Samudra tidak pernah mengerti kenapa orang-orang dewasa bilang masa kecil adalah masa yang paling membahagiakan. Menurutnya, masa kecil itu penuh penderitaan—terutama penderitaan karena harus menghadapi kenyataan saat Muti mengabaikannya.
Pagi itu, sinar matahari baru saja menembus celah-celah jendela kelas V-A. Samudra sudah duduk rapi di mejanya. Di tangannya, ada sebuah pensil yang sudah diraut sangat tajam dan selembar kertas lipat warna merah.
"Lo mau ngapain lagi, Sam?" tanya Afif yang baru datang dan melempar tas karakternya ke atas meja. "Kemarin kan lo udah dihukum berdiri di depan tiang bendera gara-gara Muti kuning tai ayam."
Sam menatap Afif dengan pandangan meremehkan. "Itu kemarin, Fif. Strategi perang itu harus berkembang. Perwira sejati enggak boleh pakai jurus yang sama dua kali."
"Alah, perwira matamu! Nanti lo dipanggil ke ruang BK lagi, lho!" cibir Afif sambil mengeluarkan buku tulisnya.
Sam tidak peduli. Ia punya misi baru yang jauh lebih krusial. Sejak kejadian rautan kaca Bang Joko tempo hari, Muti benar-benar menutup diri. Gadis itu sekarang kalau berjalan selalu menempel di tembok, seperti cicak raksasa yang takut diincar predator. Muti juga menolak bicara padanya, bahkan sekadar memanggilnya "Samsul" pun tidak mau lagi. Dan bagi Sam, didiamkan oleh Muti itu... bencana.
Saat jam istirahat tiba, Sam langsung ngacir menuju gerbang belakang. Seperti biasa, Bang Joko sudah bersiap dengan sepeda ontel kebanggaannya yang sarat dengan barang-barang tidak penting tapi sangat menggoda bagi anak SD.
"Eh, Den Samsul!" sapa Bang Joko gembira. "Gimana ilmu dari Abang kemarin? Sukses besar, kan?"
"Sukses matamu, Bang!" protes Sam sambil menatap sinis. "Saya hampir dikorbankan jadi santapan Muti gajah! Mana sekarang dia enggak mau ngomong sama saya lagi!"
Bang Joko terkekeh sampai kumis tipisnya bergoyang. "Yah, Den... Itulah yang namanya perjuangan. Dulu Abang pas nyuri celana dalam aja harus dikejar warga sekampung."