Kalau ada satu nama di muka bumi ini yang ingin Muti coret dari silsilah sejarah manusia, nama itu adalah Samudra. Atau, sebagaimana dia dulu memanggilnya dengan nada mengejek: Samsul.
Di tengah riuhnya reuni akbar angkatan sekolah yang makin malam makin terasa seperti ajang pamer pencapaian, Muti sengaja bersembunyi di balik pilar dekat meja penutup. Ia sedang sibuk mengunyah piring kedua puding cokelat ketika tiba-tiba suara dengusan napas dan gelak tawa teman-teman lamanya terdengar dari arah pintu masuk.
"Oi, Samudra! Akhirnya datang juga si bos besar!"
Muti hampir saja tersedak gumpalan puding di tenggorokannya. Ia menoleh perlahan, dan dadanya mendadak rasanya seperti dihantam godam. Pria yang baru saja melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap dan senyum percaya diri itu tidak lain adalah Samudra. Lelaki yang dulu menjadi musuh bebuyutannya, biang kerok dari segala kejahilan tingkat tinggi, dan manusia yang paling bertanggung jawab atas trauma masa kecilnya.
Sekarang Samsul tumbuh menjadi pria yang tinggi, tampan, dan kelihatan sangat kaya. Namun bagi Muti, di balik penampilan mentereng itu, ia tetaplah bocah tengil yang dulu hobi membuat hidup Muti seperti neraka kuis interaktif yang tak pernah ada pemenangnya.
Muti meraba dadanya, memutus kontak mata, lalu merutuk dalam hati.
Ia merapatkan tubuhnya ke balik pilar, berusaha membaur dengan tiang beton seolah-olah ia adalah bagian dari arsitektur gedung. Puding cokelat di piringnya mendadak kehilangan rasa manis. Kenangan pahit di tengah lapangan, dan sorakan "Muti tai ayam" mendadak berputar ulang di kepalanya seperti film horor.
Muti berniat melipir pelan-pelan menuju pintu toilet. Persetan dengan acara tukar kado atau sesi foto bersama. Keselamatan jiwa, raga, serta harga dirinya jauh lebih penting daripada pamer kenangan sekolah. Ia melangkah perlahan, mengendap-endap di antara kerumunan alumni yang sedang asyik bernostalgia, lalu melesat masuk ke koridor toilet wanita.
Banyak hal yang bisa kau lakukan di dalam toilet: touch up, gunting kuku, yoga, tidur, dan memikirkan seseorang—seperti yang saat ini sedang dilakukan oleh Muti sambil duduk bersedekap di atas kloset tertutup.
Bagaimana cara menjelaskan sosok Samudra dewasa sekarang? He is basically a perfect man. Tall, not too muscular, a 4-pack, kinda athletic, strong jaw, high cheekbones, masculine, easy-going type, bad boy look, lovely eyes, nice smell, and etc...
Membutuhkan lebih banyak bab untuk menjelaskan seorang Samudra daripada sejarah Perang Dunia. Dia adalah satu dari sedikit pria sempurna yang didatangkan Tuhan dari surga dan akan sangat susah kau temui di bumi. Ya, terdengar berlebihan memang, tapi coba saja berdiri di dekatnya, kau pasti akan tersihir dan rela mengikutinya ke mana pun ia pergi.
Dan Samudra Effect itu sama sekali tak berkurang sedikit pun sejak terakhir kali dilihatnya sepuluh tahun yang lalu. Di usianya yang kini dua puluh enam tahun, pria itu justru semakin mempesona.
He is too damn hot.
Tiba-tiba suara derap langkah kaki dan obrolan nyaring dua orang wanita masuk ke dalam toilet, memutus lamunan Muti.
"Oh my God. Lo tahu enggak sih, Dwi? Tadi Sam masih ingat gue! Dia bahkan ngajakin gue pulang bareng. What should I do? What should I do?"
"Apa? He did?"
"Beneran!"