MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Kitab Silsilah berdarah Hitam

Fathan berhasil merebut kembali potongan naskah lontar terlarang yang dijatuhkan sang patih pengkhianat. Dengan bantuan penerjemahan mantra ulu dari sang puteri, Fathan membaca kebenaran yang mengerikan tentang asal-usul klan Ar Rimbai.

“Tunggu... apa arti lambang darah ini? Mengapa nama leluhurku tercantum sebagai pembuat segel ini bersama Malawira?!”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--


### Bagian 01: Napas Terengah di Pelipis Danau Ranau

Lari Menerobos Kabut Beracun dan Derap Sepatu di Celah Karang Basah

···[ ⚔️ ]···

Danau Ranau malam itu bukan sekadar hamparan air tawar di kaki megah Gunung Seminung; ia adalah sebidang cermin kuburan yang membentang tanpa riak, pekat bagai jelaga purba yang dilarutkan ke dalam mangkuk perunggu raksasa. Kabut malam turun terlalu cepat, merayap dari lereng-lereng tebing kapur laksana kapas basah beraroma belerang dan lumut busuk, membungkus setiap jengkal tepian danau dalam kesenyapan yang ganjil. Tidak ada derik jangkrik. Tidak ada desau angin pemecah dahan. Hanya ada dengung dingin yang menindih gendang telinga—sebuah kepandiran kosmis yang seolah menunggu tumpahnya darah segar ke permukaan airnya yang tak pernah berkedip.

Derap langkah kaki Fathan menghantam bebatuan cadas yang licin berlendir. Pemuda itu tersandung, lutut kirinya mencium batu karang tajam hingga kain celana silatnya terkoyak dan darah hangat merembes membasahi kulit. Namun rasa perih itu lebur ditelan kepanikan liar yang mendidih di rongga dadanya. Di tangan kanannya, sebuah gulungan lontar terbungkus kain sutra hitam kusam tergenggam erat. Tulang-tulang jemarinya memutih, mencengkeram silinder rapuh itu seolah-olah jika genggamannya mengendur satu milimeter saja, seluruh napas di dalam tubuhnya akan terenggut lenyap.

“Fathan! Cepat... pintu air di balik gua itu!” suara Puteri Mayang Gandasari bergetar, terputus-putus di balik cadar beludru kelam yang basah kuyup oleh titik-titik embun dan keringat dingin. Sang puteri menopang pinggangnya sendiri, lengan kirinya berlumur darah akibat sambaran anak panah beracun milik prajurit sandi Patih Brajawisesa dua puluh tarikan napas yang lalu.

Fathan menoleh sekilas ke arah kegelapan pekat di belakang punggung mereka. Jauh di antara rerimbunan pohon pulai dan rawa pakis haji, pendar obor minyak tanah milik para pengejar masih terlihat berkelip laksana mata serigala lapar yang mengintai di balik tirai kabut tebal. Patih Brajawisesa telah kehilangan buruan utamanya, namun sang patih bukanlah anjing pemburu biasa. Dia tahu lorong mana yang sedang mereka tuju. Menjatuhkan naskah ini bukanlah kekalahan bagi sang patih; bisa jadi itu adalah racun berwujud berkah yang sengaja dilepaskan untuk meruntuhkan jiwa lawannya dari dalam.

“Tahan napasmu, Tuan Puteri. Jangan hirup uap danau yang mengendap di permukaan,” bisik Fathan serak. Kerongkongannya terasa seperti disapu pecahan kaca. Tenaga dalamnya yang terhimpun dari jurus Panji Perak klan Ar Rimbai bergolak tak keruan, terpecah akibat luka dalam dan hawa dingin danau yang menusuk hingga ke sumsum belulang.

Air Danau Ranau di sisi kiri mereka berdebur lirih sekali—bukan deburan ombak yang wajar, melainkan hisapan pelan, semacam tarikan air ke dalam palung tanpa dasar yang mengeluarkan aroma anyir logam berkarat. Di bawah permukaan air yang berkilat keperakan diterpa sisa bulan sabit yang sekarat, Fathan bersumpah ia melihat bayangan hitam berukuran raksasa berkelebat lambat di kedalaman. Sesuatu yang purba, sesuatu yang tertidur pulas namun tersentak bangun oleh getaran naskah lontar yang ia bawa.

