Mutiara Samudra

ayu melati
Chapter #7

GOSIP DI MEJA KANTIN

​"Gila ya, Dokter Samudra. Visualnya bener-bener enggak main-main."

​Kartika meletakkan sendoknya dengan helapan napas dramatis. Suara denting logam yang beradu dengan piring melamin mengudara di tengah riuhnya suasana kantin rumah sakit saat jam istirahat makan siang. Suhu udara luar yang menyengat seolah tak ada artinya dibanding kehebohan yang dibawa oleh topik pembicaraan hangat di meja mereka.

​Mata Muti sendiri sibuk menatap layar TV gantung di dekat tiang kantin yang menayangkan acara komedi siang. Ketika Kartika membicarakan soal betapa tampannya dokter bedah baru itu, kebetulan pelawak di TV sedang melemparkan punchline, memberi Muti alasan sempurna untuk tertawa lebar—menutupi kenyataan bahwa ia sebenarnya menertawakan betapa menyebalkannya fakta yang diucapkan teman kerjanya itu.

​Tampan? Iya, fakta. Tapi tengil dan gila? Lebih dari fakta!

​Mana ada pria waras yang baru bertemu lagi setelah belasan tahun, lalu tiba-tiba melontarkan ajakan nikah kontrak dengan raut muka tenang seolah sedang menawarkan menu makan siang?

​"Tapi yang heran, kok pria sekelas dia belum ada yang punya ya? Kaya, dokter spesialis, muka cakep... biasanya stok begitu udah disikat orang dari zaman kuliah," cerocos Ainun, perawat junior yang duduk di sebelah Muti, sembari mengaduk es tehnya hingga bunyi es batu beradu terdengar nyaring.

​"Orang ganteng mah bebas, Nun. Bebas pilih," celetuk Kartika lagi sambil mengunyah kerupuk.

​Di kalangan perawat poli, Muti dan Kartika yang berumur dua puluh enam tahun sering dianggap sebagai deretan 'senior santai' yang belum kebelet nikah, beda dengan adik-adik tingkat mereka yang baru berumur dua puluhan awal tapi sudah panik tiap kali ditanya pacar. Bagi Muti, hidup tenang tanpa drama percintaan sudah cukup membahagiakan, sebelum sosok pria dari masa lalunya itu mendadak muncul dan mengacaukan segalanya.

​Tak berapa lama, suasana kantin yang tadinya mulai tenang mendadak riuh kembali oleh bisik-bisik dari meja lain.

​Samudra muncul di pintu kantin. Ia tak sendirian, ada seorang dokter spesialis muda bersamanya, wanita paling cantik yang pernah dilihat Muti di rumah sakit ini. Rambut panjangnya berayun seiring langkahnya yang anggun dan percaya diri. Jas laboratorium putihnya terpasang pas di tubuhnya yang proporsional. Senyum yang tak berhenti diberi kepada Samudra menandakan kalau rekan sejawatnya itu tengah tergila-gila kepada sang dokter bedah yang baru pindah tersebut.

​Kepala-kepala di kantin kembali merapat, kali ini Muti yang jadi pendengar.

​"Siapa tuh?" tanya Si K. Bukan Kartika, karena Kartika tampak tak peduli dan matanya sibuk memperhatikan sekelompok dokter pria yang sedang makan di seberang ruangan.

Lihat selengkapnya