Dunia manusia kembali normal. Warga desa dan wisatawan menganggap badai dan gempa kemarin hanyalah fenomena anomali cuaca langka. Fathan (atau peninggalannya bagi dunia) dipandang sebagai pemuda yang kembali dengan kedalaman tatapan mata seorang pendekar agung yang telah melampaui batas hidup dan mati.
“Mereka tidak pernah tahu pertempuran apa yang telah terjadi di kedalaman danau ini. Dan biarlah tetap seperti itu...”
⚔️ MUSTIKA RANAU ⚔️
BAGIAN 01 : Kabut yang Menelan Banding Agung
Keheningan yang Menipu & Riak Hitam di Tepian Dermaga
✦•·········•✦
Kabut itu turun tidak seperti biasanya. Ia tidak sekadar merayap lambat dari lereng curam Gunung Seminung sebagaimana kabut pegunungan pada umumnya, melainkan bergulung-gulung tebal serupa kafan raksasa basah yang dihembuskan dari ceruk-ceruk gaib yang telah lama terlupakan zaman. Di pesisir Desa Banding Agung, malam itu berbau belerang basah bercampur aroma anyir lumut mati yang terlempar ke daratan berpasir. Permukaan air danau yang membentang seluas delapan puluh kilometer persegi itu tampak membeku menjadi pelat timah kelabu, nyaris tak menyisakan riak selain desiran lirih yang menghantam tiang-tiang kayu dermaga yang lapuk.
Beberapa jam yang lalu, tanah di sekeliling kaldera purba ini sempat berguncang hebat—sebuah gempa bergelombang ganjil dengan frekuensi rendah yang mengocok isi perut Danau Ranau dari poros terdalamnya. Air danau sempat menyurut ratusan jengkal secara mendadak ke arah palung tengah, menampakkan lumpur hitam pekat berbau bangkai purba yang belum pernah tersentuh mata manusia sejak ribuan tahun silam, sebelum kemudian kembali menerjang tepian dengan deburan ombak setinggi atap rumah penduduk. Pepohonan kelapa melengkung ketakutan, dan burung-burung kowak malam beterbangan liar menjeritkan panik ke angkasa.
Namun kini, bagi orang-orang yang duduk meriung di warung-warung kopi beratap seng di pinggir dermaga Banding Agung, teror itu seolah-olah telah menguap bersama gerimis tipis yang baru saja reda. Di bawah naungan terpal biru yang berkibar pelan ditiup angin danau, aroma sedap kopi robusta sangrai dan pisang goreng panas memenuhi udara, mengalahkan bau belerang yang samar-samar masih terperangkap di sela bebatuan pantai. Kaca jendela warung masih bergetar pelan setiap kali angin kencang berembus dari seberang danau, tetapi gelak tawa para pelancong dan celoteh ramah pengemudi perahu motor sewaan telah kembali mengapung, mencairkan sisa-sisa kengerian yang sempat membekukan dada mereka tadi sore.
Mereka menertawakan ketakutan mereka sendiri. Di bawah pendar lampu neon sepuluh watt yang mulai dikerubungi laron-laron basah, seorang pemuda berjaket parasut merah menyalakan layar ponsel pintarnya. Ia menunjukkan sebaris teks berita kepada tiga temannya yang sedang asyik mengunyah kacang rebus.
"Tuh, kubilang juga apa, Bro," kata pemuda itu dengan nada suara yang sengaja dibesarkan agar terdengar santai. "BMKG di Palembang sudah bikin rilis resmi tiga puluh menit yang lalu. Katanya cuma patahan geser minor di segmen sesar Semangko barat daya. Magnitudo empat koma delapan, kedalaman sepuluh kilometer. Gelombang tinggi tadi itu murni fenomena seiche lokal karena bentuk danau yang mangkuk tertutup. Anomali tekanan barometrik biasa. Bukan kiamat seperti yang diributkan nenek-nenek di pasar tadi sore!"
Tawa renyah menyusul dari kawan-kawannya, diiringi kepulan asap rokok kretek yang lekas buyar tergilas dinginnya udara Ranau. Tak jauh dari meja mereka, seorang ibu pemilik warung bercelemek kusam sedang sibuk menyeduh wedang jahe untuk serombongan pengendara motor yang baru tiba dari Baturaja. Ibu itu hanya mengeluh pelan tentang jaringan listrik PLN yang sempat padam selama tiga perempat jam dan merusak beberapa es lilin di dalam lemari pendinginnya.
Kehidupan dunia fana telah kembali ke relnya yang biasa: sibuk, bising, dangkal, dan terlindung oleh tirai ketidaktahuan yang menenangkan.
