Mutiara Samudra

ayu melati
Chapter #8

ES GABUS YANG MENCAIR

"Pagi, Samsul!" sapa Afif riang yang sedang memutar gasing kayu kesayangannya di atas meja belakang. Suara derit kayu dan putaran gasing itu menggema tipis di antara keriuhan murid-murid lain yang baru berdatangan.

Samudra mendengus pelan, bersedekah tatapan paling tajam yang sanggup ia berikan pada sahabatnya itu. "Sekali lagi lo panggil gue Samsul, gue keluarin lo dari geng cowok keren ya!"

Ia mengabaikan Afif lalu melangkah santai menuju sudut kanan barisan kedua—tempat di mana seorang anak perempuan biasanya sudah duduk cemberut sambil sibuk meraut pensil atau menyalin catatan pelajaran hari kemarin. Samudra sudah menyiapkan deretan kalimat ejekan yang siap dilontarkan untuk memancing kemarahan gadis itu.

Namun, langkahnya terhenti. Tas kain bergambar bunga milik Muti yang biasanya tersangkut di sandaran kursi sama sekali tidak ada di sana. Meja kayu itu bersih, licin, dan tidak menunjukkan jejak keberadaan gadis kecil itu sedikit pun.

"Oi, Muti mana? Belum datang dia?" tanya Samudra dengan nada sok acuh, berusaha menutupi rasa penasaran yang tiba-tiba membuat dadanya agak gatal dan gelisah. Ia melangkah menghampiri meja Afif, lalu duduk bertengger di atasnya seperti biasa.

Afif menghentikan putaran gasingnya dengan telapak tangan. Ia mendongak, menatap Samudra dengan pandangan serius yang seketika membuat cengiran di wajah Samudra perlahan memudar.

"Muti ga bakal datang, Sam," ujar Afif datar.

Samudra terkekeh sumbang, menyilangkan tangan di depan dada untuk menyembunyikan getaran asing di jemarinya. "Kenapa? Sakit perut lagi gara-gara kebanyakan makan?"

"Gue serius, Lo kan absen habis kejadian estafet waktu itu." Potong Afif tegas. Tak ada nada bercanda sedikit pun di raut wajahnya yang biasa jenaka. "Kemarin ayahnya Muti datang ke sekolah ngurus surat kepindahan. Ayahnya dapat mutasi kerja. Pak Guru bilang, Muti udah resmi berhenti sekolah mulai hari ini."

Jantung Samudra serasa melompat turun. Suaranya mendadak memelan, "Pindah ke mana? SD mana?"

"Gue ga tahu. Muti ikut ayahnya ke luar pulau," jawab Afif pendek, lalu kembali membereskan gasingnya ke dalam tas.

Jemarinya secara refleks meraba bagian bawah tas sekolahnya yang menggembung. Di dalam sana, es gabus rasa cokelat yang dibelinya tadi pagi perlahan mulai mencair, membasahi dasar tas kainnya dan menembus hingga ke seragamnya.

Samudra merogoh isi tasnya dengan kasar. Ia mengeluarkan bungkus es yang sudah membasah beserta sebuah toples bening.

Lihat selengkapnya