MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Kemunculan Batara Malawira

Kabut hitam memadat di tengah kawah danau, membentuk sosok raksasa bermahkota tanduk hitam dengan mata menyala merah darah: Sang Bathara Malawira bangkit separuh badan. Tekanan auranya membuat bumi bergetar dan ribuan prajurit tumbang tak berdaya.

“Lihatlah anak keturunan Ar Rimbai! Datanglah padaku dan selesaikan takdir yang dirajut oleh darah kakek moyangmu!”

⚔️ MUSTIKA RANAU ⚔️  


BAGIAN 01 : Cermin Kematian di Kaki Seminung

Misteri Air Tenang yang Menyembunyikan Racun Keheningan. Catatan Atmosfer: Angin gunung terhenti seketika. Bau belerang dingin menusuk indra. Air danau mengilap seperti lelehan kaca hitam pekat tanpa riak.

✦•·········•✦  

Malam di Danau Ranau bukanlah malam yang ramah bagi mereka yang masih bernapas. Di bawah bayang-bayang raksasa Gunung Seminung yang membisu kelam, hamparan air seluas ratusan depa itu terbentang serupa cermin obsidian purba—begitu tenang, begitu dingin, nyaris tanpa riak yang berani menyentuh bibir bebatuan basal hitam di tepian. Namun, di balik ketenangan yang membekukan darah itu, tercium anyir belerang bercampur lumut lapuk yang pekat, seolah dasar danau adalah perut raksasa yang sedang membusukkan bangkai-bangkai sejarah yang sengaja dilupakan.

Kabut putih keperakan merayap turun dari lereng-lereng curam, tidak melayang wajar melainkan merayap berat di atas permukaan air laksana selimut kafan yang ditarik perlahan oleh jemari tak kasat mata. Hawa dingin yang menusuk bukan sekadar dinginnya angin pegunungan Bukit Barisan; itu adalah dingin yang meresap menembus jubah zirah, mematuk sumsum tulang, dan membekukan keberanian bahkan pada dada prajurit paling perkasa.

Arya Daniswara berdiri di ujung tonjolan batu karang yang menjulur ke bibir palung terdalam. Jemari kanannya yang terbalut kulit kidang membebat erat hulu Keris Kyai Cundamani. Warangka bertatahkan emas itu biasanya memancarkan hawa hangat yang menenteramkan jalan darahnya, namun malam ini, besi pusaka itu bergetar samar—sebuah dengungan halus yang hanya bisa ditangkap oleh urat nadinya sendiri. Denyut keris itu ganjil; ritmenya tidak lagi mengikuti aliran pernapasan silat Arya, melainkan berpadu rancak dengan sesuatu yang berdenyut di kedalaman ribuan depa di bawah telapak kakinya.

Detak jantung Arya beradu dengan sunyi yang menekan gendang telinga. 'Deg... deg... deg...' Suara itu terdengar begitu bising di dalam rongga kepalanya sendiri. Sunyi di tepian Ranau bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan sebuah entitas buas yang sedang mengawasi, menunggu satu helaan napas yang keliru untuk mencengkeram lehernya. Di sekelilingnya, tiga ribu prajurit Barisan Barata bersiaga dalam formasi tapal kuda. Barisan tombak terhunus ke arah danau, lentera-lentera minyak bergoyang tertiup embusan udara yang aneh. Namun tidak ada satu pun prajurit yang berani berbisik. Bahkan derit pelana kuda pun lenyap ditelan atmosfer yang kian memampat.

Arya menatap bayangan dirinya di atas permukaan danau. Air itu begitu jernih namun pekat oleh jelaga malam. Dalam pantulan air yang tak berombak itu, ia melihat wajahnya sendiri: rahang yang mengeras, pelipis yang basah oleh peluh dingin meski angin menggigit kulit, dan sepasang mata yang menyala gelisah. Namun, sesaat kemudian, bulu kuduknya meremang hebat. Di dalam pantulan air, bayangan dirinya tidak berkedip ketika matanya berkedip. Di kedalaman air tepat di bawah bayangannya, dua titik merah menyala samar, laksana bara yang terkubur di bawah abu sekam.

“Danau ini tidak sedang tidur,” bisik sebuah suara serak dari sampingnya. Itu Ki Lurah Guntara, panglima kawakan yang telah melalui puluhan palagan berdarah. Tangannya yang berurat memegang tangkai tombak pendek, namun cengkeramannya terlalu kaku untuk seorang jawara berdarah dingin. “Air ini... air ini menolak untuk bergerak, Gusti Arya. Sejak senja tadi, ikan-ikan kecil mengapung mati di teluk barat, bukan karena racun tuba, melainkan karena jantung mereka pecah di dalam sisik. Ada sesuatu yang sedang mengisap nyawa dari tanah ini.”

