MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Air Mata Puteri Penjaga Danau

Puteri Ratna Nilam Sari menyusul Fathan ke tebing karang. Di tengah hujan dingin air mata danau, sang puteri memeluk Fathan dan meyakinkannya bahwa darah hanyalah jasad, namun pilihan nuranilah yang menentukan siapa dirinya di hadapan semesta.

“Darahmu mungkin kunci gerbang itu, Fathan. Tapi tanganmu yang memegang kuncinya, dan hatimu yang berhak mematahkannya! Jangan biarkan kegelapan mendefinisikan siapa dirimu!”



### Bagian 01: Di Bibir Kehampaan dan Desah Danau Purba

Kabut pekat membeku di atas cermin hitam Danau Ranau


Malam tidak sekadar turun di Danau Ranau; malam menetes layaknya getah hitam yang mengental di atas cawan raksasa para dewa purba. Di ketinggian Tebing Sunyi Batu Kematian, udara telah kehilangan kehangatan ragawi dan berganti menjadi kepedihan beku yang menggigit setiap jengkal kulit terbuka. Tebing itu menjulang setinggi ratusan tombak dari muka air, berupa bongkahan batu basal hitam berlumur lumut kelabu yang condong dengan congkak tepat di atas palung terdalam danau. Dari atas sini, jurang menganga laksana mulut raksasa mitologi yang menanti mangsa, pekat dan lapar tanpa secuil pun belas kasihan.


Di bawah sana, permukaan danau membentang tanpa riak, luas dan legam laksana lelehan obsidian cair yang baru saja dibekukan oleh kehendak gaib. Tidak ada desau riak ombak kecil yang bersahabat menyapa dinding tebing; air itu terlalu tenang, terlalu diam hingga melahirkan kegelisahan yang menyesakkan dada. Seolah-olah di bawah cermin air yang kelam itu, ribuan makhluk purbakala sedang menahan napas serentak, menanti saat ketika segel tua yang membelenggu mereka terkoyak. Tidak ada satu pun bintang yang berani memantulkan sinarnya pada genangan hitam tersebut. Langit tertutup tirai mendung pekat yang menggantung teramat rendah, sementara kabut basah bergulung-gulung merayap naik dari bibir telaga, melingkari lekuk-lekuk cadas seperti lilitan ular sanca raksasa.


Penduduk di pesisir Ranau, sejak zaman nenek moyang mereka membuka huma pertama di kaki Gunung Seminung, selalu mengenal fenomena ini dengan rasa gentar yang diwariskan turun-temurun. Mereka menyebut malam seperti ini sebagai saat di mana sang danau sedang "menangis dalam tidur"—ketika air mata danau turun bukan dalam bentuk hujan deras yang mengguyur, melainkan butiran-butiran embun es mikro yang mengambang di udara, membawa serta aroma belerang tipis bercampur tanah kubur yang menusuk hidung. Uap dingin itu bukan sekadar mendinginkan raga, melainkan sanggup merasuk menembus serat-serat tulang sumsum, menggugah mimpi-mimpi buruk yang paling tersembunyi dari lubuk jiwa manusia.


Fathan berdiri tepat di titik terluar batu karang itu, tempat di mana tanah padat berakhir dan kekosongan udara bermula. Hanya beberapa jengkal di depan ujung sepatunya yang robek, hamparan kehampaan menanti. Jubah kelabunya yang compang-camping akibat pertarungan berdarah di Lembah Selindung beberapa jam silam kini basah kuyup, menempel lekat pada tubuhnya yang kurus namun liat. Kain jubah itu bergetar pelan ditiup angin lembah yang melolong muram di antara celah tebing, menimbulkan bunyi kepakan sayap burung gagak yang terluka.


