MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Bangkitnya Nur Qalbu

Fathan bersujud kembali di atas tanah basah, melepaskan keputusasaannya dan memasrahkan seluruh takdirnya kepada Sang Pencipta dengan tulus. Seketika itu juga, Elemen ke-5—Nur Qalbu—meledak dari dalam dadanya, mengubah energi kutukan di liontinnya menjadi cahaya putih suci yang menyejukkan.

“Hasbunallah wa ni'mal wakil... Cukuplah Allah bagiku. Aku tidak peduli apa rancangan iblis atas darahku, hidup dan matiku hanya untuk kebenaran-Nya!”

⚔️ MUSTIKA RANAU ⚔️


## Bagian 01: Kabut Hitam Danau Ranau & Dinginnya Tebing Fajar

Sunyi yang Menggigit dan Denyut Maut di Bawah Kulit

✦•····•✦

Malam itu, Danau Ranau kehilangan watak lembutnya. Dari bibir Tebing Fajar Swarnaloka yang menjulang curam bagai taring purba mencongkel langit malam, bentangan air raksasa di bawah sana tidak ubahnya kuali timah mendidih yang membeku dalam kegelapan pekat tanpa dasar. Tidak ada pantulan rembulan; sang dewi malam telah lama mati tercekik kabut tebal yang bergulung-gulung naik dari palung dan lembah belerang. Kabut itu bukan sekadar halimun pegunungan biasa. Ia dingin, pekat, berbau anyir lumut basah yang bercampur dengan uap kuburan tua serta aroma besi berkarat, merayap perlahan menjilati bebatuan cadas yang licin oleh tetesan embun malam.

Setiap jengkal udara terasa berat, seolah-olah atmosfer Swarnaloka sendiri sedang menahan napas sebelum sebuah bencana besar meletup. Pohon-pohon cemara purba yang tumbuh merana di bibir tebing berdiri kaku seperti barisan prajurit kutukan yang telah kehilangan daging dan darah, dahan-dahannya yang kering bergesekan menghasilkan decit memilukan setiap kali diterpa hembusan angin lembah. Di bawah sana, permukaan Danau Ranau tampak tenang secara menipu—ketenangan yang menakutkan, seperti mata pemangsa yang diam membeku di kegelapan sebelum menyergap korbannya hingga ke tulang.

Di tepi jurang yang siap runtuh itu, Fathan berdiri terhuyung. Jubah kelabunya yang sobek di bagian pundak basah kuyup oleh gerimis dingin, menempel lekat pada kulit punggungnya yang menggigil hebat. Namun bukan gigitan angin gunung yang membuat lutut pemuda itu bergetar tak terkendali. Itu adalah rasa sakit membakar di balik sangkar tulang dadanya—sebuah dentuman ritmis yang liar, panas, dan asing, menolak seirama dengan detak jantung manusianya sendiri.

Di balik lapisan kain bajunya yang koyak, sebuah liontin obsidian hitam pekat menempel langsung pada kulit dadanya. Benda itu berbentuk belah ketupat runcing dengan guratan rajah kuno yang tak pernah mampu dibaca oleh guru mana pun di perguruan. Selama dua puluh tahun hidupnya, Fathan meyakini benda itu adalah jimat pelindung berkah peninggalan mendiang ibunya yang wafat dalam perang suci. Namun malam ini, ketika bintang-bintang di langit Swarnaloka bergeser ke formasi yang mengerikan, liontin itu hidup. Ia berdenyut bagai jantung embrio binatang buas yang haus darah.

Tuk... tuk... tuk...

Dentaman itu bergaung begitu keras di dalam gendang telinganya, menenggelamkan desau angin dan gemuruh samar ombak di kejauhan. Setiap kali batu obsidian itu berdenyut, rasa panas membakar menjalar ke tulang selangka, meninggalkan jejak pembuluh darah yang membengkak keunguan di bawah kulitnya. Bersamaan dengan rasa sakit fisik yang meremukkan itu, kilasan-kilasan ingatan yang bukan miliknya menghantam benak Fathan: jeritan ratusan perempuan di tepian danau yang terbakar, mantra-mantra dalam bahasa purba yang memanggil roh-roh lapar dari dasar Danau Ranau, dan pemandangan sebuah altar berlumur darah di mana seorang bayi diangkat tinggi-tinggi ke hadapan kegelapan pekat.

“Tahan... kau harus bernapas, Fathan... kendalikan aliran qi-mu...” bisiknya parau. Suaranya tercekat di tenggorokan, gemeretak giginya beradu kencang menahan denyutan racun yang membakar meridian dadanya. Tangan kanannya mencengkeram kain di atas dadanya dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih pasi. “Guru telah berpesan... jangan biarkan batinmu goyah saat berada di atas Tebing Fajar. Ini hanyalah ujian batin... ini hanyalah ilusi setan...”