Arya menelan saliva yang terasa pahit laksana getah jarak. “Berapa lama lagi kabut ini akan bertahan, Ki Lurah?”

“Kabut ini tidak akan pergi, Gusti,” jawab Guntara lirih, matanya menatap liar ke arah pusaran halimun di tengah kawah. “Kabut ini bukan dilahirkan oleh embun Seminung. Ini adalah uap dari napas yang telah dikurung terlalu lama di palung paling gelap.” Kalimat itu menggantung kaku di udara, meninggalkan rasa sesak yang kian mencekik dada para lelaki yang berdiri di ambang maut.

✦•·············· ⚔️ ···············•✦

BAGIAN 02: Gulungan Lontar Berdarah & Dinding Dilema

Ketika Prasasti Kepahlawanan Diterjang Dosa Warisan Ar Rimbai. Catatan Atmosfer: Lilin minyak kelapa mendesis dan padam satu per satu. Daun lontar tua berbau karat darah menguak aib sejarah yang terpendam seratus warsa.

✦•·········•✦  

Sebelum gemuruh di dasar danau sempat menampakkan wujudnya, langkah kaki tergesa memecah kesunyian di atas batuan kerikil. Seorang perempuan melangkah menembus kabut, jubah perangnya yang berwarna nila compang-camping diterpa duri semak belukar. Sekar Kinanti. Napasnya memburu, dadanya kembang-kempis tak teratur, dan sepasang matanya yang biasanya memancarkan ketenangan telik sandi terbaik kini dipenuhi urat-urat merah kepanikan dan kepedihan yang teramat dalam.

Di tangan kirinya, Sekar mendekap sebuah silinder tembaga berukir rajah kala yang telah pecah segel lilin hitamnya. Dari dalam silinder itu menjulur gulungan daun lontar yang kusam, tepiannya hangus kehitaman seolah pernah diselamatkan dari kobaran api pemujaan terlarang.

“Sekar? Mengapa kau berada di garis depan?” tegur Arya, suaranya berusaha mempertahankan wibawa seorang senopati agung, meski getaran di nadinya tak lagi dapat disembunyikan. “Kuperintahkan kau mengamankan barisan telik sandi di tebing utara!”

Sekar tidak langsung menjawab. Ia berhenti tiga langkah di hadapan Arya. Udara dingin di antara mereka seakan membeku seketika. Bibir perempuan itu bergetar hebat, pucat pasi laksana mayat yang baru diangkat dari dasar telaga. Perlahan, tatapannya terangkat, menusuk tepat ke pupil mata Arya. Ada kemarahan di sana, namun di balik kemarahan itu mengalir genangan air mata yang tertahan oleh harga diri seorang pendekar.

“Hentikan genderang perang ini, Arya,” desis Sekar. Suaranya rendah, parau, nyaris tercekat di pangkal tenggorokan.

“Apa maksudmu? Pasukan kita sudah mengepung palung! Jika makhluk di kawah danau itu melompat ke daratan tanpa barisan pertahanan, seluruh lembah Ranau hingga Kotabatu akan terbakar menjadi abu!” sergah Arya, alisnya bertaut tajam. Tangannya kembali menekan hulu kerisnya.

“Dan kau pikir makhluk itu bangkit untuk memangsa orang-orang tak berdosa itu?!” Sekar meninggikan suaranya, melangkah maju hingga ujung sepatunya menyentuh batu tempat Arya berpijak. Dengan gerakan kasar, ia menyodorkan lembaran lontar tua itu ke hadapan dada Arya. “Baca ini! Baca tulisan tangan Ar Rimbai sendiri sebelum prasasti palsu di pendopo agung membunuh akal sehatmu!”

Nama itu—'Ar Rimbai'—terdengar bagai gelegar petir yang menghantam ubun-ubun Arya. Ar Rimbai adalah kakek buyutnya, sang pendekar sakti mandraguna yang namanya dipuja dalam tembang kidung rakyat Pasemah sebagai pahlawan suci yang menundukkan iblis palung danau seratus warsa lampau. Seluruh hidup Arya ditempa di bawah bayang-bayang keagungan nama besar itu. Setiap jurus silat yang ia latih sejak kanak-kanak, setiap tetes keringat dan luka sabetan pedang di tubuhnya, didedikasikan untuk membuktikan bahwa ia layak menyandang darah suci Ar Rimbai.

Lihat selengkapnya