Mutiara Samudra

ayu melati
Chapter #1

PUTUSAN TAKDIR

Muti tak pernah sekali pun dianggap sebagai kembang desa, kembang kelurahan, atau bahkan kembang goyang. Kalaupun ada predikat yang cocok untuk menggambarkan sosoknya, ia lebih mirip tanaman lidah mertua: ada di mana-mana, sangat tangguh di berbagai cuaca, tapi ya... jarang ada orang yang secara sukarela mau memeluknya karena takut tertusuk kenyataan.

​Gaya hidup Muti sederhana. Bagi perempuan berumur dua puluh enam tahun itu, hari-hari berjalan seputar urusan menyelesaikan tumpukan dokumen kantor, menghindari tatapan menghakimi dari tetangga yang hobi bertanya, "Kapan nyusul?", dan bertahan hidup dari serbuan karbohidrat setiap malam Minggu. Ia belum pernah berpacaran seumur hidupnya. Bukannya ia gadis konservatif yang memegang teguh prinsip anti-pacaran ala petuah bijak masa lalu, tapi memang murni karena tak ada satu pun lelaki yang sudi mampir dan menetap di hatinya.

​Dulu, sewaktu ibunya masih hidup, beliau pernah beberapa kali mencoba untuk menjodohkan Muti. Salah satu usaha paling heboh adalah ketika sang ibu berniat mengenalkan Muti dengan seorang anak dari teman pengajiannya yang katanya memiliki jabatan bagus sebagai PNS idaman. Muti, yang naluri kesepiannya sudah mencapai taraf mengkhawatirkan dan haus akan afeksi seorang pria, langsung mengiyakan. Mana tahu, pikirnya waktu itu, takdir bahagianya memang sudah dikirim lewat jalur doa ibu-ibu pengajian.

​Hari yang dijanjikan pun tiba. Muti berdandan habis-habisan. Ia memakai gaun terbaiknya, menyemprotkan parfum hingga radius tiga meter, dan mengoleskan lipstik dengan warna yang menurutnya paling memikat. Standar kecantikannya hari itu sudah dipatok selevel aktris sinetron kejar tayang episode puncak.

​Mereka berjanji untuk bertemu di sebuah kafe kekinian di pusat kota. Si pria datang mengendarai mobil sedan perak. Ketika melangkah masuk, ia membawa senyum manis yang sempat membuat jantung Muti berdegup kencang seperti drum musik rok. Pria itu duduk di hadapan Muti, menatapnya dari ujung rambut, turun ke dahi, berlanjut ke hidung, hingga berakhir di ujung sepatunya. Ada jeda hening selama sepuluh detik yang sangat menyiksa.

​Pria itu kemudian berdehem, membenarkan posisi kerahnya, lalu berkata dengan nada amat tenang, "Maaf ya, Muti. Kamu terlalu ordinary buat saya."

​Belum sempat Muti mencerna kalimat ajaib itu, si pria menambahkan, "Saya izin ke toilet ya."

​Dan seperti yang bisa ditebak dari alur cerita tragis, pria itu tak pernah kembali. Ia melesat pergi lewat pintu samping, meninggalkan Muti yang terpaksa membayar dua cangkir americano dingin dan sepotong red velvet yang rasanya mendadak berubah menjadi adonan semen instan.

​Ditolak oleh lelaki bagi Muti sudah menjadi makanan sehari-hari. Pengalaman pahit itu bahkan jauh lebih banyak daripada pengalamannya ditolak saat melamar kerja. Kalau saja di dalam curriculum vitae diperbolehkan menuliskan riwayat patah hati dan penolakan asmara, Muti yakin ia bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas kuarto.

​Ia bukannya tak paham alasan utama di balik "kutukan" percintaannya ini. Dunia ini memang kejam, dan standar estetika fisik sering kali bertindak lebih tajam dari sindiran tetangga saat momen Lebaran. Muti menyadari betul posisinya. Almarhumah ibunya dulu sangat cantik, dan sepupunya yang bernama Bella lahir dengan perawakan layaknya model papan atas yang kalau berjalan di atas trotoar pun, trotoarnya akan merasa bangga karena diinjak olehnya. Sementara Muti? Ia merasa terlahir dengan proporsi tubuh yang lebih mirip lemari es dua pintu: kokoh dan makan tempat.

​Faktor fisik selalu menjadi alasan nomor satu. Bagi hampir semua lelaki yang pernah bersinggungan dengannya, penampilan adalah gerbang utama. Jadi tak heran jika Muti tak pernah diberi kesempatan untuk sekadar diberi "lirikan kedua".

Lihat selengkapnya