“Gua itu... ada di celah akar beringin gantung!” Mayang menunjuk dengan jari yang gemetar hebat. Fathan merangkul pundak sang puteri, menarik tubuh ramping yang kedinginan itu masuk ke dalam rekahan dinding batu cadas, tepat sebelum derap belasan kuda tempur dan gonggongan anjing pelacak membelah keheningan di tepian pasir hitam di luar sana.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

### Bagian 02: Ruang Rahasia di Bawah Perut Karang

Lampu Minyak Tengkawang, Gemercik Air Rembesan, dan Keheningan yang Menghimpit

···[ ⚔️ ]···

Pintu batu itu menutup dengan dentum tumpul yang menggetarkan langit-langit berlumut, memutus dunia luar beserta serbuan para pemburu Patih Brajawisesa. Namun keheningan yang menyambut mereka di dalam ruangan ini terasa sepuluh kali lebih mematikan. Udara di dalam bilik bawah tanah ini terperangkap selama berabad-abad, berat oleh bau minyak tengkawang kuno, tanah lempung yang lembap, dan uap belerang yang merembes melalui celah retakan dasar danau.

Fathan menyandarkan punggungnya pada pilar batu berukir sulur naga air yang kepalanya telah dipenggal waktu. Dadanya naik-turun dalam ritme yang kasar, suara tarikan napasnya beradu dengan tetesan air yang jatuh ritmis dari stalaktit kapur di atas kepala. *Tik. Tik. Tik.* Setiap tetesan air itu menghantam mangkuk perunggu di lantai dengan gema yang berdenting laksana lonceng kematian yang menandai hitungan mundur bagi sisa akal sehatnya.

Dengan tangan yang masih gemetar, Fathan meraba dinding ceruk batu dan menemukan cawan minyak berbahan tanah liat. Memusatkan sedikit sisa tenaga api di ujung ibu jarinya melalui sentakan jurus Telapak Bara Ar Rimbai, ia memercikkan api ke sumbu kapas kering. Api menyala seketika, bergoyang liar sebelum membesar menjadi lidah jingga kemerahan yang menjilat bayang-bayang mereka ke dinding granit yang basah.

Cahaya api itu menyingkapkan seisi ruangan rahasia: sebuah bilik pertapaan kuno dari era pra-kesultanan, di mana dinding-dindingnya dipenuhi pahatan aksara KaGaNga atau Surat Ulu yang telah tergerus lumut. Di tengah ruangan, sebuah meja batu pualam hitam bundar berdiri kokoh, dikelilingi parit kecil sedalam jengkal yang dialiri air rembesan danau berwarna keruh kehitaman.

Mayang jatuh berlutut di sisi meja, merobek ujung selendangnya untuk membebat lengan kirinya yang berdarah. Wajah sang puteri sepucat kapur sirih, bibirnya yang biasa merekah ranum kini membiru akibat racun dingin yang menjalar perlahan. Namun matanya—sepasang mata kelam yang mewarisi kebijaksanaan darah ningrat Ranau—menatap tajam ke arah silinder lontar di genggaman Fathan dengan sorot yang sarat akan ketakutan purba.

“Kau berhasil merebutnya dari Brajawisesa...” bisik Mayang, suaranya parau menahan rasa nyeri yang menusuk tulang belikatnya. “Tetapi Fathan, kau tidak tahu apa yang kau bawa pulang ke dalam pangkuanmu. Kitab itu bukan sekadar catatan taktik militer atau peta harta karun istana lama. Ayahandaku menyebutnya *Lontar Getah Getih*... naskah yang ditolak oleh bumi dan dikutuk oleh air danau ini.”

Fathan menelan ludah, jakunnya naik-turun dengan susah payah. “Patih pengkhianat itu rela membantai satu batalion prajurit pengawal demi mengamankan potongan naskah ini sebelum fajar menyingsing. Dia berniat menyerahkannya kepada persekutuan lembah selatan untuk membuktikan hak waris kepemimpinan atas seluruh tanah Ranau. Jika klan Ar Rimbai tidak merebutnya kembali, nama besar keluargaku akan dicap sebagai pengecut yang membiarkan tanah tumpah darah ini diperjualbelikan kepada iblis!”

“Nama besar keluargamu...” ulang Mayang lirih. Ada nada getir yang sangat tajam dalam getaran suaranya, sebuah nada yang membuat bulu kuduk Fathan meremang seketika. Sang puteri menatap Fathan bukan dengan kekaguman seorang gadis yang baru saja diselamatkan pendekar pilih tanding, melainkan dengan tatapan iba yang menyayat hati—tatapan seseorang yang melihat seorang terpidana mati tersenyum bangga melangkah menuju tiang gantungan.

“Letakkan naskah itu di atas meja pualam, Fathan,” pinta Mayang pelan. “Biar aku membacanya untukmu. Bukankah kau sendiri yang bersikeras ingin mengetahui mengapa lambang panji klanmu memiliki warna perak yang berkilat di tepi, namun hitam legam di tangkainya? Malam ini, Danau Ranau akan menuntut jawaban yang sesungguhnya.”

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

Lihat selengkapnya