MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Kebenaran Yang Meremukan Jiwa

Datuk Lembayung terpaksa membuka rahasia terbesar yang disembunyikan kakek Fathan: Garis keturunan Ar Rimbai bukanlah garis penakluk, melainkan garis 'Anak Kunci' hidup. Seribu tahun lalu, kakek moyang Fathan membuat sumpah darah dengan Malawira untuk mengurungnya sementara dengan syarat suatu hari keturunannya yang paling murni akan menjadi kunci pelepasannya.

“Jadi... selama ini aku bukan pahlawan yang dipilih cahaya? Aku adalah kunci celaka yang dirawat musuh untuk membuka nerakanya sendiri?!”

--⚔️-- MUSTIKA RANAU --⚔️--


### Bagian 01: Cermin Obsidian di Bawah Kaki Seminung

Misteri Air Tenang dan Kabut yang Menelan Nafas

···[ ⚔️ ]···

Malam di punggung Gunung Seminung tidak pernah sekadar tentang ketiadaan matahari. Malam di sini adalah zat pekat yang menetes perlahan dari langit gulita, merembes ke pori-pori kulit, lalu membekukan darah sebelum sempat berdenyut ke jantung. Di bawah sana, terbentang Danau Ranau—bukan sebagai perairan yang menampung riak kehidupan nelayan atau dendang camar malam, melainkan sebongkah cermin obsidian raksasa yang tertidur dalam kutukan purba. Permukaannya begitu mati, begitu datar tanpa sapuan gelombang sekecil apa pun, seolah-olah waktu sendiri telah terlempar, tenggelam, dan membusuk di palung terdalamnya tanpa ada yang berani menjenguk.

Fathan merapatkan jubah hitam berlis perak pusaka perguruannya, namun kain tebal rajutan serat rami bertatah mantra itu sama sekali tak berdaya menepis dingin yang merayap. Dingin itu bukan datang dari desau angin malam yang melucuti pucuk-pucuk cemara gunung, melainkan memancar keluar dari rongga dadanya sendiri. Tepat di balik tulang selangka kirinya, rajah pusaka Ar Rimbai—tanda lahir menyerupai sulur api melingkar yang selama dua puluh dua tahun diagung-agungkan para tetua lembah sebagai karunia cahaya penakluk—malam ini berdenyut perih. Denyutannya tidak beraturan, ngilu dan panas seperti ditetesi timah cair, berdetak selaras dengan detak jantung yang kini berdegup liar, beradu dengan kesunyian yang menindih semesta.

Kabut tebal turun bergulung-gulung dari celah tebing kapur Seminung, menyerupai selendang putih makhluk tanpa rupa yang meraba-raba pucuk ranting mati dan bebatuan berlumut. Bau uap belerang tipis berbaur dengan aroma anyir lumut basah dan sengatan dupa gaharu tua yang dipasang di pelataran pertapaan. Setiap kali Fathan menghela napas panjang, paru-parunya serasa disesaki serbuk kaca halus. Kabut itu menyembunyikan tepian danau berpasir hitam, tetapi Fathan tahu, di balik tirai putih yang melayang tenang itu, rahasia kelam sedang mengintai dengan kelopak mata yang tak pernah berkedip. Air yang tampak hening itu seakan menyimpan denyut nadi raksasa yang tertidur gelisah.

Legenda tetua kampung selalu menyebut Danau Ranau sebagai telaga berkah para dewa, tempat mandi para bidadari kayangan sebelum peradaban manusia mengenal dengki. Namun malam ini, kepalsuan legenda itu menguar menyengat. Fathan menatap pantulan samar bulan separuh di permukaan air yang gelap pekat. Tidak ada bayang-bayang bintang yang terpantul; air danau itu menelan cahaya bintang bulat-bulat, menolak meneruskan kilaunya kembali ke angkasa. Rasanya seperti menatap lubang tanpa dasar yang setiap saat siap menyedot langit dan seisinya.

"Jangan menatap air itu terlalu lama, Fathan," suara itu pecah dari balik kepulan asap dupa, serak, berat, dan sarat dengan getaran yang ganjil. Suara Datuk Lembayung. "Air Danau Ranau tidak pernah memantulkan wajah aslimu. Ia memantulkan rasa lapar yang menunggumu di dasar sana... rasa lapar yang telah menahan dahaganya selama seribu musim."

