MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Laskar Bayang Menyerbu Kahiyangan

Ribuan prajurit tengkorak berzirah lumpur hitam yang dipimpin oleh jenderal-jenderal Malawira tumpah ruah dari palung kawah. Fathan memimpin barisan pertahanan gabungan Laskar Tirta, Kawanan Cindaku, dan Laskar Seminung dengan mengayunkan jurus panca elemen yang memukau.

“Rapatkan barisan! Demi danau ini, demi nafas setiap makhluk yang tak berdosa!”

⚔️ MUSTIKA RANAU ⚔️


### Bagian 01: Sunyi yang Berbisa di Palung Ranau

Ketika cermin hitam menuntut tumbal napas dan kabut dingin merayap bagai kafan

✦•·········•✦

Malam di Dataran Lembah Teratai Nilam turun bukan seperti tirai yang lembut, melainkan laksana lempengan timah dingin yang dihempaskan ke atas bumi. Tidak ada desau jangkrik. Tidak ada kepak sayap kelelawar pemakan buah yang biasanya melintas dari lereng Gunung Seminung. Semua suara seolah diserap ke dalam pori-pori air Danau Ranau yang terbentang laksana cermin obsidian raksasa—pekat, tak beriak, dan menyimpan racun sunyi yang menusuk tulang.

Kabut belerang merayap dari bibir palung kawah. Kabut itu tidak putih, melainkan kelabu keperakan dengan sulur-sulur hitam yang bergerak menjalar di atas kelopak-kelopak teratai nilam. Bunga-bunga keramat yang konon menjadi penyaring racun sukma itu mulai menguncup kaku, warnanya memudar dari biru nilam menjadi keabuan layu.

Fathan berdiri di atas bongkahan batu andesit purba di garis terdepan pematang lembah. Jemari tangan kanannya bertumpu pada hulu pedang pusaka, sementara telapak kirinya terbuka ke bawah, merasakan getaran halus dari urat bumi. Dadanya naik-turun dalam irama yang sengaja ia paksa lambat. Namun di balik dinding tulang rusuknya, detak jantung berdegup liar, berdentam-dentam seperti genderang perang yang ditabuh dalam ruang sempit yang kedap udara.

Kecemasan itu bukan ilusi. Ia mencium bau itu: bau lumpur kawah bercampur anyir karat darah kering yang telah terkubur berabad-abad di palung terdalam.

"Danau ini tidak sedang tidur, Fathan," bisik sebuah suara serak di belakang bahu kirinya.

Kala Seta melangkah tanpa suara, tapak kakinya yang telanjang nyaris tak menekan lumut basah. Rambut kelabu pemimpin Cindaku itu berkibar liar disentak angin pegunungan yang tiba-tiba berbau asam. Pupil matanya yang berwarna kuning ambar mengecil menjadi garis vertikal tipis—tanda bahwa insting buas harimau Gunung Seminung dalam darahnya telah terbangun penuh. Di bawah kulit lengannya yang kekar, guratan rajah purba berkilat keemasan samar.


"Ia sedang menahan muntahan isi perutnya yang membusuk," lanjut Kala Seta, bibirnya tertarik memperlihatkan ujung taring yang tajam. "Nafas rimba di punggung Seminung terputus sejak rembang petang. Saudara-saudaraku mencakar tanah karena udara lembah ini membuat paru-paru mereka terasa terbakar jelaga."


Fathan tidak menoleh, namun sudut matanya menangkap kegelisahan puluhan sosok bertubuh jangkung yang berjongkok di keremangan semak paku-pakuan. Laskar Cindaku—makhluk-makhluk setengah manusia setengah siluman penjaga batas hutan—biasanya tak pernah gentar menatap maut. Namun malam ini, beberapa di antara mereka menggeram lirih, telinga mereka merapat ke belakang kepala, menatap cermin air danau seakan-akan mereka melihat lubang neraka yang menganga lebar.

"Tetap di posisimu, Kala Seta," sahut Fathan perlahan, suaranya tenang di permukaan namun bergetar oleh tegangan hawa murni di tenggorokannya. "Jangan biarkan kawananmu terpancing sebelum tabir kabut terbelah. Kita belum tahu berapa banyak jenderal bayangan yang dibawa Malawira dari kedalaman palung."

"Kau menyuruh kami tenang sementara tanah ini bergetar seperti perempuan sekarat?" potong Dara Laksita, Senapati Laskar Tirta yang berdiri lima langkah di sebelah kanan Fathan. Zirah perak tipis berukir riak gelombang yang membalut tubuh ramping sang senapati tampak basah oleh embun asam. Sepasang belati lengkung di pinggangnya bergeming, namun jemari lentik Laksita mencengkeram gagangnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih pasi.

