Mutiara Samudra

ayu melati
Chapter #14

DUA PASANG MATA

Hubungannya dan Samudra tidak beranjak ke mana pun setelah insiden pencurian ciuman di tengah kemacetan malam itu. Mereka tetap bersikap profesional—atau setidaknya berusaha keras terlihat seperti dokter spesialis bedah dan asisten perawat. Memasuki pertengahan bulan, jadwal operasi dan tugas dinas Samudra berdatangan seperti tak ada habisnya, membuat pria itu lebih sering mengurung diri di ruang bedah atau ruang praktiknya. Muti melampiaskan rasa gelisahnya dengan melahap tumpukan berkas rekam medis dan menyibukkan diri di ruang asisten poli. Sebab jika ia tetap sibuk, bayangan wajah tengil Samsul bisa teralihkan dari kepalanya.

​Nyatanya tidak. Di sela-sela mengistirahatkan mata dari layar monitor administrasi, bayangan Samudra muncul tiba-tiba dalam benaknya—bertelanjang dada di bawah lampu minimarket sambil menawarkan senyum beracun yang menyebalkan. Di lain waktu, ingatan masa kecil mereka berkelebat: Samsul datang membawa cengiran sok jagoan yang mendadak berubah manis saat menyodorkan es gabus. Muti tak bisa lagi membedakan rasa benci murni dan desiran aneh di dadanya. Apa yang terjadi di antara dirinya dan Samudra terasa begitu konyol, persis seperti skenario novel romansa picisan yang pernah dibacanya.

​Samudra baru kembali ke rumah sakit setelah makan siang, melangkah terburu-buru masuk ke ruang praktiknya dan tak muncul-muncul lagi. Sore datang, dan beberapa asisten poli sif siang mulai membereskan meja siap-siap untuk operan jaga. Muti harus menyerahkan beberapa berkas risalah simposium yang butuh tanda tangan dokter bedah itu sebelum jam dinasnya usai.

​Muti mengetuk pintu lalu melangkah masuk. Di dalam ruangan mahogani yang hening itu, Samudra tampak sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen medis. Tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya, pria itu hanya mengisyaratkan Muti untuk meletakkan semua berkas di pinggir meja.

​Merasakan perlakuan dingin yang kelewat formal itu, Muti mendadak jengkel. Kentara sekali kalau desiran halus dan rasa penasaran yang sempat mengutak-atik pikirannya seharian ini sama sekali tak terbalas.

​Samsul sialan! batinnya jengkel.

​"Taruh saja di ujung meja," cetus Samudra tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor.

​Muti mendengus pelan.

​"Saya permisi, Dok," pamit Muti singkat.

​"Besok kamu saya tunggu di gerbang depan pukul delapan," tahan Samudra, masih tanpa mengangkat kepalanya.

Lihat selengkapnya