Fathan menoleh perlahan. Ujung jubahnya melambai kaku ditiup angin lembap yang membawa tetesan embun sedingin es. Di hadapannya, di atas undakan batu tapak yang telah dihaluskan oleh lutut para peziarah selama berabad-abad, sosok Datuk Lembayung tampak menyusut. Lelaki renta berusia hampir seabad yang dahulu ia kenal sebagai karang pemecah gelombang, pendekar sepuh yang konon sanggup meremukkan leher banteng liar hanya dengan kibasan selendang silatnya, malam ini tampak begitu ringkih dan patah. Punggung Datuk melengkung ke depan, seolah-olah langit Seminung yang gelap gulita itu telah runtuh dan membebani pundaknya seorang diri.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

### Bagian 02 : Batu Tapak Seribu & Nyala Dupa yang Bergetar

Detak Jantung yang Beradu Sunyi, Pertemuan di Ujung Jurang

···[ ⚔️ ]···

Fathan melangkah mendekat. Sepatu kulit rusa yang ia kenakan menyentuh lantai batu dengan bunyi ketukan pelan yang menggema janggal di pelataran sunyi. Setiap langkah terasa berat, seolah udara di sekeliling sanggar pertapaan itu telah memadat menjadi getah damar yang membungkam keleluasaan gerak. Ia mengamati nyala api pada pelita minyak kelapa di samping pedupaan tembaga. Lidah apinya tidak berdiri tegak, melainkan meliuk-liuk gelisah ke arah barat daya—lurus mengarah ke titik tengah danau, tempat pusaran air gaib konon pernah menelan seratus prajurit berkuda pada era perang saudara zaman purba.

"Datuk memanggilku ke puncak ini bukan untuk melatih jurus Kincir Sukma tingkat sembilan, bukan?" suara Fathan meluncur, berusaha terdengar mantap seperti seorang kesatria Ar Rimbai yang siap menyongsong fajar pertempuran. Namun getaran di ujung lidahnya tak sanggup menyembunyikan kegundahan batinnya yang menggelegak. "Tiga hari berturut-turut, mimpi buruk itu merenggut tidurku. Danau ini memanggil namaku, Datuk. Bukan dengan bisikan manusia, melainkan raungan purba yang terikat rantai di dasar lumpur hitam. Mengapa rajah ini membakar kulitku setiap kali kabut Seminung menyentuh air danau?"

Datuk Lembayung tidak langsung menjawab. Sepasang matanya yang keruh oleh selaput usia terpejam rapat. Helaan napasnya berbunyi parau seperti gesekan dahan kering di musim kemarau. Jemarinya yang kurus kering dan berbintik kecokelatan meremas tasbih kayu cendana hitam dengan tenaga yang teramat sangat, hingga ruas-ruas jarinya memutih pasi tanpa aliran darah. Butir-butir tasbih itu beradu satu sama lain, menimbulkan derak halus yang terdengar seperti kertakan tulang patah di tengah malam lengang.

Ketika kelopak mata renta itu akhirnya terbuka, Fathan tercekat di tempatnya berdiri. Tidak ada lagi sisa sorot mata elang yang dahulu sanggup menundukkan kawanan penyamun rimba selatan hanya dengan sekali tatap. Yang tersisa hanyalah dua kubangan duka yang teramat dalam, begitu suram, layu, dan basah oleh cairan bening yang menggantung di sudut pelupuk namun ditahan sekuat tenaga agar tidak menetes ke lantai pertapaan. Untuk pertama kalinya sepanjang dua puluh dua tahun hidupnya, Fathan melihat rasa takut yang telanjang bulat di paras gurunya—rasa takut yang bukan dipicu oleh ancaman sebilah pedang atau racun santet paling berbisa, melainkan teror yang lahir dari pembongkaran sebuah dosa purba yang terlampau busuk untuk dipendam lebih lama.

"Duduklah, Fathan," perintah Datuk Lembayung lirih, suaranya seperti bisikan daun kering yang tersapu badai. "Duduklah di atas batu tapak ini, sebelum lututmu kehilangan kekuatannya untuk menopang raga."

Fathan tidak duduk. Ia tetap berdiri tegak, dadanya turun-naik menahan sesak yang kian mencekik. "Aku tidak butuh duduk, Datuk! Aku butuh kebenaran! Mengapa Kakek sebelum wafat melarangku mendekati bibir Danau Ranau di malam purnama? Mengapa seluruh jurus silat yang kau ajarkan kepadaku selalu diakhiri dengan meditasi menyegel hawa panas di dada kiri? Apa yang sesungguhnya kalian sembunyikan dariku?!"

"Luka lama yang terkubur abadi, Fathan," bisik Datuk Lembayung, bibirnya yang pecah-pecah bergetar tipis. "Kita mengira tanah pekuburan cukup tebal untuk membungkam lolongan masa lalu. Kita mengira seribu tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat malaikat dan iblis lupa pada nama kita. Namun malam ini, seribu tahun itu telah genap bertaut. Danau Ranau tidak lagi sudi menampung kebohongan kita berdua."

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

### Bagian 03 : Rajah Darah di Balik Lipatan Kulit Rusa Purba

Peti Rahasia Terbuka, Membeberkan Dusta Warisan Leluhur

Lihat selengkapnya