Malawira mempermainkan jiwa Fathan. Ia menawarkan kesepakatan: Jika Fathan menyerahkan liontin dan membiarkan segel terbuka, Malawira akan membiarkan Puteri Ratna Nilam Sari hidup abadi bersamanya di dunia baru. Namun jika Fathan melawannya, sang puteri harus mati menjadi tumbal segel atau kedua dunia akan hancur lebur.
“Pilihlah, wahai Pendekar Suci! Gadis yang kau peluk setiap malam, atau miliaran manusia yang bahkan tak mengenal namamu?! Tunjukkan padaku apa arti keadilanmu!”
⚔️ MUSTIKA RANAU ⚔️
BAGIAN 01 : Sunyi Mencekam di Tepian Palung Hitam
Napas Danau Ranau yang Membeku dan Kabut Kematian
✦•·········•✦
Malam itu, Danau Ranau tidak lagi menyerupai rahim air yang melahirkan kesuburan bagi lembah-lembah di kaki Gunung Seminung. Ia telah menjelma menjadi kuburan raksasa bertutupkan kabut pekat yang menggantung rendah, begitu tebal dan pejal seakan-akan sanggup diiris oleh bilah belati. Permukaan airnya hitam kelam—bukan hitamnya malam yang ramah dinaungi rembulan, melainkan hitam pekat seperti jelaga neraka yang telah menelan seluruh cahaya langit. Tiada gemerisik dahan randu alas purba, tiada derik jangkrik rimba, bahkan tiada desau angin malam yang berani menyapa tepian berbatu cadas itu. Alam semesta seolah-olah menahan napasnya dalam ketakutan yang purba dan mencekam.
Di sanalah, di ujung lidah tanah berbatu kapur yang menjorok ke perairan terdalam—tempat yang oleh para tetua adat sejak abad silam dinamai Altar Palung Hitam—Fathan berdiri tegak mematung. Jubah persilatan hitam lusuhnya basah kuyup oleh embun beracun yang merayap turun dari lereng Seminung. Hawa dingin yang menguar dari permukaan danau bukan sekadar pembeku kulit, melainkan hawa dingin metafisik yang merembes menembus pori-pori, membekukan aliran darah di pembuluh nadi, dan mengetuk dinding-dinding sumsum tulang belakangnya dengan rasa ngilu yang menusuk kalbu.
Setiap tarikan napas Fathan terasa begitu berat, bagai menghirup serbuk kaca bercampur belerang busuk dan anyir darah yang telah mengendap ratusan tahun di dasar danau. Matanya yang tajam menatap ke tengah kabut, tempat di mana riak air seharusnya bergelombang lembut memecah ke tepian. Namun di Danau Ranau malam itu, air tidak beriak sama sekali. Cairan legam itu diam terpaku, serupa cermin obsidian raksasa yang menyembunyikan jurang tanpa dasar di bawah perutnya. Fathan tahu persis apa yang bersemayam di kedalaman seratus depa di bawah kakinya: segel gaib pemisah antara Alam Fana dan Alam Palung Mayapadha, sebuah gerbang purba yang kini berdenyut pelan bagaikan jantung raksasa yang sedang sekarat.
Di dalam rongga dada kirinya, detak jantung Fathan berdegup dengan ketukan yang ganjil dan memburu. Satu... dua... tiga... setiap ketukan terdengar begitu keras dan menggema di dalam batok kepalanya sendiri, beradu sengit dengan sunyi yang menindih bumi. Kesunyian di tepian danau ini bukan ketiadaan suara semata, melainkan kehadiran ancaman gaib yang merayap pelan bagai binatang berbisa. Bulu kuduknya meremang hebat tatkala telapak kakinya yang bertelanjang merasakan getaran halus dari bawah tanah cadas. Batu-batu hitam di sekeliling altar itu bergetar samar, seirama dengan denyut nadi pusaka yang terikat di pinggangnya.
