Pukul sembilan malam tepat. Suasana ners station sedang berada di puncak kesibukan. Sif sore dan sif malam berkumpul mengelilingi meja utama untuk operan jaga. Suara lembar rekam medis beradu dengan laporan kondisi pasien dari perawat senior. Muti berdiri di sudut meja, tangannya sibuk mencatat instruksi cairan infus, berusaha memfokuskan otaknya yang sudah tinggal lima persen.
Namun, fokus itu hancur total saat langkah kaki berirama santai menggema dari arah koridor utama.
Aroma maskulin yang familier menyeruak lebih dulu, menyapu bau antiseptik yang memenuhi ruangan. Seluruh perawat yang sedang operan mendadak menghentikan kalimat mereka. Suara pengetikan keyboard terhenti.
Samudra berdiri di sana.
Pria itu masih mengenakan jas putih dokternya yang tidak dikancingkan, memperlihatkan kemeja hitam di dalamnya dengan lengan yang tergulung rapi sampai siku. Tangannya terbenam santai di saku celana. Ketampanannya yang kelewat mencolok di bawah lampu neon dingin rumah sakit sukses membuat beberapa perawat junior mendadak lupa cara bernapas.
"Selamat malam," sapa Samudra dengan suara beratnya yang tenang, mengumbar senyum tipis yang sanggup melumpuhkan pertahanan siapa pun. "Maaf mengganggu proses operan jaganya sebentar."
"EhâDokter Samudra!" Kepala Perawat sif malam langsung membetulkan posisi jilbabnya, memasang wajah paling ramah. "Ada yang bisa dibantu, Dokter? Ada instruksi medis susulan untuk pasien VIP?"
"Bukan," jawab Samudra santai. Matanya yang tajam bergulir perlahan, mengabaikan belasan pasang mata yang menatapnya kagum, lalu terkunci tepat pada Muti yang sedang berdiri mematung dengan pulpen terangkat di udara.
Kartika dan Ainun yang berdiri di samping Muti saling sikut sengit. Mata Kartika membelalak lebar, mengisyaratkan godaan penuh arti yang membuat Muti ingin menghilang saat itu juga.
Muti merasakan gelombang dingin merambat dari telapak kakinya langsung menuju kepala. Manusia gila ini...
"Saya cuma mau menjemput calon istri," ujar Samudra tanpa beban, melangkah pelan mendekati meja administrasi tempat Muti berdiri.
BOM!
Ruangan ners station yang tadinya riuh langsung hening total. Keheningan yang begitu pekat hingga suara mesin pendingin ruangan mendadak terdengar amat nyaring.
Piring plastik berisi sisa kue di meja operan hampir saja tersenggol tangan Ainun yang membeku. Kepala Perawat mengedipkan matanya berkali-kali, mulutnya ternganga kecil seolah baru saja mendengar vonis medis paling kontroversial abad ini. Kartika menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, menatap Muti dan Samudra bergantian dengan pandangan tak percaya.
"Ca... calon istri?!" bisik salah satu perawat junior dengan nada melengking kaget, menatap Muti seolah wanita itu baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah.