Fathan dan Puteri Ratna Nilam Sari berdiri di bibir dermaga perbatasan dimensi untuk menatap nasib baru mereka. Kata-kata perpisahan atau ikrar abadi terucap di bawah gerimis bunga teratai air yang berterbangan di udara.
“Di mana pun jiwaku berlabuh, Fathan, namamu telah terukir abadi di setiap tetes air Danau Ranau.”
⚔️ MUSTIKA RANAU ⚔️
=== Bagian 01 : Palung Kegelapan dan Desau Kuno Danau Ranau ===
Sunyi yang mencekam di bawah bayangan raksasa Gunung Seminung
✦•·········•✦
Malam itu Danau Ranau tidak bernapas seperti telaga pada umumnya; ia mengendap serupa kuburan purba yang menolak untuk sepenuhnya mati. Di bawah bayang-bayang angker Gunung Seminung yang membungkuk congkak di batas cakrawala, permukaan air yang hitam kehijauan membeku dalam keheningan yang menyesakkan dada. Tiada riak gelombang yang bersahabat. Tiada desau daun yang menenangkan. Yang ada hanyalah aroma belerang purba yang bercampur anyir lumut basah, menguap dari celah-celah bebatuan kaldera dan merayap ke rongga hidung bagai peringatan kematian.
Kabut turun bukan sebagai kabut biasa, melainkan lembaran-lembaran halimun pekat yang berputar pelan di atas paras air, seakan-akan tangan-tangan kasat mata dari dasar palung terdalam tengah berusaha menggapai langit fana. Setiap jengkal udara terasa menekan pundak, padat dan mengandung beban magis yang sukar dinalar akal sehat. Danau Ranau menyimpan rahasia berdarah—sejarah tentang ratusan nyawa yang tenggelam demi mengunci celah antardimensi pada perang besar sembilan windu silam. Malam ini, dendam sunyi dari palung air itu kembali berdenyut, menuntut bayaran lunas atas perjanjian yang tak lagi dapat ditangguhkan.
Fathan berdiri kaku beberapa depa dari bibir air. Jubah hitamnya yang koyak-moyak di beberapa bagian akibat pertarungan sengit di Lembah Selicin basah oleh butiran embun es. Angin malam menyusup ke sela tulang rusuknya yang masih ngilu, namun rasa sakit ragawi itu tidak sebanding dengan gemuruh yang mencabik-cabik rongga dadanya. Di dalam hening yang memekakkan telinga, detak jantungnya berdegup ganjil—terlampau cepat, beradu sengit dengan kebisuan mutlak alam. Dug... dug... dug. Irama darahnya terdengar begitu bising, seolah menertawakan ketidakberdayaan seorang pendekar yang telah berhasil menaklukkan ribuan musuh berilmu tinggi, namun kini gemetar hanya karena menanti sebaris kata di tepian air.
Ia memandang telapak tangannya sendiri. Masih ada sisa jelaga hitam dari ajian gelap lawan yang ia tumpas tiga malam lalu, namun di balik pori-pori kulitnya, pendar keemasan Nur Qalbu masih berdenyut lesu. Tenaga batin yang diagungkan para tetua persilatan, jurus puncak yang konon mampu menembus selubung kabut sukma dan menumbangkan raksasa, terasa begitu hampa di tempat ini. Fathan menarik napas panjang, dan udara dingin Ranau menusuk paru-parunya bagai serpihan kaca es.
“Apakah ini ujung dari segala darah yang tumpah, Danau Ranau?” bisik Fathan lirih, suaranya tercekat di kerongkongan. “Kau meminta tebusan yang lebih mahal daripada nyawaku sendiri.”
Danau itu tidak menjawab dengan suara, melainkan dengan pusaran riak kecil yang tiba-tiba berputar di dekat kakinya. Dari kedalaman air yang kelam, seberkas bayangan ungu keperakan melintas secepat kilat. Misteri yang menyelimuti tepian Ranau seakan hidup, mengawasi setiap hembusan napas Fathan dengan mata ribuan leluhur yang tertidur di bawah endapan ✦•·············· ⚔️ ···············•✦
=== Bagian 02 : Dermaga Gerbang Kahiyang & Ambang Dua Dimensi ===
Langkah pelan sang puteri di atas bilah kayu lapuk yang memancarkan pendar aksara kuno
✦•·········•✦
Langkah kaki itu hampir tidak mengeluarkan suara, namun bagi Fathan, getaran halus di atas tanah berbatu kerikil itu mengguncang seluruh sendi tubuhnya lebih keras daripada gempa bumi. Fathan menoleh perlahan, rahangnya mengeras hingga otot-otot di pelipisnya menegang kaku bagai kawat baja. Dari balik tirai kabut tebal yang membelah dengan enggan, sosok Puteri Ratna Nilam Sari muncul menyerupai mimpi yang perlahan menolak untuk dipercaya.
Ia melangkah dengan keanggunan yang menyayat hati. Gaun sutra birunya yang ditenun dari benang halimun Kahiyang tampak berkibar lesu, basah oleh embun danau. Namun yang membuat napas Fathan tertahan di kerongkongan bukanlah keindahan rupa sang puteri yang tak tertandingi di tujuh kerajaan, melainkan sesuatu yang mengerikan di balik keanggunan itu: tubuh Ratna Nilam Sari mulai tembus pandang. Di bawah temaram cahaya bulan yang terperangkap kabut, siluet jemari lentiknya tampak berkilau seperti kristal air yang rapuh. Aksara-aksara kuno bercahaya emas merayap pelan di pergelangan tangannya, berkedip seirama dengan denyut Gerbang Kahiyang.
Dermaga kayu lapuk tempat mereka berdiri—yang masyarakat Ranau sebut sebagai Dermaga Gerbang Kahiyang—bukan sekadar susunan pasak kayu ulin tua. Pasak-pasak itu ditancapkan langsung ke urat bumi yang memisahkan dunia fana dan dimensi luhur para dewa serta penguasa elemen. Seiring langkah sang puteri yang menjejak titian dermaga, air danau di sekeliling kayu purba itu mendadak berhenti beriak. Permukaannya berubah menjadi cermin hitam pekat yang merefleksikan bukan langit malam, melainkan hamparan istana mengambang berlapis kabut emas di balik dimensi lain.
Ratna berhenti tepat tiga langkah dari Fathan. Matanya yang bening laksana batu nilam terbaik menatap Fathan lekat-lekat. Dalam tatapan itu, tiada lagi topeng seorang putri bangsawan yang agung. Yang tersisa hanyalah seorang perempuan yang jiwanya terkoyak di antara kewajiban mahatakdir dan rasa cinta yang terlanjur berakar sedalam palung Ranau.
“Fathan...” panggilnya. Suaranya bergetar tipis, sarat dengan kepedihan yang ditahan berhari-hari. Angin danau yang bertiup dingin menerbangkan helai rambut hitamnya yang beraroma wangi bunga cempaka basah, menyapu pipi Fathan yang terasa beku.