Mutiara Samudra

ayu melati
Chapter #13

TERJEBAK BERSAMA PENCURI

Dua kantong plastik besar di genggaman Muti berderit pelan saat ia membuka pintu kaca minimarket dua puluh empat jam di tepi jalan lintas provinsi. Udara malam yang dingin membelai kulit wajahnya. Muti merengkuh belanjaannya—dua bungkus besar keripik, tiga cokelat batang, dan beberapa kaleng soda dingin—seperti memeluk amunisi perang.

​Ia butuh gula, kafein, dan micin dalam kadar berbahaya untuk bertahan hidup di samping pria yang kini duduk di balik kemudi sedan mewah di seberang pelataran parkir.

​Langkah kaki Muti yang menggeser kerikil membawa ingatannya melayang ke momen saat langit pagi masih berwarna kelabu pekat.

​Pukul lima pagi lewat sedikit. Muti melangkah gontai menyusuri koridor sayap belakang yang membeku oleh bau antiseptik. Langkah kakinya terseret, kelopak matanya seberat cicilan tiap bulan, dan fungsi otaknya berada di titik terendah. Malam itu, usai konfrontasi di tepi jalan raya, Samudra memang mengantarnya pulang ke kosan. Namun Muti sama sekali tak bisa memejamkan mata semalaman—terjepit di antara amarah yang masih membakar dada serta kelelahan fisik dan mental yang terkuras habis.

​Saat ia baru saja mendaratkan tubuh di kursi ners station yang sepi—sengaja datang kelewat pagi demi menghindari tatapan selidik dan bisik-bisik dari rekan sejawatnya akibat kelakuan Samudra semalam—Kepala Departemen Keperawatan mendadak memanggilnya ke ruangan. Beliau menyerahkan sebuah map berkas tanpa banyak dinamika: Muti ditunjuk secara resmi sebagai perwakilan asisten perawat untuk mendampingi delegasi dokter di acara Simposium Kesehatan Nasional di luar kota yang berangkat pagi ini juga.

​Dalam kondisi kesadaran yang terombang-ambing antara emosi yang belum tuntas dan kantuk berat, Muti hanya mengangguk patuh. Kalimat seperti "berangkat jam enam tepat" dan "tunggu di selasar VIP" masuk ke telinga kanan lalu menguap begitu saja. Muti terlalu lelah untuk memproses siapa dokter yang dimaksud—pikirnya, siapa pun dokter itu, ia hanya perlu menjalankan tugas secara profesional dan memejamkan mata sepanjang perjalanan.

​Namun nyatanya, takdir punya cara yang cukup brutal untuk mempermainkannya.

​Asumsi naif itu hancur lebur menjadi debu tepat di depan selasar VIP. Saat Muti menyeret kakinya mendekati sedan hitam mentereng yang terparkir rapi, kaca jendela mobil turun perlahan tanpa suara. Dari balik kemudi, sosok dr. Samudra Rajendra, Sp.B. terpampang nyata, menatap Muti lurus-lurus dengan kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya.

​Kesadaran Muti seketika melonjak seratus persen. Nyawanya yang tadi masih tertinggal di lorong kosan rasanya mendadak melesat kembali masuk ke dalam tubuh dengan cara paling menyakitkan.

​"LO?! KENAPA HARUS LO LAGI SIH?!" cecar Muti dengan nada tertahan namun tajam, tangannya refleks meremas tali tas sampai buku-buku jarinya memutih. "Gue balik ke ruangan sekarang. Gue mau minta ganti jadwal!"

​Muti baru saja hendak memutar tubuhnya, namun suara tenang Samudra memutus langkahnya dengan sangat telak.

​"Silakan," sahut Samudra santai, menurunkan sedikit kacamatanya dan menatap Muti dari balik lensa gelap. "Jadi kamu lebih memilih kembali ke ruangan, dikerubungin sama para perawat buat meminta kejelasan soal semalam? Yakin sanggup meladeni mereka seharian ini?"

​Muti memutar tubuhnya cepat, mengepalkan tangan di samping paha. "Lo sengaja, kan? Lo manfaatkan posisi lo buat jebak gue?"

​Samudra kembali memperbaiki posisi duduknya, menatap Muti dengan ketenangan yang menyebalkan. "Masuk, Mutiara. Atau... kamu mau aku gendong masuk ke dalam mobil?"

​AARRGH!

​Dengan gerak tubuh kaku dan gigi merapat menahan muak, Muti menarik pintu mobil dengan sentakan kasar, menjejalkan dirinya ke kursi penumpang tanpa menatap pria itu sedikit pun.

​Samudra menatap dua kantong belanjaan berukuran jumbo itu, lalu beralih menatap Muti dengan sebelah alis terangkat heran. "Kamu kesetanan? Itu perut apa karung beras? Kamu yakin sanggup ngabisin semua makanan itu sendirian?"

​Muti mendengus pedas sambil menyandarkan punggungnya ke kursi empuk. "Kenapa? Kemampuan finansial seorang dokter spesialis bedah kondang terancam bangkrut cuma gara-gara belanjaan gue?"

​Samudra terkekeh renyah, menyandarkan sikunya di kemudi sambil menatap Muti dengan binar mata yang kelewat tengil. "Ya enggaklah. Uangku jangankan cuma buat beli ciki dua kantong, buat menghidupi bahtera pernikahan kita sampai anak cucu nanti juga kagak bakal habis, Muti sayang."

​CYURRR!

Lihat selengkapnya