Hanya karena berada di satu rumah sakit yang sama, bukan berarti Muti dan Samudra bisa sering bertemu. Gedung poli perawat tempat Muti bertugas terletak di sayap belakang rumah sakit. Tugasnya sebagai asisten perawat membuatnya setiap hari harus berhadapan dengan layar komputer, mengurus administrasi medis, dan bolak-balik mengantarkan hasil rekam medis ke setiap ruang poli.
Sementara Samudra—dokter spesialis bedah baru yang tampaknya langsung jadi idola di rumah sakit—jarang sekali terlihat di sayap belakang. Ruang praktiknya ada di gedung VIP bagian depan, dan ia lebih sering bertugas di ruang operasi atau dinas luar ketimbang bersantai di poli. Hal itu membuat Muti sangat bersyukur karena tak perlu melihat wajah "Samsul" yang memancing emosi itu setiap hari.
Genap seminggu sejak Samudra resmi bergabung di rumah sakit ini. Gosip yang beredar di antara para perawat, Dokter Samudra ini baru saja dimutasi atau "didepak" dari rumah sakit besar di Jakarta. Masalahnya apa, tidak ada yang tahu pasti, tapi konon penyebabnya karena ia melawan perintah kepala divisi medis. Menurut Muti, gosip itu sangatlah mengada-ada. Samudra yang ia kenal sejak kecil bukanlah anak yang patuh, tapi untuk urusan karier, wajah santai dan sikap sok keren itu menandakan betapa tidak punya perasaannya dia. Hatinya terbuat dari kaleng rombeng yang tak berguna untuk menampung jenis perasaan apa pun.
Muti ingat betul momen briefing direksi seminggu lalu. Waktu itu ia tak ambil pusing ketika mendengar ada pergantian dokter spesialis baru. Namun, saat melihat nama dr. Samudra Rajendra, Sp.B tertera di lembar pengumuman, Muti baru berseru kaget. Nama yang menghantuinya sejak SD itu kembali hadir dalam hidupnya.
Kenapa?
Bagaimana?
Untuk apa lelaki itu harus muncul lagi?
Ini bukan soal mantan pacar atau trauma cinta berdarah-darah. Ini soal kenyataan bahwa Samsul adalah biang kerok dari segala penderitaan dan traumanya di masa lalu.