MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Menatap Jurang Kematian

Puteri Ratna Nilam Sari melangkah maju menuju bibir kawah palung yang menyedot segalanya. Cahaya tubuhnya mulai memudar menjadi butiran air bercahaya. Fathan terjatuh berdarah, harus membuat keputusan dalam hitungan detik sebelum sang puteri terjun atau dunia runtuh selamanya.

“Lepaskan tanganku, Fathan... Biarkan aku menyelamatkan duniamu. Ingatlah aku saat angin danau menyentuh wajahmu...” Kata Puteri Ratna Nilam Sari

⚔️ MUSTIKA RANAU ⚔️


### Bagian 01 : Kabut Hitam Seminung & Darah yang Membeku

Malam runtuh di atas cermin air yang menolak memantulkan bintang

✦•·········•✦

Malam di Danau Ranau tidak pernah sekadar tentang ketiadaan matahari; malam di sini adalah pemakaman bagi akal sehat manusia. Di bawah bayang-bayang Gunung Seminung yang menjulang serupa raksasa purba bertopeng batu cadas hitam, kabut tebal merayap naik dari perut air. Kabut itu tidak putih serupa kapas di pucuk-pucuk pinus bukit barisan, melainkan kelabu pekat, lembap, dan bermuatan uap belerang purba yang bercampur anyir lumut basah. Tidak ada suara jangkrik padang. Tidak ada desau daun gelagah yang lazim menyapa para nelayan kala fajar masih berjarak beberapa jengkal. Seluruh semesta di sekitar bibir danau seakan-akan menahan napas, tercekik oleh kesunyian yang terlalu pekat untuk dianggap wajar.

Di atas tanah berbatu hitam yang licin oleh endapan alga dan jelaga mantra, Fathan tersungkur. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan serpihan kaca tajam yang mencabik-cabik paru-paru. Rusuk kirinya remuk, patah dihantam gelombang kejut Ajian Braja Geni milik Panglima Guntur Segara setengah jam yang lalu sebelum komandan sekte gelap itu berhasil ditebasnya jatuh ke ngarai. Darah kental berwarna tembaga merembes tak henti-hentinya dari balik robekan baju silat hitamnya yang compang-camping, menetes perlahan menembus celah kerikil tajam, lalu merayap pelan menuju ke bibir air danau.

Namun darah itu tidak larut. Anehnya, ketika tetesan darah Fathan menyentuh permukaan Danau Ranau yang setenang kaca mati, air yang pekat itu menolaknya mentah-mentah. Alih-alih membaur merah mencemari telaga, tetesan darah itu seketika menggumpal menjadi butiran beku serupa delima hitam, terapung sekejap di permukaan sebelum akhirnya ditarik ke bawah oleh pusaran mikro yang tak kasat mata.

Danau ini hidup. Danau ini lapar. Dan malam ini, air purba itu menolak darah orang cacat yang tidak suci; danau menuntut sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada sekadar tetesan darah pendekar fana.

“Bangun, Fathan... jangan biarkan tanah kutukan ini meminum sisa napasmu mendahului takdir...” bisik Fathan pada dirinya sendiri. Suaranya serak dan parau, nyaris tenggelam oleh denging hebat di rongga kepalanya. Matanya yang kabur oleh keringat dingin berusaha menembus tirai kabut.

Pandangan pemuda itu berputar hebat. Rasa sakit yang meremukkan tulang belulang dan persendiannya mendadak menguap, digantikan oleh sengatan dingin yang jauh lebih mengerikan: rasa takut yang mencengkeram ulu hati. Beberapa depa di depannya, tepat di tubir tebing karang yang menjorok ke bagian terdalam danau—titik keramat yang oleh para tetua Ranau disebut sebagai Palung Pengorbanan—seorang perempuan tengah berdiri kaku menatap jurang.

---

Puteri Ratna Nilam Sari.

---

Selendang sutra cindai yang membebat pundaknya kini tidak lagi berkibar wajar mengikuti hembusan angin lembah. Kain tenun pusaka berhias rajutan benang emas itu melayang pelan, seolah-olah ditopang oleh napas tak kasat mata yang berhembus langsung dari kedalaman jurang air. Rambut panjang sang puteri yang sewarna jelaga malam terurai bebas dihempas angin, namun ujung-ujung helainya mulai memancarkan pendar pirus tipis—cahaya kebiruan yang dingin, tembus pandang, dan asing bagi penglihatan mata fana.