Tangan kanannya mencengkeram hulu pedang pusaka dengan buku-buku jemari yang memutih pucat. Hawa suci dari Cakra Qalbu Tunggal yang ia latih selama belasan tahun di puncak pertapaan bukit sunyi mendadak bergolak gelisah, berbenturan keras dengan aura laknat yang memenuhi udara lembap itu. Sejak melangkahkan kaki ke tepian danau ini, batin Fathan disiksa oleh firasat buruk yang meremukkan ketabahan jiwanya. Rasa cemas yang merayap ini bukan ketakutan akan kematian dirinya sendiri—seorang pendekar sejati telah bersumpah menyerahkan nyawanya sejak hari pertama ia menghunus senjata. Kecemasan ini adalah ketakutan seorang lelaki yang mencintai melampaui batas kewarasannya.
Fathan memejamkan mata sesaat demi menguasai gejolak darahnya, namun saat kelopak matanya terkatup, bukan ketenangan yang ia jumpai di balik kegelapan pikirannya. Yang menyergapnya justru aroma wangi bunga melati layu yang amat ia kenali—aroma khas kain selendang sutra nilam milik Puteri Ratna Nilam Sari. Namun wangi melati yang suci itu kini tercemar, bercampur baur dengan aroma tembaga pekat dari darah tumbal yang tertumpah. Bayangan senyum lembut sang puteri di pendapa istana tiba-tiba bertubrukan dengan pemandangan danau jahanam ini, mencabik-cabik ketenangannya bagai kuku serigala kelaparan.
“Tenanglah, wahai qalbu...” bisik Fathan lirih pada dirinya sendiri, suaranya parau tertelan kabut tebal. “Jangan biarkan racun kegelisahan merusak kejernihan pandangan batinmu.”
Namun alam tidak memberinya waktu untuk bernapas tenang. Ketika ia membuka mata kembali, kabut di atas air danau perlahan terbelah dua, berputar membentuk pusaran hawa dingin yang menggidikkan tengkuk. Dari kedalaman palung, gelembung-gelembung udara berbau busuk meletup ke permukaan, disusul oleh suara desisan ribuan ular tak kasat mata. Di tengah pusaran itu, sebuah bayangan hitam legam mulai menjulang pelan dari balik kehampaan air, berdiri di atas sebongkah batu karang hitam yang mencuat dari dasar palung bagai cakar iblis purba yang merenggut langit.
✦•·············· ⚔️ ···············•✦
BAGIAN 02: Kemunculan Sang Pengoyak Qalbu
Seringai Malawira dan Rantai Sukma di Atas Karang
✦•·········•✦
Sosok itu tidak melompat ataupun melayang; ia seakan-akan tercipta langsung dari kepekatan kabut itu sendiri, memadat dari hawa kematian yang menggantung di atas Danau Ranau. Malawira berdiri bersedekap di atas tonjolan karang hitam yang licin diselimuti lumut kuburan. Ia mengenakan jubah panjang kelabu kehitaman yang ujung-ujungnya terurai bagai sulur-sulur asap hitam yang terus bergerak hidup. Rambutnya yang panjang terurai liar ditiup hawa gaib, membingkai wajah tirus yang pucat pasi laksana mayat yang baru bangkit dari dasar kubur, dengan sepasang mata menyala kuning tembaga—seperti mata kucing pemangsa yang mengintai dari lorong kuburan berlumur darah.
Bibir Malawira mengukir sebaris seringai dingin yang tidak memperlihatkan kegembiraan manusia, melainkan kepuasan kejam dari seorang pemburu yang telah melihat mangsanya menginjak jerat mematikan. Hawa pembunuh yang memancar dari tubuhnya begitu pekat hingga air danau di sekeliling kakinya mendesis pelan, mengeluarkan asap tipis berwarna ungu kelam.
