Mutiara Samudra

ayu melati
Chapter #9

PANGGILAN SINTING

​Muti hampir saja membanting ponselnya ke atas meja administrasi poli saat melihat dua belas pesan singkat beruntun dari nomor tak dikenal yang masuk hanya dalam rentang waktu sepuluh menit.

​"Ayo nikah."

​Isi pesannya cuma itu. Diulang-ulang tanpa variasi, persis seperti mantra pesugihan yang sedang dipaksa masuk ke kepalanya secara paksa. Muti tidak perlu berpikir dua kali untuk menebak manusia berotak udang mana yang berani mengiriminya spam ngawur sejenis ini di tengah jam kerja.

​"Pasti Afif yang kasih nomor gue," gerutu Muti sambil mengutuk sahabat lamanya itu dalam hati. Siapa lagi alumnus SD mereka yang masih menyimpan kontaknya dan cukup kurang pekerjaan untuk membagikan nomor teleponnya selain Afif?

​Sore ini Muti sedang menghadapi sif kerja yang sangat memutar otak dan menguras tenaga. Sebagai asisten perawat, ia harus memproses puluhan lembar berkas rekam medis, menginput data pasien VIP yang serba rewel, hingga bolak-balik mendorong troli besi berbobot belasan kilogram dari lantai satu ke lantai tiga. Sewaktu jam istirahat tiba, Muti baru sempat menyalakan ponselnya, dan langsung dibuat naik darah oleh kelakuan ajaib Samsul.

​Belum sempat Muti memblokir nomor tersebut, layar ponselnya mendadak berkedip cepat. Sebuah panggilan masuk memotong niat mulianya. Nama 'Samsul Sialan' yang baru saja ia simpan dengan rasa jengkel terpampang jelas di sana.

​"Lo mau mati?!" Muti tak segan langsung membentak begitu menempelkan ponsel ke telinganya, tidak peduli beberapa perawat lain di selasar sempat menengok kaget mendengar suaranya yang melengking.

​"Ayo kita nikah," sahut suara santai di seberang sana tanpa rasa bersalah sedikit pun, terdengar seolah ia baru saja mengajak Muti membeli es teh di kantin.

​"Mati aja lo!"

​"Try me."

​"Stop ganggu gue, Samsul!"

​"Kenapa?"

Lihat selengkapnya