Danau Ranau di hadapan mereka malam itu bukanlah danau tempat perahu nelayan menambatkan jaring harapan. Airnya tenang secara ganjil, kelewat tenang hingga menimbulkan rasa mual dan ngeri di dada siapa pun yang menatapnya. Tidak ada riak ombak kecil yang berdebur mencium tepian pasir. Permukaannya serupa cermin obsidian hitam legam yang dipoles rapat, begitu pekat hingga bayangan langit berbintang di atas kubah Seminung pun ditelan mentah-mentah tanpa sisa pantulan. Dan di bawah lapisan hitam yang membeku itu, sebuah pusaran raksasa berputar dalam keheningan mutlak. Kawah gaib di dasar palung telah membuka kelopak matanya yang buta.

✦•·············· ⚔️ ···············•✦


### Bagian 02 : Riak Palung Tanpa Dasar: Ketika Air Menatap Balik

Di bibir kawah gaib, cahaya raga mulai luruh menjadi butiran embun

✦•·········•✦

Langkah kaki Ratna Nilam Sari begitu ringan, melayang nyaris tanpa menjejak tanah cadas yang basah. Dengan setiap jengkal ia mendekat ke bibir kawah palung, udara di sekitar mereka bergetar pelan dalam frekuensi rendah yang membuat gendang telinga berdengung ngilu. Suasana begitu mencekam, seolah-olah tebing karang tempat mereka berpijak adalah lidah raksasa purba yang siap menarik mereka ke dalam rongga kerongkongan bumi.

Di bawah bibir tebing itu, Palung Pengorbanan Danau Ranau menganga tanpa dasar. Menurut babad lisan para juru kunci Seminung, kedalaman palung ini menembus akar terdalam pulau Swarnadwipa, menghubungkan air danau dengan lautan api purba di bawah kerak bumi. Di sanalah segel penjaga keseimbangan dunia manusia dan dunia siluman disematkan sejak zaman para dewa turun ke bumi.

“Ratna... hentikan langkahmu!” jerit Fathan. Suaranya pecah, memuntahkan gumpalan darah kental ke atas batu cadas. Tangannya yang gemetar mencengkeram tanah berkerikil, menyeret tubuhnya yang hancur maju beberapa jengkal. Kuku-kuku jarinya patah dan berdarah karena mencakar batu keras. “Jangan melangkah lebih jauh lagi! Palung itu... palung itu bukan jalan keluar!”

Perempuan itu tidak langsung menoleh. Dari siluet punggungnya yang ramping dan tegak, Fathan melihat fenomena gaib yang membuat seluruh bulu kuduknya meremang dingin: jemari lentik Ratna tidak lagi berwujud daging dan kulit fana. Dari ujung-ujung kukunya, butiran-butiran air berpendar keperakan mulai terlepas satu demi satu. Butiran-butiran cahaya itu mengambang lambat di udara bebas, berpusing sejenak, lalu melayang turun terisap ke dalam pusaran gelap danau.

---

Tubuh sang puteri sedang larut.

---

Perjanjian darah dua alam yang telah tertidur selama tiga abad kini menuntut penggenapan tanpa belas kasihan. Gerbang gaib di dasar palung Danau Ranau telah retak akibat pertumpahan darah antarpendekar dan kerakusan para penguasa daratan yang mengobrak-abrik pusaka karang. Bila gerbang itu pecah seutuhnya sebelum fajar menyingsing, luapan amarah lautan purba yang terperangkap di bawah perut bumi Seminung akan memuntahkan air mendidih bercampur gas belerang maut, menenggelamkan tujuh lembah Ranau, menghapus seluruh peradaban manusia di sekitarnya dalam semalam.

Hanya ada satu pasak yang sanggup mematri kembali retakan gaib itu: intisari sukma murni dari keturunan langsung sang Penjaga Ranau pertama. Darah ningrat sakral yang mengalir di pembuluh Ratna Nilam Sari.

Ketika Ratna akhirnya memutar separuh wajahnya ke arah Fathan, napas pemuda itu tertahan di kerongkongan. Rasa dingin seketika merayapi tengkuknya. Wajah yang selama ini menyimpan keteduhan embun pagi di lereng Seminung kini tampak begitu pucat pasi, nyaris pudar seperti lukisan cat air yang luntur disiram hujan badai. Namun yang paling meremukkan dada Fathan adalah sepasang matanya.

Tidak ada lagi kilat kemarahan prajurit. Tidak ada lagi sisa kepanikan perang. Yang tersisa di sepasang mata kelam itu hanyalah kepasrahan yang teramat sunyi—jurang kehampaan yang begitu dalam dan dingin, hingga sanggup menelan seluruh asa manusia fana.

Lihat selengkapnya