Namun nuraninya yang paling dalam berbisik lain. Getaran di bawah telapak kakinya bukan ilusi. Danau Ranau di bawah sana tidak sedang tertidur; danau purba itu sedang bernapas, menyerap setiap tetes keringat dingin yang menetes dari pelipis Fathan, menunggu dengan sabar saat ketika sang pemuda akhirnya menyerah pada kegelapan.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦


## Bagian 02 : Langkah di Balik Halimun — Konfrontasi Dua Bayangan

Bilah Cundrik Terhunus dan Pecahnya Kepercayaan

✦•····•✦

Krak.

Suara dahan cemara kering yang patah di belakangnya terdengar laksana letusan guntur yang membelah sunyi malam yang pekak. Gerak refleks pendekar yang ditempa ribuan pertarungan membuat Fathan sontak memutar tubuhnya setengah lingkaran. Kaki kanannya bergeser mundur setengah depa, membentuk kuda-kuda kokoh jurus Pasak Bumi, kendati rasa perih di dadanya membuat napasnya tersentak dan kepalanya berputar pening.


Dari balik tirai kabut yang merayap tebal di antara celah batu cadas, sesosok bayangan melangkah keluar dengan perlahan. Sosok itu mengenakan zirah sutra baja bersulam lambang garuda emas khas Senopati Swarnaloka. Kain jubah kebesarannya yang berwarna nila tampak berat oleh air embun malam, berkibar pelan menyapu permukaan tanah basah. Di pinggang kanannya, sarung pedang kayu jati ukir telah kosong melompong. Di tangan kanannya yang terbalut sarung kulit rusa, sebilah cundrik melengkung—pusaka Cundrik Rembulan—terhunus telanjang.


Bilah pusaka itu memancarkan pendar perak dingin yang aneh, mendesis halus ketika uap kabut Danau Ranau menyentuh bajanya yang tertempa dari logam meteorit. Senjata itu tidak pernah dicabut dari sarungnya kecuali untuk mengeksekusi pengkhianat klan tingkat tertinggi.


“Arya...?” Suara Fathan bergetar, terperangkap di celah kerongkongannya yang kering. Seluruh pertahanan tubuhnya mendadak lemas melihat wajah orang yang berdiri di hadapannya.

Itu adalah Senopati Arya Danurdara. Sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak di padepokan. Orang yang pernah menyelam bersamanya di sungai berbatu, orang yang pernah mengorbankan pundaknya untuk menahan reruntuhan gerbang benteng agar Fathan bisa lolos dalam pertempuran Lembah Kencana tiga tahun lalu. Namun kini, Arya yang berdiri di hadapannya tampak seperti orang asing yang baru bangkit dari alam arwah.

Wajah Senopati muda itu sepucat dinding makam kapur. Kedua pelipisnya menegang keras, rahangnya terkatup begitu rapat hingga sudut bibirnya memutih tanpa darah. Tetapi yang paling menghancurkan hati Fathan adalah tatapan matanya: sepasang mata elang yang biasanya penuh binar tawa dan keberanian itu kini berenang dalam genangan kepedihan yang luar biasa, bercampur dengan ketakutan primitif yang tak mampu disembunyikannya.

“Berhenti di situ, Fathan,” desis Arya. Suaranya serak dan pecah, dipaksa keluar dari dada yang sesak. “Demi keselamatan jiwamu sendiri, jangan melangkah maju satu inci pun.”

Fathan menatap ujung mata cundrik yang kini bergetar di udara, terarah lurus ke titik meridian ulu hatinya. Jarak di antara kedua sahabat itu tidak lebih dari enam langkah, namun udara di antara mereka terasa membeku bagai dinding es setebal seratus depa.

“Arya, apa yang terjadi?” tanya Fathan, kedua tangannya terangkat setengah dada untuk memperlihatkan bahwa ia tidak memegang senjata. “Mengapa kau berada di Tebing Fajar selarut ini? Mengapa pusaka Cundrik Rembulan terhunus ke dadaku? Di mana bala tentara padepokan? Majelis Tetua... mereka mengirimmu untuk membantuku mengendalikan hawa murni tebing ini, bukan?”

“Membantumu?!” Arya tertawa pendek. Itu adalah suara tawa paling getir dan menyedihkan yang pernah didengar Fathan seumur hidupnya. Tawa yang segera disusul oleh tetesan air mata yang mengalir di pipi Arya, berkilau dingin diterpa pendar perak senjatanya. “Demi para dewata yang menguasai langit Swarnaloka... andai kau tahu betapa aku memohon di hadapan altar Majelis agar mereka mengirim pendekar lain! Andai kau tahu betapa aku ingin mencabut nyawaku sendiri daripada harus menjadi algojo bagi saudaraku sendiri malam ini!”

Kabut Danau Ranau mendadak berputar lebih kencang di sekeliling mereka, seolah tertarik oleh gelombang kebencian, ketakutan, dan cinta persaudaraan yang beradu dahsyat di atas tebing batu tersebut.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

Lihat selengkapnya