Fathan sempat melintasi celah dimensi yang retak untuk memeriksa kampung halamannya di tepian Danau Ranau dunia fana. Ia melihat langit siang mendadak gelap gulita, air danau meluap menelan dermaga, dan sirene evakuasi berbunyi panik. Pertemuan singkat dengan adiknya mempertegas tekadnya.
“Mas Fathan?! Kau hidup?! Apa yang terjadi dengan danau ini?!' / 'Tetap di tempat tinggi, Dik. Mas bersumpah akan menghentikan badai ini.”
⚔️ MUSTIKA RANAU ⚔️
·
### Bagian 01 : Gerbang Kaca yang Retak di Atas Jelaga Air
✦•··········•✦
Ada rasa tembaga yang tajam dan pekat mengendap di pangkal lidah Fathan ketika tubuhnya terpelanting keluar dari lipatan ruang hampa. Udara dunia manusia menyergapnya bukan dengan kehangatan sang surya khatulistiwa yang ia rindukan selama dua musim dingin tak berujung, melainkan dengan bau ozon yang terbakar, uap belerang yang mencekik tenggorokan, dan dingin basah yang merambati tulang belulang. Kakinya yang terbalut lilitan kain silat kasar mendarat di atas permukaan papan kayu dermaga yang basah kuyup dan licin oleh lendir lumut hitam purba.
Danau Ranau tidak lagi menjadi permata zamrud yang menenangkan jiwa para kelana.
Di hadapannya terbentang hamparan air seluas ratusan kilometer persegi yang telah kehilangan seluruh rona toska alaminya, bermutasi menjadi kuali raksasa sewarna jelaga mendidih yang bergolak tanpa riak angin. Gelombang di bawah kakinya tidak bergerak mengikuti hembusan bayu perbukitan, melainkan berdenyut gelisah dari kedalaman palung yang paling gelap, membentuk pusaran-pusaran kecil yang berputar berlawanan arah dengan jarum jam. Di seberang sana, siluet Gunung Seminung yang agung berdiri tegak laksana raksasa purba yang sedang murka, puncaknya terpenggal oleh kepulan awan kumulonimbus berwarna ungu lebam. Tidak ada cahaya mentari pukul dua siang yang biasanya menghangatkan lereng-lereng kebun kopi; langit telah terbungkus kegelapan gerhana buatan yang dingin dan mencekam, seolah semesta fana sedang dipaksa menelan malam yang prematur.
Fathan mencengkeram dadanya dengan napas tersengal-sengal. Di balik robekan jubah kelananya yang compang-camping dan ternoda debu abu dimensi lain, guratan luka lintang dari sabetan tombak astral di Alam Bayang berdenyut nyeri, memancarkan pendar tipis berwarna lembayung etereal. Denyut luka itu berdetak seirama dengan detak jantung air danau di bawah telapak kakinya. Celah dimensi yang ia lompati beberapa detik lalu masih berderak di belakang punggungnya—sebuah retakan vertikal di udara setinggi tiga depa yang tampak bagai pecahan cermin rias raksasa berlumur minyak hitam, mendesis lirih sembari memuntahkan serpihan kabut beku ke alam fana.
“Aku terlambat...” bisik Fathan, suaranya parau tergerus kepulan hawa asam yang merayap di permukaan air. “Retakan itu sudah merembes sampai ke tiang-tiang fondasi dunia ini. Batas alam telah robek terlalu lebar.”
Setiap pori di kulitnya meremang kaku. Naluri silat yang telah ditempa dalam ratusan pertempuran berdarah di padang kehampaan dimensi seberang memberitahunya satu kenyataan yang mengerikan: dinding antara realitas fana dan kehampaan paralel kini setipis sayap capung yang basah. Di bawah permukaan danau yang tenang namun beracun itu, pusaran energi gaib sedang mengumpulkan massa. Jika segel Danau Ranau pecah sepenuhnya sebelum tengah malam tiba, gelombang pasang beracun dari dimensi seberang tidak hanya akan menenggelamkan dermaga wisata ini, melainkan akan menelan lembah Seminung, menghapus kampung-kampung Marga Ranau dari muka bumi fana selamanya.
Sunyi yang mendahului badai merayap lambat. Hanya ada bunyi tetesan air danau yang jatuh dari ujung jubahnya, menghantam papan dermaga dengan suara kecipak yang beradu liar dengan irama detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang. Ia berdiri di ambang batas antara dua dunia, sendirian memikul beban kehancuran yang tak kasat mata bagi mata manusia biasa.
···[ ⚔️ ]··························[ ⚔️ ]···
### Bagian 02 : Raung Sirene dan Bau Belerang di Dermaga
✦•··········•✦
Tiba-tiba, kesunyian yang menekan dada itu koyak berkeping-keping oleh suara melengking yang memekakkan telinga.
Dari arah daratan Banding Agung, raungan sirene peringatan dini milik pos mitigasi bencana meraung panjang, melolong putus-asa membelah kabut tebal yang bergulung-gulung rendah. Suara mekanis berkekuatan tinggi itu bersahut-sahutan dengan gaung pengeras suara dari surau-surau panggung kayu di perbukitan, menyerukan evakuasi darurat tanpa henti dengan nada panik yang tak lagi mampu disamarkan sang muazin. Di jalanan aspal sempit yang berkelok di lereng bukit beberapa ratus meter di belakang dermaga, sorot lampu truk-truk bak terbuka dan sepeda motor berkelebat kalut menembus pekatnya siang yang gulita. Orang-orang membawa bungkusan kain, menggendong anak-anak mereka, melarikan diri menjauhi garis pantai demi mencari ketinggian bukit Simpang Sender.