Dadanya naik turun dengan ritme yang ganjil dan menyiksa. Setiap kali ia menarik napas panjang, paru-parunya serasa tersayat oleh serpihan beling es yang membakar. Namun rasa perih pada raganya tak lebih dari sekadar gigitan semut jika dibandingkan dengan huru-hara dahsyat yang sedang mengoyak rongga batinnya. Kedua belah tangannya terkepal di samping paha, bergetar begitu keras hingga sendi-sendi jemarinya bergemeletuk. Perlahan, dengan keraguan yang bercampur kengerian tak tertahankan, Fathan mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya sendiri di bawah temaram cahaya malam yang pucat.


Di bawah lapisan kulit punggung tangannya yang putih pualam karena kedinginan, pemandangan menjijikkan tersingkap nyata. Garis-garis pembuluh darahnya tidak lagi berwarna biru kehijauan sewajarnya darah keturunan insan mulia. Garis-garis nadi itu telah bermutasi menjadi legam kelam sepekat jelaga arang, merambat liar layaknya akar pohon beracun dari dasar kuburan purba. Urat-urat hitam itu berdenyut secara otonom, tidak selaras dengan detak jantungnya, seakan-akan ada makhluk parasit tak kasat mata yang sedang merayap di bawah dagingnya, menanti detik yang tepat untuk merobek kulitnya dari dalam.


Detak jantung Fathan berdentang menggila di dinding rongga dadanya: *Deg... deg... deg...* Suara detakan itu terdengar begitu bising di telinganya sendiri, beradu sengit dengan keheningan tebing yang menindih akal sehat. Dalam kesunyian absolut itu, setiap detak jantungnya terdengar seperti ketukan palu algojo di atas peti mati. "Kau bukan pembela kebenaran, Fathan," desis sebuah suara tanpa rupa yang meluncur bersama desau angin malam, menyelinap ke lipatan ingatannya. "Seluruh darah kebajikan yang kau kira mengalir di tubuhmu adalah kebohongan besar. Kau adalah bibit kehancuran yang diramalkan para dukun purba. Setiap langkahmu menuju kebaikan hanyalah jalan memutar menuju jurang pembinasaan."


Fathan memejamkan matanya rapat-rapat hingga kelopak matanya bergetar menahan sakit. Namun kegelapan di balik kelopak matanya justru sepuluh kali lipat lebih mengerikan daripada malam di hadapannya. Di sanalah bayangan prasasti batu hitam di Gua Arwah kembali terpampang dengan kejernihan yang menyiksa—tulisan-tulisan aksara purba berlumur darah kering yang baru saja ia pecahkan rahasianya beberapa jam lalu. Tulisan yang menorehkan takdir terkutuk bahwa gerbang pemusnah Danau Ranau hanya akan terbuka oleh darah seorang pewaris tunggal... dan pewaris itu adalah dirinya sendiri.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

---


### Bagian II: Vena Hitam dan Bisikan Jurang Kematian

*Krisis ruhani sang protagonis di ambang keputusasaan mutlak*


“Mengapa harus aku...?” rintih Fathan dengan suara parau yang nyaris tertelan oleh desir uap belerang. Suara itu tercekik di tenggorokan, gemetar oleh kepedihan yang tak sanggup ditampung oleh kata-kata manusiawi. “Dari sekian juta nyawa yang bersujud di bawah langit Swarnadwipa, mengapa urat nadiku yang harus dikotori oleh noda terkutuk ini?! Apa salahku pada semesta sehingga aku dilahirkan sebagai belati yang akan menusuk jantung duniaku sendiri?!”


Ia mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua belah tangannya yang sedingin mayat. Jemarinya mencengkeram helai-helai rambutnya yang basah, kuku-kukunya menekan kulit pelipis hingga menorehkan luka kecil dan rasa sakit tajam. Namun rasa sakit fisik yang sengaja ia ciptakan itu tak mampu meredam badai histeria spiritual yang mengamuk di dalam kepalanya. Selama puluhan tahun hidupnya, Fathan telah menempuh jalan sunyi seorang pendekar pengelana. Ia menolak harta, menolak kehormatan istana, dan memilih tidur beralaskan daun kering di hutan-hutan belantara demi membela kaum lemah dari cengkeraman kezaliman para tiran.


