
Fathan menemui Puteri Ratna Nilam Sari dan memohon padanya untuk mencari cara lain. Namun sang puteri justru tersenyum tenang dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah tahu takdirnya sejak awal dan telah siap melarutkan jiwanya ke dasar palung demi menyelamatkan kedua alam.
“Aku telah hidup 500 tahun dalam kesunyian, Fathan. Mengenalmu dan mencintaimu selama beberapa pekan ini sudah lebih dari cukup bagiku untuk mati dengan bahagia.”
⚔️ MUSTIKA RANAU ⚔️
## Bagian 01 : Kabut Hitam Seminung dan Gerbang yang Menggigil
✦•·········•✦
Malam di Danau Ranau tidak pernah bernapas seperti malam di tempat lain. Udara di sekelilingnya bukan sekadar dingin, melainkan berat—seolah setiap helaan napas harus disaring dari endapan duka purba yang telah mengendap ratusan tahun di dasar kaldera. Dari kejauhan, siluet raksasa Gunung Seminung berdiri angkuh, menancap ke langit gulita laksana pasak batu hitam yang menahan langit agar tidak runtuh menimpa air yang tengah murka.
Kabut tebal merayap naik dari pori-pori air yang tenang. Tenang yang menipu. Tenang yang menyimpan deru lapar dari pusaran tak kasatmata di palung terdalam. Kabut itu tidak putih bersih; warnanya kelabu keperakan, berputar-putar pelan laksana kain kafan yang ditarik oleh jemari siluman dari kedalaman tiga ratus depa. Di tepian batu hitam berlumut tebal, deru riak air terdengar seperti bisikan orang sekarat—terputus-putus, dingin, dan menuntut tebusan.
Fathan melangkah tergesa, derap kakinya menghantam undakan batu pualam yang basah oleh tetesan embun getir. Dadanya berdenyut kencang, menghantam rusuknya dengan ketukan liar yang menolak tunduk pada kesunyian danau. Pedang Seminung di pinggangnya bergetar di dalam sarung kayu cendana, mendengungkan getaran peringatan: hawa magis di tempat ini telah mencapai titik didih yang terbalik—bukan membara, melainkan membekukan sukma.
"Tidak boleh malam ini," desis Fathan di sela giginya yang gemeletuk. Uap napasnya membubung pekat di udara yang suhunya terus merosot. Tangannya yang terkepal basah oleh keringat dingin, mencengkeram gagang pedang hingga buku-buku jarinya memutih pasi. "Takdir sialan macam apa yang menuntut darah seorang dewi untuk menebus kebodohan manusia?"
Setiap langkah membawanya menembus tabir halimun menuju Gerbang Keraton Nilam—sebuah celah dimensi di balik dinding tebing padas tepi danau yang hanya terbuka ketika bulan sabit bersembunyi di balik puncak Seminung. Di gerbang itu, air danau tidak lagi mengalir mendatar, melainkan berputar tegak lurus membentuk tirai air cair setinggi pohon kelapa. Bau belerang purba beradu dengan wangi melati hutan yang membusuk, melahirkan aroma khas kematian mistis yang membuat bulu kuduk berdiri tegak.
Saat kakinya menembus tirai air itu, gravitasi seakan terbalik sejenak. Tekanan udara menekan gendang telinganya hingga berdenging tajam. Suara riak danau di alam fana lenyap seketika, digantikan oleh kesunyian yang jauh lebih mengerikan—kesunyian ruang bawah air Keraton Nilam yang terasing dari riuh rendah dunia manusia.
Di hadapannya membentang lorong panjang berdinding batu nilam samudra. Permukaan dinding itu basah, memantulkan kilatan cahaya hijau kebiruan yang berasal dari lumut abadi. Di bawah kakinya, lantai kaca tebal memperlihatkan kedalaman air danau yang hitam tanpa dasar. Di sana, di dalam kegelapan pekat yang membisu, bayangan makhluk-makhluk purba berkelebat lambat laksana monster tidur yang menanti retaknya segel pembatas.