Namun bukan sosok Malawira yang membuat dada Fathan mendadak terasa terhantam godam raksasa. Pandangan sang pendekar terkunci seketika, seluruh aliran darah di tubuhnya tersentak mundur ke jantung, dan napasnya terputus saat matanya menangkap pemandangan yang tersaji di samping kaki sang iblis.
Di atas batu cadas yang licin terciprat air beracun, seorang wanita bersimpuh lunglai dengan kepala terkulai lemah. Puteri Ratna Nilam Sari. Kain kebaya sutra nilam birunya yang dahulu anggun berkilau laksana langit senja kini koyak-moyak di beberapa bagian, basah kuyup tercelup rembesan air danau yang berbau busuk. Kulit bahunya yang halus tampak lebam kebiruan, tergores oleh tajamnya batu cadas. Rambut hitam legamnya yang wangi terurai kusut menutupi sebagian wajahnya yang seputih kapas.
Yang paling mengerikan, dari kedua pergelangan tangan, pergelangan kaki, hingga melilit leher jenjang sang puteri, tampak melingkar rantai tembus pandang berwarna ungu keperakan. Rantai itu berdenyut dengan ritme yang mengerikan, berpijar terang setiap kali menyedot secercah cahaya sukma dari tubuh Ratna Nilam Sari. Rantai Sukma Kaladurgangga—senjata kutukan kuno dari dasar Palung Mayapadha yang mengisap daya hidup manusia tetes demi tetes untuk memberi makan pada pintu segel.
“Ratna...!”
Pekikan tertahan itu meloloskan diri dari kerongkongan Fathan yang tercekat bagai tercekik duri beracun. Langkah kakinya bergerak maju secara naluriah, siap menerjang kabut dan membelah air danau demi merengkuh tubuh rapuh itu. Namun baru satu tapak kakinya menghentak tanah cadas, suara gesekan tawa Malawira terdengar bagai logam berkarat yang digoreskan pada lempeng tembaga panas.
“Satu langkah lagi ke depan, Fathan... dan rantai ini akan meremukkan tulang rusuk kembang manismu menjadi serpihan tepung yang berserak di air danau,” desis Malawira perlahan. Nadanya pelan, nyaris seperti bisikan seorang kawan lama yang membelai malam, namun mengandung getaran tenaga dalam hawa hitam yang sanggup meretakkan batu karang di sekelilingnya.
Langkah Fathan membeku seketika. Tubuhnya gemetar hebat menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada. Matanya menyala merah menatap Malawira dengan tatapan yang sanggup melumat baja. “Lepaskan dia, keparat! Pertarungan ini adalah antara kau dan aku! Jangan sentuh sehelai pun rambutnya dengan tangan kotormu!”
Mendengar suara Fathan yang menggelegar, kepala sang puteri bergerak dengan kepayahan yang menyayat hati. Ratna Nilam Sari mengangkat wajahnya perlahan. Di bawah keremangan kabut dan pendar beracun rantai gaib, Fathan melihat sepasang mata bening yang selama ini menjadi pelabuhan terdamai bagi jiwanya. Kelopak mata itu bengkak dan lebam kelam, bibirnya pucat pecah-pecah berlumur darah kering, namun di kedalaman retinanya masih menyala kilau ketabahan yang tak terpatahkan.
Setitik air mata menetes dari sudut mata sang puteri, bergulir di pipinya yang pias, lalu jatuh ke permukaan air Danau Ranau di bawahnya dengan desisan halus bagai tetesan cuka panas di atas bara. Pandangannya bertemu dengan tatapan Fathan, dan dalam tatapan itu, sang pendekar membaca seluruh cinta, rasa bersalah, dan kepasrahan yang maha agung.
“Kanda... jangan...” bisik Ratna. Suaranya serak dan bergetar halus, nyaris tenggelam oleh desau kabut, namun bagi Fathan, rintihan itu bergema lebih dahsyat daripada seribu petir yang menghancurkan puncak Seminung. “Jangan pedulikan aku... Kumohon, demi leluhur dan semesta... segel itu tidak boleh runtuh...”