Tidak ada satu pun di antara mereka yang mengetahui bahwa tepat pada pukul delapan malam tadi, di kedalaman dua ratus dua puluh meter di palung tergelap Ranau—di mana tekanan air mencapai puluhan atmosfer dan suhu dasar air menusuk hingga ke sumsum tulang—fondasi ruang dan waktu dunia ini nyaris terkoyak menjadi debu. Mereka tidak tahu bahwa gempa yang mereka rasakan bukanlah gesekan lempeng batu bumi biasa, melainkan dentuman dari runtuhnya formasi segel megalitik Pasemah yang telah menahan amukan entitas kehancuran selama tujuh abad lamanya. Dan seandainya segel primordial itu patah seujung kuku saja, air danau tidak akan sekadar meluap; ia akan mendidih menjadi lahar hitam bertuah yang membakar habis setiap jengkal kehidupan di sepanjang kaki Gunung Seminung hingga menembus perbatasan Lampung Barat.
Kini, di ujung dermaga kayu yang menjorok sendirian ke dalam kegelapan pekat danau, terpisah puluhan langkah dari keriuhan warung kopi yang hangat, seorang pemuda berdiri mematung.
---
Namanya Fathan.
---
Ia tidak mengenakan jaket tebal berbulu atau syal wol hangat seperti para wisatawan kota yang kini menggigil kedinginan. Tubuhnya yang liat dan ramping hanya dibalut sehelai kemeja katun lusuh berwarna abu-abu arang yang kedua ujung lengannya telah sobek compang-camping, menyisakan bercak hangus kehitaman yang berkerak di sekeliling serat kainnya. Bau ozon pekat—aroma khas dari petir gaib yang menyambar di ruang hampa—masih menguar samar dari pundaknya, bercampur dengan bau lumpur dasar danau yang melekat di celana hitamnya yang basah kuyup.
Fathan berdiri begitu kaku, dengan kedua tangan tergantung lemas di sisi tubuhnya. Matanya yang kelam menatap lurus ke dalam tirai kabut putih yang mengambang di atas air, memandang ke arah kehampaan yang seolah tak memiliki ujung. Angin danau yang bertiup kencang mempermainkan helai-helai rambutnya yang kotor dan kusut oleh keringat dingin yang telah mengering. Ia berdiri di sana begitu sunyi, begitu menyatu dengan kesenyapan malam, hingga seolah-olah ia bukan lagi manusia yang terbuat dari daging dan darah, melainkan tunggul kayu ulin purba yang tertancap bisu di bibir jurang keabadian.
✦•·············· ⚔️ ···············•✦
BAGIAN 02 : Pantulan di Air Obsidian & Detak Jantung yang Beradu Sunyi
Pertiwi Fana: Ketika Jiwa Melampaui Batas Hidup dan Mati
✦•·········•✦
Fathan perlahan menundukkan pandangannya, menatap ke bawah ke arah celah-celah papan dermaga yang basah oleh tetesan embun malam. Di bawah kakinya, air Danau Ranau tidak lagi tampak biru kehijauan seperti pada brosur-brosur pariwisata yang dipajang di lobi hotel melati di seberang jalan. Di bawah pekatnya malam tanpa bintang, danau itu menyerupai kubangan obsidian cair—hitam pekat, kental, mengilap seperti batu kaca vulkanik, dan menyimpan rasa dingin yang mampu membekukan darah siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama.
Di permukaan air yang tenang namun menipu itu, Fathan melihat pantulan bayangan dirinya sendiri.
Wajah yang terpantul di sana terasa seperti milik orang asing yang baru pertama kali ia temui dalam hidupnya. Bentuk rahangnya memang masih rahang pemuda desa berusia awal dua puluhan yang dahulu kerap berlari menyusuri pematang sawah di lereng Seminung. Namun, garis-garis di sekitar bibir dan dahinya telah mengeras secara permanen, ditarik oleh ketegangan batin yang telah melampaui batas kewajaran mortalitas manusia. Kulit wajahnya pucat pasi laksana mayat yang baru diangkat dari dasar telaga, dengan urat-urat halus berwarna kebiruan yang menjalar samar di pelipis kirinya.
Tetapi yang paling mengerikan adalah matanya.
Sepasang mata itu tidak lagi memancarkan binar seorang pemuda fana yang mendambakan masa depan, cinta, atau ketenaran duniawi. Kelopak matanya dinaungi bayang kelam yang pekat, dan di dalam manik matanya yang hitam legam, terbentang kehampaan kosmik yang tak berdasar—sebuah tatapan seorang pendekar agung yang telah melangkah melintasi gerbang kematian, menyaksikan sendiri bagaimana benang-benang suratan makhluk hidup dipintal, dipelintir, dan dihancurkan oleh kehendak Mahatakdir, lalu dipaksa untuk merangkak kembali ke dunia fana dengan raga yang terluka parah di setiap tingkat kesadarannya.