Ia mengira segala pengorbanan batin dan cucuran darahnya adalah wujud bakti suci kepada Sang Hyang Wenang. Namun malam ini, prasasti di Gua Arwah telah menghempaskan seluruh martabat hidupnya ke dalam lumpur kehinaan. Seluruh riwayat hidupnya terasa seperti komedi getir yang ditulis oleh dewa-dewa yang kejam. Ia bukan pahlawan; ia hanyalah wadah hidup yang disiapkan secara rahasia oleh silsilah darah kelamnya untuk menampung laknat zaman purba.


Kabut di tepian danau di bawah sana tiba-tiba berputar lebih kencang, membentuk pusaran-pusaran uap yang meliuk-liuk di udara seperti puluhan sosok manusia tanpa wajah yang sedang meratap. Danau Ranau seolah memiliki denyut kesadaran gaib yang sangat purba dan dingin; ia sedang mengawasi anak manusia yang terpojok di tebing cadas itu dengan kepuasan yang mengerikan. Dari palung air yang pekat, gelombang hawa hitam mulai merambat naik, menyusup ke dalam benak Fathan melalui saluran batinnya yang telah retak.


Bisikan-bisikan tanpa rupa mulai berdengung di dalam rongga telinganya, tumpang tindih bagaikan desau jutaan serangga malam. “Terjunlah ke mari, Anakku...” bisik suara seorang pria tua yang terdengar berwibawa namun sarat dengan aroma busuk kuburan. “Tidakkah kau lelah berpura-pura menjadi suci di dunia yang penuh kepalsuan ini? Tubuhmu adalah milik kami. Darahmu adalah bagian dari segara purba ini. Biarkan dirimu jatuh ke dalam pelukan air. Di dasar danau ini tidak ada lagi dosa, tidak ada penghakiman, tidak ada air mata... hanya kedamaian abadi dalam pelukan kehancuran.”


“Tidak! Pergi dari kepalaku!” jerit Fathan seraya terhuyung ke belakang. Namun ruang di belakangnya sempit, dan batu karang yang licin membuatnya nyaris terpeleset. Otot-otot di kedua kakinya bergetar tak terkendali. Kengerian yang menguasainya saat ini telah melampaui rasa takut akan kematian ragawi. Yang paling ia takuti bukanlah berhentinya napas, melainkan hilangnya kendali atas nuraninya sendiri.


Ia memandang urat-urat hitam di lengannya yang kini merayap semakin tinggi, melintasi pergelangan tangan dan mulai mendekati siku. Ia dapat merasakan hawa dingin yang busuk merayap perlahan menuju rongga dadanya, mengikis secuil demi secuil rasa welas asih dan kehangatan kemanusiaan yang masih tersisa. Jika hawa gelap itu berhasil mencapai jantung dan otaknya, maka Fathan yang berbudi pekerti luhur akan lenyap selamanya, berganti menjadi iblis tanpa belas kasihan yang hanya digerakkan oleh nafsu membinasakan.


“Jika aku melompat sekarang...” Fathan berbisik pada dirinya sendiri, tatapannya terpaku pada kegelapan air ratusan tombak di bawahnya, “apakah kutukan ini akan mati bersamaku? Ataukah darahku yang menyentuh air danau justru akan menjadi pelatuk yang membangunkan monster di dasar kawah? Ya Tuhan... bahkan untuk mati pun aku tidak memiliki hak yang merdeka!” Setitik air mata keputusasaan meluncur menuruni pipinya yang kaku, jatuh tepat di atas batu basal hitam dan lenyap tanpa bekas.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

---


### Bagian III: Langkah Sang Penjaga di Antara Kabut

Lihat selengkapnya