Mutiara Samudra

ayu melati
Chapter #10

SANG KARMA BERBAJU BIRU

(Tiga bulan sebelum Samudra resmi pindah tugas & sebelum acara reuni)

Kali ini ia tak menutupi dirinya. Matanya terang-terangan melihat dan menilai. Dokter Senior Hendra tidak bercanda—Mutiara Yunita, cewek yang dulu paling hobi ia usili sampai menangis raung-raung di tengah lapangan, betulan ada di sini. Di dekatnya. Sangat dekat.

Samudra cukup dewasa untuk tidak bertingkah malu-malu layaknya anak kecil yang baru mengenal lawan jenis. Ia adalah pria dewasa yang tidak suka menunggu jika pilihan lainnya adalah tenang lalu diam-diam menyerang. Jika Muti mengangkat kepala lalu mata bertemu mata, Samudra tak akan lari.

Hari ini adalah hari pertamanya mengurus berkas kepindahan di tempat tugasnya yang baru. Tiga bulan lagi ia akan resmi masuk, meninggalkan rumah sakit lama di Jakarta dan semua hal yang berkaitan dengannya, jauh di belakang, tanpa ada yang perlu dikenang. Ia baru saja keluar dari ruangan Dokter Hendra, senior medis yang paling dihormatinya. Samudra bersyukur karena akan bertugas di rumah sakit yang sama, sekaligus dibuat terkejut saat Dokter Hendra memberikannya sebuah informasi tak terduga.

"Cewek yang dulu kamu godain pakai rautan pas SD, dinas di sini juga. Jadi asisten perawat di sayap belakang. Dia udah berubah banyak, Sam. Aku bertaruh, kamu bakal dibuatnya bertekuk lutut." Beliau menepuk bahunya dan berkata, "Selamat menikmati karmamu."

Sebentar lagi ia akan dimutasi dan merasa perlu persiapan mental menghadapi lingkungan baru. Untuk itulah ia sengaja menemui Dokter Hendra untuk mendapatkan sedikit wejangan, tapi kalimat terakhir yang terlontar dari mulut beliau justru membuatnya bertanya-tanya: apa benar sebentar lagi ia akan termakan karma atas kelakuannya sendiri?

Keluar dari ruangan Dokter Hendra, Samudra kepikiran untuk lewat koridor belakang, karena lebih dekat menuju area parkir VIP, namun lebih kecil kemungkinan berpapasan dengan direksi lain. Ketika akan berbelok menuju koridor sayap belakang, langkahnya terhenti. Sang karma pelan-pelan mulai mendekatinya.

Di sana, terpisahkan oleh sebuah taman dalam yang asri, Muti ada di seberang, di sebuah jalan setapak berlantai keramik, sedang berjalan santai dengan mata yang tak lepas dari tumpukan berkas rekam medis di tangannya. Apa yang telah menarik perhatiannya sampai begitu fokus? Berkas pasien VIP? Laporan medis yang menumpuk? Ataukah ia sedang merutuki jadwal sif malamnya yang padat?

Samudra tersenyum. Hatinya tiba-tiba menghangat. Debaran di jantungnya terasa lebih cepat. Dokter Hendra benar, ia seperti mendapatkan sebuah kado dan akan dibuat terkejut oleh isi di dalamnya.

Banyak yang berubah. Semuanya—atau paling tidak fisiknya. Ia tak menemui lagi Muti dengan pipi bulat bakpao dan seragam SD yang kesempitan. Ia tak menemui lagi rambut kotak kering dan wajah bulatnya. Helaian halus dan hitam lebat itu hampir menyentuh pundaknya, jatuh di pipinya pada wajah berbentuk hati.

Ia bergairah pada tubuh sintal menggoda dan perempuan itu punya semua yang disukainya. Coba lihat pinggulnya, berayun menggoda seiring langkah kakinya yang mantap. Buah dadanya menyerobot perhatian, mendesak maju seragamnya yang dijahit pas badan, dan kakinya yang indah itu terlihat pas jika memeluk pinggangnya di saat mereka bercinta kelak.

Perempuan itu berbelok menuju selasar poli, Samudra mengikutinya dari seberang taman. Koridor beratap itu sama panjangnya dengan jalan yang dilalui Muti. Di antara langkahnya, sesekali Samudra melirik ke samping, kepada Muti yang masih tak paham kalau ia tengah dinilai oleh seorang pria. Muti begitu sibuk dengan dunianya sendiri, membiarkan fokusnya dimakan oleh tumpukan kertas medis di tangannya.

Samudra menghentikan langkahnya, membiarkan wanita itu melaluinya begitu saja dan menjauh pergi. Membiarkan dirinya berkelana dengan dugaan-dugaan seperti apa Mutiara dalam diri seorang wanita dewasa dan apa yang harus diperbuatnya jika mereka benar-benar bertatap muka nanti.

Tapi Samudra yakin akan sebuah hal: Mutiara adalah malapetaka yang manis, dan ia tak sabar ingin mencicipinya.

Lihat selengkapnya