Fathan menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Firasatnya menjerit liar. Rasa cemas yang membuncah di rongga dadanya bukan lagi sekadar rasa takut akan bahaya fisik atau pertarungan silat antarpendekar; ini adalah kengerian primordial ketika seorang manusia menyadari bahwa sesuatu yang teramat berharga di dalam hidupnya tengah dihitung mundur oleh detak takdir yang tak berbelas kasihan.
Langkah kakinya dipercepat hingga menjadi larian putus asa. Jubah kelabunya berkibar menerpa udara lembap, menyibak kabut nilam yang semakin pekat. Di ujung lorong, seberkas cahaya keperakan yang anggun namun menyayat hati mulai tampak: pelataran Taman Bunga Kristal. Tempat di mana ratu dari segala rahasia Ranau tengah menunggunya.
✦•·············· ⚔️ ···············•✦
## Bagian 02: Taman Bunga Kristal dan Denyut Palung Purba
✦•·········•✦
Taman Bunga Kristal Keraton Nilam bukanlah taman biasa tempat bangsawan bercengkerama menikmati harum sari puspa. Tempat ini adalah altar pengorbanan yang disamarkan oleh keindahan beku. Beribu tangkai teratai, mawar, dan melati di pelataran ini terbuat dari kristal air murni—pembekuan dari air mata kesedihan yang terkumpul selama ratusan warsa dari danau yang menampung ribuan nyawa tenggelam.
Ketika angin ghaib bertiup melintasi kelopak-kelopak kristal itu, bunyi yang tercipta bukanlah desau daun melainkan denting lonceng kaca yang berdenting pilu. Setiap nada seolah memanggil nama-nama mereka yang telah lenyap di palung Ranau tanpa pernah ditemukan jasadnya. Cahaya biru nila berpendar lembut dari tangkai-tangkai bunga, menciptakan bayangan panjang yang meliuk-liuk di atas lantai pualam basah.
Dan di tengah lingkaran teratai kristal terbesar yang mengapung di atas kolam pusaran tanpa dasar, berdirilah wanita itu.
---
Puteri Ratna Nilam Sari.
---
Gaunnya terbuat dari tenunan sutra air berwarna biru kelam bergradasi perak, menyapu lantai dengan ujung-ujung kain yang seolah melebur langsung ke dalam genangan air bening di bawahnya. Rambutnya yang hitam legam panjang terurai hingga ke pinggang, disemat mahkota tipis berukir pucuk pakis purba dari batu nilam berkilau. Kulitnya seputih pualam danau di kala musim kemarau dingin, nyaris tembus pandang di bawah cahaya mistis taman.
Ia berdiri membelakangi Fathan, menatap ke arah pusaran kolam di tengah altar. Di dalam kolam itu, air berputar perlahan namun bertenaga raksasa—sebuah corong pusaran yang tembus langsung ke palung terdalam Danau Ranau, jantung dari Perang Dua Alam yang sedang bergolak.
"Kau terlambat satu putaran dupa, Fathan," suara sang puteri mengalun pelan. Suara itu begitu lembut, namun memiliki resonansi gaib yang membuat riak air di sekeliling kolam bergetar serentak. Nada suaranya tidak mengandung amarah, tidak pula ketakutan, melainkan sebuah kepasrahan yang begitu dalam hingga terasa lebih dingin daripada es puncak Seminung.
Fathan menghentikan langkahnya sepuluh depa dari lingkaran altar. Napasnya terengah, dada bidangnya naik turun tak beraturan. Matanya menatap punggung ramping sang dewi dengan tatapan yang sarat luka.
"Aku tidak terlambat, Ratna," sahut Fathan dengan suara parau yang bergetar. "Aku menempuh badai di lereng selatan, menembus kepungan siluman air yang mulai mendidihkan tepian Ranau. Aku datang ke sini bukan untuk menyaksikanmu mengenakan gaun pemakaman ini!"
Puteri Ratna Nilam Sari perlahan membalikkan tubuhnya. Gerakannya begitu anggun, luwes tanpa bobot, seolah ia tercipta bukan dari daging dan tulang fana, melainkan dari kepadatan air mata dan kabut malam.