MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Kutukan Pasak Hayat

Datuk Lembayung terluka parah menahan runtuhnya pilar gerbang. Sebelum menghembuskan nafas perlindungan terakhirnya, sang guru mengungkap syarat mutlak penguncian kembali Segel Palung: Segel tersebut memerlukan pasak nyawa abadi, dan satu-satunya pemilik energi pasak itu adalah darah murni Puteri Ratna Nilam Sari.

“Segel itu tidak bisa ditutup dengan pedang, Fathan... Segel itu lapar akan intisari keabadian. Hanya jiwa Nilam Sari yang dapat memadamkannya...”

⚔️ MUSTIKA RANAU ⚔️ 

Bagian 01 : Desah Kabut di Pelataran Kahiyang & Retak Bumi

✦•·········•✦  

Danau Ranau malam itu bukan lagi hamparan air tawar yang menidurkan lembah. Ia telah menjelma kawah hitam tanpa dasar, membeku dalam keheningan yang menyesakkan dada. Kabut yang turun dari puncak Seminung tidak melayang layaknya halimun perbukitan biasa; kabut itu merayap rendah, tebal, berat, dan dingin bagai usapan kain kafan basah yang baru diangkat dari liang kubur purba. Di bawah permukaan air yang seolah tak beriak sedikit pun, tersimpan riak-riak gaib bergetar lembut—sebuah dengung maut berfrekuensi rendah yang membuat bulu roma di sekujur tengkuk meremang kaku.

Bau karat besi berpadu dengan uap belerang busuk meruap dari sela-sela bebatuan andesit di pelataran Gerbang Pasak Kahiyang. Di sanalah, di tepian tebing terjal yang menjorok tepat ke bibir palung danau yang terdalam, berdiri dua pilar megalit setinggi lima tombak. Pilar-pilar itu telah tegak selama sembilan abad, dipahat dengan aksara swastika Sunda Kuno dan rajah penangkal jagat yang diruwat dengan darah para pandita zaman lampau. Namun malam ini, rajah-rajah keemasan itu telah padam, digantikan oleh jaring retakan berwarna merah marun yang berpendar liar bagai pembuluh darah raksasa yang hendak meledak.

“Tahan... Fathan! Jangan biarkan lempeng kahiyang bergeser sejengkal pun!”

Suara Datuk Lembayung tercekat di tenggorokan, pecah bersama batuk darah kental yang menyembur membasahi janggut putihnya. Sang Resi Tertinggi berdiri dalam kuda-kuda *Pertiwi Retak*—jurus silat pamungkas yang menyatukan prana tubuh dengan sumbu magma bumi. Kedua telapak tangannya yang kapalan dan legam menempel erat pada permukaan pilar sebelah barat, menahan condongnya batu andesit raksasa itu yang terus ditarik oleh gravitasi neraka dari dasar danau.

Tanah di bawah telapak kaki mereka berderak mengerikan. Bumi meratap. Setiap kali Datuk Lembayung mengerahkan tenaga dalamnya, lempengan tanah di pelataran danau merekah setapak demi setapak, memuntahkan hawa panas kebiruan yang langsung ditelan oleh kabut dingin Danau Ranau. Pertarungan antara hawa panas bumi dan dinginnya kabut menciptakan desis panjang yang terdengar bagai rintihan ribuan jiwa yang pernah ditenggelamkan ke dalam palung laknat itu.

Fathan berdiri tiga langkah di samping gurunya, kedua kakinya membenam ke dalam tanah berbatu yang telah hancur menjadi kerikil tajam. Pedang Mustika Badai di tangannya bergetar hebat. Bukan karena getaran tangannya sendiri, melainkan karena getaran bilah baja itu beresonansi dengan amukan gaib yang merayap naik dari air danau. Peluh dingin membanjiri pelipis Fathan, menyengat kedua kelopak matanya yang perih, namun pandangannya tak pernah lepas dari sosok gurunya yang kian ringkih.

“Guru! Lepaskan pilar itu! Tubuh batinmu sudah terkoyak!” teriak Fathan, suaranya bertarung melawan deru angin Danau Ranau yang tiba-tiba berpusar kencang, menggulung dedaunan pakis purba di tepi tebing. “Jika Guru memaksakan prana *Pertiwi Retak* hingga lapis kesembilan, jantung Guru akan pecah bersama batu ini!”

“Bodoh!” bentak Datuk Lembayung dengan suara parau yang sarat kepedihan. Dari kedua lubang hidung dan sudut telinganya, lelehan darah hitam mulai merembes perlahan—tanda tak terbantahkan bahwa meridian darah pembalik nyawa sang resi telah putus satu demi satu. “Jika pilar barat ini roboh ke danau sebelum malam melewati titik nadir, Segel Palung akan terburai seluruhnya! Kau kira apa yang sedang menanti di dasar Danau Ranau, hah?! Bukan sekadar iblis air... melainkan Murka Jagat yang akan menelan Sumatra hingga ke selat selatan!”