Ekspresi Laksita tegang, bibirnya yang biasanya menyunggingkan senyum angkuh kini terkatup rapat, pucat bagai kapas basah. Matanya terpaku pada riak aneh yang mulai membentuk lingkaran sepusat di tengah danau, persis di atas palung kawah yang berjarak tiga ratus tombak dari tepian.

"Air Danau Ranau tidak pernah berdusta," bisik Laksita, suaranya bergetar menahan desakan histeria yang coba ia bungkam dengan disiplin keprajuritan. "Ratusan tahun klan kami menjaga batas Tirta ini, Fathan. Belum pernah sekalipun suhu air merosot hingga membekukan ikan-ikan di dasarnya seperti malam ini. Ada yang salah... ada sumpah lama yang terrobek di bawah sana."

Fathan menarik napas panjang. Udara dingin yang masuk ke tenggorokannya terasa dingin membakar, menyisakan rasa getir logam di lidah. Beban komando aliansi ini terasa menindih pundaknya laksana sebongkah batu karang Gunung Seminung. Di belakang mereka terbentang pemukiman Kahiyang, ribuan keluarga, anak-anak, para petani, dan pertapa yang sama sekali tidak menduga bahwa malam ini batas antara alam fana dan jurang kutukan sedang dipertaruhkan.

✦•··············[ ⚔️ ]···············•✦

### Bagian 02: Deru Lumpur Hitam & Ratap Para Terkutuk

*Ketika palung kawah memuntahkan legiun tengkorak berzirah lumpur busuk*

✦•·········•✦

Dentuman pertama terdengar bukan di udara, melainkan jauh di kedalaman kerak bumi.

Bumi lembah terhentak ke atas. Air Danau Ranau yang tadi tenang laksana kaca seketika bergolak liar. Buih-buih hitam sebesar kepala kerbau meletup di permukaan, mengeluarkan uap belerang pekat yang membuat mata para prajurit perih berair. Bau busuk bangkai purba dan lumpur rawa yang mati menguar pekat, mencekik pernapasan laskar pertahanan.

Lalu, air danau terbelah.

Sebuah gelombang raksasa berwarna hitam legam terangkat setinggi pohon kelapa. Dari balik dinding air yang runtuh berdebur ke tepian lembah, muncullah pemandangan yang membekukan darah siapa pun yang berjiwa hidup. Ribuan sosok merangkak keluar dari permukaan air yang surut secara ganjil.

Mereka bukan manusia. Mereka adalah prajurit tengkorak yang seluruh kerangkanya dilapisi kerak lumpur hitam pekat menyerupai zirah baja liat yang terus meneteskan lendir bernoda minyak tanah. Di rongga mata mereka yang bolong, tidak ada bola mata—hanya gumpalan bara api hijau lumut yang menyala redup, berkedip dingin di balik selubung kabut. Senjata mereka berkarat dan bergerigi: tombak bengkok, pedang patah yang terikat rantai tulang, dan perisai kayu lapuk berlumur darah kering.

"Laskar Bayangan..." desis Laksita, langkah kakinya mundur setengah jengkal tanpa ia sadari. Matanya membelalak lebar, urat-urat halus di pelipisnya menegang kaku.

Dari tengah barisan prajurit lumpur itu, menunggangi siluet binatang berkaki empat yang menyerupai buaya berkepala serigala berlumpur, melangkah maju tiga sosok bertubuh raksasa. Mereka adalah para Jenderal Malawira. Zirah mereka lebih tebal, terbuat dari lempengan obsidian hitam berduri yang disatukan oleh akar-akar pohon angker yang membusuk. Jenderal yang berada di tengah, Rangga Ireng, mengangkat gada berduri berkarat yang mengeluarkan lolongan angin melengking saat diayunkan membelah kabut.

"Lihat!" pekik seorang prajurit Laskar Seminung dari barisan sayap kiri. Suaranya pecah oleh kepanikan yang menular cepat. "Tembus pandang! Mereka tidak bernapas! Mereka merayap dari lumpur kawah tanpa henti!"

"Jangan mundur selangkah pun!" teriak Fathan, suaranya menggelegar mengalirkan getaran hawa murni elemen Bayu yang menggetarkan dada pasukannya, menahan gelombang ketakutan yang nyaris meretakkan formasi. "Kunci kuda-kudamu! Laskar Seminung, pancangkan pasak pertiwi!"

Lihat selengkapnya