Tangan kanan Fathan bergetar samar. Getaran itu bukan berasal dari gigilan hawa dingin pegunungan yang menembus kain tipis bajunya, melainkan getaran internal yang berakar dari sumsum tulangnya sendiri. Perlahan, dengan gerakan yang tampak melelahkan dan menyakitkan, ia mengangkat telapak tangannya dan menekankannya ke dada kirinya.
Di balik tulang rusuknya, detak jantungnya berdegup dengan ritme yang abnormal. *Deg... deg... deg...*
Dentumannya lambat, berat, dan bergema di dalam rongga dadanya dengan frekuensi rendah yang aneh. Setiap kali jantung itu berdenyut, rasa sakit yang membakar menjalar ke seluruh urat nadinya, seolah-olah darah yang mengalir di dalam tubuhnya telah digantikan oleh lumpur belerang yang mendidih bercampur serpihan kaca tajam. Detak jantung itu terasa begitu keras di dalam kepalanya, beradu sengit dengan keheningan malam yang membentang di atas danau. Sunyi di sekelilingnya bukan lagi ketiadaan suara; hening itu telah bermutasi menjadi ruang gema yang mengamplifikasi rasa sakit dan ketakutan eksistensial yang terkunci rapat di dalam jiwanya.
Inilah konsekuensi mutlak dari *Pertiwi Fana*.
Dalam hierarki silat elemen kuno yang diwariskan oleh para leluhur Pasemah, Pertiwi Fana adalah sumpah pamungkas sekaligus kutukan paling mengerikan yang bisa dipanggil oleh seorang pendekar tanah. Ketika segel kuno di palung danau terbelah dan inti amukan kehancuran hendak meledak ke permukaan dunia, Fathan memiliki dua pilihan: membiarkan dirinya naik tingkat menjadi entitas roh bebas tanpa raga dan meninggalkan dunia fana terbakar menjadi abu, atau mengikatkan seluruh energi kutukan itu ke dalam raga fananya sendiri, membumikannya ke pusat gravitasi tanah melalui daging dan darahnya sendiri.
Fathan memilih yang kedua.
Ia tidak memusnahkan malapetaka itu—karena dalam hukum abadi elemen, energi purba tidak pernah bisa dimusnahkan. Ia menelannya. Ia menjadikan tubuh fananya sebagai sangkar penjara hidup bagi entitas dendam yang telah mendidih selama tujuh ratus tahun di dasar kaldera. Setiap tarikan napasnya kini adalah perjuangan menahan gejolak magma eterik yang ingin mencakar keluar dari dinding lambungnya. Tulang-tulangnya serasa diisi oleh pasir kuarsa tajam yang mengikis persendian dari dalam setiap kali ia menggerakkan lengannya.
Fathan menarik napas pendek yang gemetar. Udara malam terasa dingin menusuk seperti jarum es di kerongkongannya.
“Mereka tidak pernah tahu pertempuran apa yang telah terjadi di kedalaman danau ini,” bisik Fathan lirih pada dirinya sendiri. Suaranya serak dan pecah di ujung kata, nyaris tak lebih keras dari desiran angin yang menyapu lumut di tiang dermaga.
Ia menghela napas kembali, lalu menatap bayangannya di permukaan air yang bergoyang perlahan mengikuti alun ombak mati.
“Dan biarlah tetap seperti itu...”
Kalimat itu diucapkan bukan dengan kebanggaan semu seorang pahlawan dongeng yang menanti pujian atau gelar kehormatan dari raja-raja tanah seberang. Tidak ada rasa bangga di sana. Yang tertinggal hanyalah kepasrahan yang sunyi, kelelahan jiwa yang begitu pekat hingga membuat kelopak matanya terasa seberat batu nisan. Fathan menyadari dengan kegetiran yang mendalam: keselamatan dunia fana menuntut kebohongan abadi. Bila orang-orang di warung kopi itu mengetahui apa yang sebenarnya bersemayam di dasar danau—dan apa yang kini bersarang di dalam rongga dada pemuda yang berdiri di ujung dermaga ini—kedamaian mereka akan runtuh dalam sekejap, digantikan oleh kegilaan dan histeria massal. Dan Fathan lebih memilih memikul kutukan itu sendirian hingga napas terakhirnya, daripada melihat senyum anak-anak di Banding Agung terhapus oleh bayang-bayang kengerian gaib.
✦•·············· ⚔️ ···············•✦