Angin danau menyapu jubah compang-camping sang guru. Kabut tebal seketika terbelah sesaat oleh gelombang kejut prana, memperlihatkan permukaan Danau Ranau yang terbentang luas di bawah kegelapan pekat. Di tengah danau itu, beberapa mil dari gerbang, tidak ada pantulan bintang. Langit di atas Ranau adalah rongga kosong tanpa rembulan. Yang terpantul di permukaan air yang licin bagai minyak tanah itu hanyalah pusaran hitam pekat berdiameter ratusan depa—sebuah mulut raksasa tak kasatmata yang tengah menghirup udara malam dengan rakus.

✦•·············· ⚔️ ···············•✦

Bagian 02 : Darah di Atas Kabut Danau Ranau & Robeknya Pilar Hayat

✦•·········•✦  

Di belakang mereka, terlindung di balik reruntuhan dinding altar sesaji yang telah roboh separuh, Puteri Ratna Nilam Sari melangkah maju perlahan. Setiap helai langkah kakinya yang beralaskan sandal beludru hitam terasa begitu berat, seolah bebatuan Danau Ranau memiliki magnet maut yang mencengkeram pergelangan kakinya. Selendang sutra biru laut yang membalut bahunya berkibar liar dipermainkan pusaran angin malam, menyingkap leher jenjangnya yang putih pucat bagai pualam basah.

Namun yang membuat udara malam kian mencekam bukanlah kecantikannya yang agung, melainkan liontin batu nilam hitam yang melingkar di dadanya. Liontin pusaka warisan Dinasti Pasak Kahiyang itu kini tidak lagi memancarkan kilau kebiruan yang menenangkan. Batu permata itu berpendar merah menyala, berdenyut selaras dengan detak jantung sang puteri—degup... degup... degup—sebuah ritme ketakutan yang beradu dengan kesunyian danau yang mematikan.

“Datuk... kumohon, hentikan...” bisik Nilam Sari. Suaranya halus namun bergetar hebat, tercekik oleh rasa dingin yang bukan berasal dari cuaca, melainkan merayap keluar dari sumsum tulangnya sendiri. “Dada hamba... dada hamba terasa terbakar sejak pilar itu retak. Ada suara jeritan dari dalam air... ribuan suara yang memanggil nama hamba...”

Mendengar bisikan itu, Datuk Lembayung gemetar hebat. Tubuh rentanya yang kekar bagai batang pohon ulin tua tersentak ke belakang. Sepasang matanya yang mulai kabur oleh selaput darah membelalak lebar ke arah Nilam Sari. Ada kilatan horor, rasa duka yang purba, dan keputusasaan yang begitu dalam di mata sang guru—sebuah tatapan yang belum pernah dilihat Fathan sepanjang lima belas tahun mengabdi di bawah asuhannya.

“Nilam... jangan mendekat ke tepian tebing!” seru Fathan panik. Pendekar muda itu meloncat ke depan sang puteri, merentangkan lengan kirinya untuk menghalangi langkah Nilam Sari, sementara tangan kanannya tetap menghunus Pedang Mustika Badai ke arah danau yang kian mendidih. “Air danau ini telah dirasuki kutukan palung! Setiap uap kabut yang menyentuh kulitmu membawa racun penarik sukma!”

Namun Nilam Sari tidak mundur. Matanya yang bening bagai telaga kaca menatap lurus ke arah kabut tebal di atas permukaan air. Di pupil matanya, terpantul bayangan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Fathan: jalinan benang-benang merah darah yang menghubungkan liontin di dadanya langsung ke dasar palung Danau Ranau. Benang-benang tak kasatmata itu menegang, menarik jiwanya dengan kekuatan yang tak terelakkan.

“Fathan... kau tidak mengerti...” rintih Nilam Sari, jemari tangannya yang sedingin es mencengkeram lengan baju Fathan. Sentuhan itu membuat sang pendekar tersentak; hawa dingin yang merambat dari tangan Nilam Sari terasa seperti tusukan jarum es yang membekukan aliran prana di lengannya. “Danau ini bukan ingin menenggelamkan kita... Danau ini sedang menagih hutang. Hutang yang telah dikunci oleh leluhurku ratusan warsa yang silam...”

KRAAAKKK!

Sebuah suara dentuman memecah malam bagai petir kering yang menyambar puncak batu. Pilar barat Gerbang Pasak Kahiyang terbelah dari puncak hingga ke pangkalnya. Retakan selebar dua jengkal menganga, memuntahkan cairan hitam pekat yang berbau amis menyengat—darah bumi yang telah terkontaminasi oleh energi Segel Palung.

Datuk Lembayung terpelanting ke belakang. Tubuh sang resi menghantam tanah berbatu dengan keras, bergulingan hingga berhenti persis di bibir jurang yang curam. Semburan darah hitam membasahi seluruh dada jubahnya. Kekuatan jurus *Pertiwi Retak* yang ia pertahankan runtuh seketika, dan bersamaan dengan itu, gelombang kejut energi memukul pelataran tebing, membuat Fathan dan Nilam Sari terhuyung-huyung jatuh berlutut.

✦•·············· ⚔️ ···············•✦

Bagian 03 : Pengakuan Terkutuk & Rahasia Palung Ranau

Lihat selengkapnya