara derit serangga malam; tak ada kepakan sayap burung hantu yang biasanya melintas di pucuk-pucuk pohon damar; bahkan tak terdengar desir angin yang lazimnya menyapu permukaan air. Semesta seolah menahan napas, menanti titik nadir sebuah malapetaka yang telah digariskan sejak masa leluhur.

  Ratna menyipitkan matanya, berusaha menembus tirai kabut susu yang menggantung hanya beberapa jengkal di atas permukaan danau. Di sana, tepat di tengah telaga yang dipercaya para tetua sebagai titik palung tanpa dasar, kabut malam tidak bergerak mendatar mengikuti arah angin. Kabut itu berputar perlahan, membentuk pusaran rendah yang berpilin bagai pusaran air raksasa yang terbalik. Di tengah pusaran itu, air danau yang semula hitam legam tampak memancarkan pendar ungu kelabu yang mengerikan—pendar cahaya yang hanya dikenal dalam kitab babad kuno sebagai tanda bangkitnya hawa batin Sang Malawira.

  Jari Ratna bergerak gemetar meraba bandul giok yang tergantung di lehernya, tepat di antara belahan kemben sutra birunya. Pusaka peninggalan almarhumah ibundanya, Permaisuri Kumala Dewi, biasanya selalu memancarkan kehangatan lembut serupa pelukan seorang ibu ketika disentuh. Namun malam ini, giok itu dingin laksana batu nisan yang tertimbun salju. Permukaannya buram, dan ketika Ratna memusatkan indra batinnya, ia merasakan denyut giok itu melemah, tersengal-sengal laksana seorang sekarat yang kehabisan udara.

  “Ada dinding pembatas yang runtuh...” bisik Ratna pada kesunyian yang membisu. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, serak dan gemetar oleh hawa belerang yang menusuk tenggorokan. “Bukan karena guncangan alam dari perut bumi... tetapi karena pasak penjaganya telah dicabut dengan sengaja.”

  Firasat itu menghantam kesadarannya bagai godam besi yang menghancurkan lempengan pualam. Dadanya berdenyut perih, memancarkan rasa ngilu yang menjalar hingga ke ujung-ujung jemarinya. Ratna memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa ketenangannya, namun yang ia rasakan di balik kelopak matanya hanyalah kegelapan yang kian mendekat. Danau Ranau di hadapannya bukan lagi telaga permai tempat ia menatap fajar bersama pemuda yang ia cintai; danau ini telah bermutasi menjadi penjara kuno yang jeruji besinya baru saja digergaji dari dalam.

  Sebuah hembusan angin tiba-tiba melesat dari arah gerbang keraton, dingin dan membawa bau dupa yang ganjil. Bau dupa itu bukan dupa cendana yang biasa dibakar para dayang di keputren, melainkan dupa kamboja hitam bercampur getah beracun. Bulu kuduk Ratna meremang seketika. Tanpa membuang waktu sedetik pun, sang puteri menyentakkan kain kemben birunya, memutar tumit dengan ketangkasan jurus langkah angin, dan melesat meninggalkan dermaga menuju lorong-lorong gelap Keraton Nilam.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

BAGIAN 02 : KORIDOR KESUNYIAN & JEJAK YANG TERNODA

Latar: Koridor Pualam Hitam Menuju Kamar Pusaka Keraton Nilam (Pukul Satu Dini Hari Lewat Seperempat)

···[ ⚔️ ]···

  Langkah kaki Ratna menyusuri koridor pualam hitam Keraton Nilam tidak bersuara sedikit pun, teredam sempurna oleh kelenturan tapak selop beludrunya dan kemahiran langkah *Tapak Halimun* yang telah ia latih sejak usia tujuh tahun. Namun di balik keheningan langkahnya, rongga dadanya bergolak hebat laksana kawah belerang yang siap memuntahkan lahar panas. Suasana di dalam kompleks keraton terasa jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan kesunyian danau di luar tadi. Istana yang biasanya berdenyut dengan derap patroli prajurit bersenjatakan tombak perak dan suara genta penjaga malam kini senyap bagai pekuburan bawah tanah yang terlupakan.

  Dinding-dinding lorong yang dibangun dari batu pualam hitam pekat tampak mengilap suram di bawah temaram nyala obor dinding. Minyak tengkawang di dalam wadah-wadah perunggu antik itu terbakar tidak wajar; nyala apinya tidak berwarna kuning keemasan, melainkan kebiruan pucat dan sesekali memercikkan asap tipis berwarna kelabu pekat. Dan di bawah deretan obor yang sekarat itu, pemandangan yang menyayat nurani Ratna terhampar tanpa ampun.

