Sejak masih mengenakan seragam putih-merah, Samudra—atau yang di rumah biasa dipanggil Sam—punya satu hobi yang sangat tidak berfaedah: mengamati Muti. Ada kepuasan tersendiri yang sulit dijelaskan dengan akal sehat tiap kali ia berhasil memancing emosi anak perempuan berpipi bulat bak bakpao mekar yang baru matang itu. Bagi Sam, Muti itu ibarat sasaran tembak yang paling menarik di seluruh angkatan. Wajah Muti yang gampang memerah kalau sedang marah adalah hiburan kelas wahid yang jauh lebih seru daripada menonton kartun hari Minggu.
Hari itu, suasana kelas V-A sedang cukup lengang. Guru piket belum masuk karena ada rapat mendadak di ruang kepala sekolah. Kesempatan emas itu tentu tidak disia-siakan oleh Samudra. Ia bangkit dari bangkunya, melangkah santai, lalu tanpa permisi bertengger di atas meja tepat di sebelah Muti yang sedang sibuk menyalin catatannya.
"Ti, tadi pagi lu sarapan pakai apa sih?" tanya Sam dengan nada sok akrab, menopang dagunya di atas tangan.
Muti menyipitkan matanya yang memang sudah sempit. Gadis kecil itu menghentikan goresan pulpennya, menatap Sam dengan pandangan yang kalau saja bisa mengeluarkan sinar laser, pasti dada Sam sudah bolong saat itu juga.
"Apa urusan lo!" cetus Muti galak.
"Ya elah, pengen tahu aja. Pelit amat sama temen sekelas," goda Sam lagi sambil menaik-turunkan alisnya.
"Gue makan nasi lah! Mana ada orang sarapan makan genteng!" sungut Muti dengan bibir yang sudah maju beberapa sentimeter. Ia paling malas kalau sudah diladeni oleh Sam. Meski harus diakui bahwa cowok itu punya wajah di atas rata-rata untuk ukuran anak SD—keturunan campuran yang kerap dipuji ibu-ibu—kelakuannya yang mesum, otak usil, dan mulutnya yang tidak ada remnya itu sukses membuat Muti kehilangan rasa simpati.
Sam terkekeh pelan. Matanya memperhatikan lipatan perut Muti yang tertekan seragam sekolahnya. "Gue kira lu ngunyah batako juga, Ti. Tuh lihat, perut lo udah kembung banget, mirip sapinya Mang Udin pas kena busung lapar."
Afif yang duduk di belakang mereka langsung menyemburkan tawa hingga air ludahnya memercik ke meja. Muti memalingkan wajahnya secepat kilat. Pipinya yang lebar makin menggembung menahan lahar kekesalan yang rasanya sudah siap meletus bagai Gunung Merapi.
"Dasar Samsul bego!" umpat Muti gemas sambil meremas kuat pulpen di tangannya. Panggilan "Samsul" itu adalah gelar kehormatan yang diciptakan Muti khusus untuk Samudra—sebuah nama yang menurut Muti jauh lebih cocok menggambarkan kelakuan menyebalkan cowok itu daripada nama "Samudra" yang terlalu keren.
Sensasi mengganggu Muti memang selalu berhasil membuat hari-hari Sam di sekolah jadi lebih berwarna. Beberapa minggu sebelumnya, Sam pernah membaca majalah Bobo milik kakaknya di rumah. Di majalah itu ada karakter gajah kecil berbelalai panjang bernama Bona. Dari sana, sel-sel jahil di dalam otak Samudra langsung terhubung secara otomatis bagai kilat. Tanpa butuh waktu lama, ia menciptakan julukan baru untuk Muti: "Muti gajah kecil berbokong besar".
Efek domino dari ide jahilnya itu sungguh luar biasa. Hanya dalam waktu dua hari, hampir seluruh anak laki-laki di sekolah ikut-ikutan membekor. Mereka sibuk membuat kreasi julukan baru yang makin hari makin sadis untuk Muti. Ada yang memanggilnya Muti gajah gemuk doyan kentut, Muti gajah gendut bermata semut, Muti gajah jumbo berlengan rambo. Sam sendiri tidak peduli, bahkan ketika ia harus berkali-kali dihukum berdiri di depan kelas sambil memegang kedua telinganya gara-gara dilaporkan Wali Kelas setelah membuat Muti menangis di pojokan kelas. Bagi Sam, hukuman guru itu hanyalah "biaya operasional" untuk sebuah hiburan yang sepadan.
Siang itu, ketika jam istirahat kedua berkumandang, Sam melipir ke luar pagar belakang sekolah. Di bawah rindangnya pohon asam yang sejuk, biasanya sudah standby sepeda ontel tua milik Bang Joko. Pria itu adalah pedagang asongan langganan anak-anak nakal yang suka jajan sembarangan. Bang Joko menjajakan segala jenis harta karun anak SD: dari tato hadiah jajanan, baling-baling plastik, stiker gulat, sampai gambaran bergambar monster.
"Oi... Den Samsul! Mau borong apa hari ini, Den?" sapa Bang Joko riang sambil menyeka keringat di dahinya dengan kain lusuh.
Sam mendengus sambil bersedekah tatapan tajam pada pria setengah baya itu. "Sekali lagi Abang manggil gue Samsul, Abang gue pecat jadi temen ya!"