MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Darah Pendekar Menetes

Dalam duel sengit, cakar bayangan Malawira menembus bahu Fathan. Darah Fathan menetes ke batu mustika segel. Detak segel bergemuruh mengerikan; proses pembongkaran segel otomatis terpicu oleh kontak darah sang Kunci.

“Darahmu telah menetes! Kuncinya telah berputar! Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang kecuali tumbal jiwa murni!”

⚔️ MUSTIKA RANAU ⚔️


#### Bagian 01: Cermin Hitam dan Napas Gunung Seminung

Sunyi yang Membekukan Tulang di Tepian Palung Mustika Kematian. Lokasi: Tebing Karang Hitam, Bibir Palung Danau Ranau | Ketegangan: 7/10

✦•·········•✦

Malam di tepian Danau Ranau bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah pengasingan semesta. Kabut tebal turun dari lereng Gunung Seminung laksana kafan raksasa yang dibentangkan perlahan oleh jemari tak kasat mata. Warnanya kelabu pucat, pekat dan beraroma belerang purba yang berbaur dengan anyir lumut basah. Di bawah sana, permukaan danau membentang laksana lempengan cermin obsidian hitam—mati, dingin, dan menolak memantulkan sekelumit pun pendar rembulan yang tersaput mega kelam.

Fathan Jagad Samudera berdiri tegak di ujung tebing Karang Mayit, setapak batu basalt licin yang menjorok tepat ke bibir Palung Mustika Kematian. Dua langkah di depan ujung sepatu lars kulitnya terbentang jurang air berkedalaman ratusan depa, tempat di mana menurut babad kuno para tetua Ranau, batas antara alam wadag manusia dan rimba siluman disekat oleh rajah mustika sakti. Namun malam ini, ketenangan air itu adalah kepalsuan yang mengerikan. Air hitam itu tidak beriak oleh angin; ia bergetar dari kedalaman paling sunyi, mengirimkan getaran halus yang merayap naik melalui pori-pori batu karang, menembus telapak kaki Fathan, dan memukul hulu hatinya.

"Sepi ini... bukan kesunyian alam," bisik Fathan dalam helaan napas yang berubah menjadi kepulan uap putih. Suaranya tenggelam, seolah ditelan oleh dinding kabut yang memadat.

Tangannya yang bersarung kulit menggenggam gagang Keris Kyai Naga Sasra yang terselip di pinggang kiri. Logam dingin warangka keris itu beradu dengan jemarinya yang gemetar tipis. Fathan bukan pendekar ingusan yang gentar menghadapi seratus pendekar bersenjata tajam di gelanggang terbuka. Ia telah menyeberangi lembah darah di Pasemah, mematahkan kepungan Pendekar Tujuh Rawa, dan membakar habis sarang perompak di muara Komering. Tetapi berdiri di tubir palung ini, di hadapan kebisuan air yang menyimpan dendam ribuan masa lalu, Fathan merasakan sesuatu yang lama terkubur bangkit kembali menggerogoti dadanya: rasa tak berdaya.

Detak jantungnya berdegup tak beraturan, beradu dengan sunyi yang menindih gendang telinga. Setiap dentuman darah di pelipisnya seolah menghitung mundur sisa waktu sebelum bencana merayap keluar dari perut bumi. Di tengah lempeng batu tempatnya berpijak, terukir pahatan relief kuno lingkaran mandala mustika yang melingkari sebongkah batu lonjong kelam seukuran tempurung kura-kura—Inti Segel Ranau. Batu itu tampak kering, namun memancarkan denyut panas-dingin yang aneh, seolah ada jantung raksasa terkubur di bawah tanah liat yang sedang sekarat dan menanti saat untuk bangkit kembali menagih janji berdarah.

✦•·············· ⚔️ ···············•✦

#### Bagian 02 : Rekahan Rahasia & Bayang-Bayang Malawira

*Ketika Kabut Menyingkap Pengkhianatan Dua Dekade Silam. Lokasi: Altar Lingkaran Batu Mandala Purba | Ketegangan: 8/10.

✦•·········•✦

Tiupan angin yang meluncur dari arah palung mendadak berbalik arah, membawa desau dingin yang menusuk hingga ke sumsum belulang. Dari balik tirai kabut yang merayap di atas air, sesosok bayangan ramping berkelebat tanpa menimbulkan kecipak sedikit pun di atas batu-batu karang yang basah. Bayangan itu bergerak patah-patah namun secepat kilat, laksana siluman yang merayap keluar dari dinding mimpi buruk.

"Sudah dua puluh purnama aku menunggumu menginjakkan kakimu di atas altar celaka ini, Fathan..."

Sebuah suara serak dan berat mengapung di udara, mengoyak kesunyian danau. Fathan menarik kerisnya tiga jengkal dari warangka, membiarkan pamor besi meteorit memancarkan pendar kebiruan yang redup di tengah temaram malam. Di depannya, kurang dari lima langkah, bayangan kabut itu memadat menjadi sosok pria kurus berbalut jubah compang-camping sewarna jelaga arang. Wajahnya cekung dengan bekas luka cakar yang memanjang dari pelipis kiri hingga ke sudut bibir, menyisakan sepasang mata kelam yang menyala bagai bara puntung rokok di tengah gulita.

"Malawira..." desis Fathan. Suara pendekar muda itu bergetar oleh campuran amarah dan kepedihan yang mendalam. "Kau masih berani menampakkan bangkai hidupmu di hadapan segel leluhur Ranau? Setelah apa yang kau lakukan pada perguruan... setelah pengkhianatanmu terhadap Ayahanda Ki Rangga Jati?!"

Malawira meledak dalam tawa pelan yang berderak kering, tawa yang terdengar lebih menyerupai gesekan ranting berduri di atas nisan tua. Pria itu melangkah maju selangkah; ujung-ujung jemari tangannya memanjang, kuku-kuku hitam runcing melengkung tajam diselimuti kabut hawa beracun yang kehitaman—Jurus Cakar Bayangan Mayit yang telah termasyhur kebiadabannya di seluruh pelosok Ranau.

"Pengkhianatan?" sahut Malawira, kepalanya miring dengan seringai yang meremehkan. Sorot matanya mendadak berubah dingin dan sarat oleh kepahitan yang purba. "Ayahmu tidak menceritakan seluruh dongeng kepahlawanannya padamu, bukan, Anak Manja? Dia tidak pernah bercerita kepadamu mengapa segel ini tetap kokoh selama dua puluh tahun terakhir!"

Fathan menegang. Otot lehernya mengencang laksana kawat baja. "Tutup mulut busukmu! Ayahanda menyegel palung ini dengan kesucian tapak tirta dan keikhlasan jiwanya!"

"Keikhlasan?!" Malawira mendesis tajam, ludahnya berhamburan ke batu karang. "Dua puluh tahun lalu, di bibir palung yang sama ini, ayahmulah yang mendorongku ke dalam mulut kegelapan danau ini! Aku dijadikan umpan penenang saat mustika ini pertama kali meronta! Aku meminum lumpur bangkai dan menghirup racun palung agar para tetua padepokanmu bisa tidur nyenyak di atas kasur kapuk! Dan malam ini, Fathan... utang darah itu akan dibayar lunas oleh keturunannya sendiri!"

✦•·············· ⚔️ ···············•✦


#### Bagian 03: Benturan Tenaga Dalam & Robeknya Malam

Lihat selengkapnya