  Di pelataran depan sayap barat, empat prajurit pengawal utama keraton tergeletak lunglai di lantai pualam. Dua di antaranya bersandar pada dinding batu dengan kepala terkulai miring dan tombak perak terlepas dari genggaman, sementara dua lainnya tertelungkup kaku di dekat pintu gerbang pembatas. Ratna segera berlutut di samping salah seorang prajurit paruh baya yang ia kenali sebagai Ki Rangga Wira, komandan jaga yang telah mengabdi puluhan warsa di istana.

  Dengan jemari yang gemetar, Ratna menyentuh urat nadi di leher Ki Rangga. Kulit pria perkasa itu sedingin marmer basah, namun nadinya masih berdenyut sangat lambat—teramat lambat, seolah detak hidupnya telah diseret ke ambang kematian abadi. Kelopak mata prajurit itu bergetar halus di balik tidur lelapnya, dan di sudut bibirnya tampak noda busa tipis beraroma manis yang menyengat tajam.

  “Dupa getah senduduk malam...” desis Ratna dengan rahang terkatup rapat, merasakan amarah dan kengerian merayap di tenggorokannya. Ia mengenali racun bius ini; ramuan rahasia yang diekstrak dari kuncup bunga senduduk liar yang hanya tumbuh di tebing-tebing terjal Gunung Seminung saat bulan mati. Racun ini tidak membunuh seketika, namun mengikat sukma seseorang dalam ilusi tidur lelap tanpa mimpi, melumpuhkan seluruh simpul tenaga dalam hanya dalam tiga tarikan napas.

  Yang membuat jantung Ratna serasa diremas kencang adalah kenyataan tak terbantahkan di balik keberadaan racun ini. Ramuan senduduk malam bukanlah barang pasaran yang bisa diselundupkan oleh maling jalanan atau mata-mata musuh dari seberang pulau. Minyak bius itu adalah pusaka rahasia kepatihan Keraton Nilam, tersimpan rapat di lemari besi Kamar Rahasia Kepatihan yang hanya bisa dibuka dengan kunci berukir lambang garuda perak—kunci yang dikalungkan di leher seorang pejabat tertinggi keraton.

  “Tidak... ini tidak mungkin,” bisik Ratna menolak kenyataan yang mulai merayap di kepalanya. Pikirannya menolak untuk merangkai kepingan-kepingan petunjuk itu menjadi sebuah kesimpulan utuh. Sosok yang memiliki otoritas penuh atas ruang peramu kepatihan, sosok yang memegang kendali atas jadwal pergantian jaga malam ini... adalah orang yang sama yang telah mengusap air matanya saat ia kecil, orang yang mengajarkan filosofi silat bahwa kekuatan bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk melindungi mereka yang lemah.

  Ratna bangkit, mengabaikan lututnya yang gemetar. Ia menuruni anak tangga spiral batu yang meliuk menuju bagian paling sakral dan tersembunyi dari Keraton Nilam: Kamar Pusaka. Tempat di mana Kitab Kunci Segel, naskah kuno bertuliskan mantra leluhur yang mengikat Sang Malawira di dasar danau, disemayamkan di atas altar batu giok biru selama lebih dari empat abad.

  Saat kakinya menginjak lantai pelataran bawah tanah, matanya menangkap pemandangan yang meremukkan seluruh pertahanan mentalnya. Gerbang ganda Kamar Pusaka—pintu raksasa setebal dua jengkal yang terbuat dari kayu jati purba berlapis pelat tembaga dan mantra tolak bala—telah terbuka menganga. Rantai perak bermantra yang melilit kedua pegangannya telah putus berceceran di lantai; ujung-ujung rantai itu meleleh menghitam, masih mengepulkan sisa asap panas berbau belerang kental.

  Ratna mendekat ke ambang pintu dengan napas tertahan di dada. Di sudut ukiran kayu jati yang tergores kasar oleh lelehan rantai, matanya tertumbuk pada sehelai benang halus yang tersangkut. Benang sutra murni yang dipilin bersama serat perak berkilau. Hanya ada satu jubah di seluruh keraton ini yang ditenun dengan benang perak semacam itu: Jubah Keagungan Patih Keraton Nilam. Ratna memejamkan mata sesaat, merasakan kepedihan yang teramat sangat menusuk hingga ke dasar jiwanya, sebelum akhirnya ia melangkah masuk ke dalam kamar pusaka.

Lihat selengkapnya