Tetapi di dermaga wisata ini, kepanikan massa telah bermutasi menjadi keputusasaan yang sunyi dan mencekam.
Air danau naik tanpa gelombang ombak yang lazim, meluap perlahan laksana air bah yang dimuntahkan dari rahim bumi, menelan undakan-undakan semen tempat para wisatawan biasa duduk memandang matahari terbit. Kini, bangkai perahu-perahu motor ketinting bermotif warna-warni terombang-ambing liar tak terkendali, saling membentur lambung dengan suara debaman kayu pecah yang memilukan hati. Air hitam berbusa kuning belerang telah menjilat bibir lantai dermaga setinggi mata kaki Fathan, merayap dingin membekukan urat-urat kakinya. Rasa dinginnya bukan dingin air pegunungan tropis biasa; itu adalah dingin mutlak dari dasar palung purba yang belum pernah tersentuh cahaya sejak penciptaan dunia fana.
Fathan melangkah maju dengan langkah kaki mengambang—kuda-kuda dasar Silat Gerak Bayang yang otomatis aktif demi menjaga titik gravitasi di atas kayu lapuk yang berderit menahan desakan air. Matanya yang tajam menyapu sekeliling dermaga. Bau anyir danau yang membusuk bercampur dengan aroma minyak solar yang tumpah dari tangki perahu yang karam. Di ujung dermaga, sebuah gazebo kayu tempat para nelayan biasa menambatkan jala telah miring separuh, dihantam gelombang pasang aneh yang datang bergulung-gulung tanpa ada embusan angin kencang di daratan.
“Bumi fana tidak diciptakan untuk menampung bobot gravitasi dimensi lain,” batin Fathan kalut, giginya bergemeletuk menahan getaran energi batin yang meremukkan ulu hati. “Jika aku tidak menutup simpul energinya dari dalam Alam Bayang, lubang hisap ini akan menelan seluruh air danau dan menenggelamkan daratan ini ke dalam kehampaan.”
Namun, mengapa ia memilih kembali menjejakkan kaki di dermaga ini sebelum pertempuran pamungkas dimulai? Fathan tahu jawabannya dengan sangat jelas. Di sudut terdalam lubuk hatinya, ada ikatan darah yang terlalu kuat untuk diputuskan oleh mantra dimensi mana pun. Rumah panggung beratap seng berkarat tempat ia dibesarkan, tempat ia belajar memegang dayung dan melipat jurus silat pertama kali bersama mendiang ayahnya, hanya berjarak lima ratus depa dari bibir air ini. Dan di sanalah separuh jiwanya tertinggal dalam duka.
···[ ⚔️ ]··························[ ⚔️ ]···
### Bagian 03 : Bayangan di Ujung Senter dan Tangis yang Tertahan
✦•··········•✦
Sebuah sorot cahaya kuning redup membedah tirai kabut dari arah loket tiket dermaga yang telah ditinggalkan porak-poranda.
Cahaya itu bergetar hebat, menari liar di atas genangan air hitam sebelum akhirnya membentur langsung ke dada dan wajah Fathan. Bersamaan dengan itu, suara derit langkah kaki yang terburu-buru tersandung di atas papan dermaga yang basah. Fathan menegang seketika, kedua tangannya merapat ke samping pinggang dengan telapak tangan terbuka menghadap ke bawah. Refleks naluri silatnya bersiap menghadapi serbuan binatang buas gaib atau pendekar bayang yang mungkin lolos menyeberangi celah dimensi.
Tetapi yang muncul terhuyung-huyung dari balik pekatnya kabut bukanlah monster bersisik atau pendekar bersenjata belati bayang.
Itu adalah seorang gadis muda dengan jaket pelampung oranye kusam yang terlalu longgar di tubuhnya yang ramping. Rambutnya basah lepek terikat serampangan di belakang kepala oleh karet gelang, dan wajahnya pucat pasi bermandikan peluh, air mata, serta percikan air danau yang amis belerang. Di tangan kanannya yang gemetar terkepal erat senter tabung besi kuno bercat hijau tentara—senter legendaris peninggalan almarhum ayah mereka yang sakelarnya diikat karet pentil agar sambungan baterainya tidak mati.
Ratih.
Langkah gadis itu terhenti mendadak sepuluh langkah di hadapan Fathan. Sorot senter di tangannya jatuh terkulai ke arah genangan air di papan dermaga, lalu perlahan terangkat kembali dengan gerakan patah-patah, menyapu sekujur tubuh laki-laki yang berdiri tegak laksana arwah gentayangan di tengah kepulan uap danau. Sorot itu menerangi jubah kelana yang robek-robek, debu abu dimensi yang mengotori pipi Fathan, serta sepasang mata kakaknya yang begitu dalam, muram, dan sarat rahasia kelam.
Senter di genggaman Ratih bergetar begitu keras hingga tabung kacanya berdenting menghantam gesper besi jaket pelampungnya. Napas gadis itu tercekat di kerongkongan, membentuk desah putus-asa yang nyaris tak terdengar di antara raung sirene bencana di kejauhan.