Anak-anak di sekolah memang memanggilnya Muti. Teman-teman sekelas yang memenuhi ruang kelas tiga SD juga menyapa dengan nama itu, bahkan guru-guru pun seolah terbiasa menyebutnya begitu ketimbang nama lengkapnya yang tertera di buku induk siswa. Tak tahu siapa yang pertama kali menyematkan panggilan singkat itu—mungkin bermula dari ketidaksengajaan saat pendaftaran murid baru. Tak ada catatan sejarah atau prasasti yang terukir di papan tulis, pokoknya ia dipanggil Muti, titik.
Candaan tentang betapa miripnya ia dengan pacar Boboho berubah menjadi ejekan rutin jika ia lewat di depan anak-anak laki-laki yang sedang mengaso di bawah pohon beringin pinggir lapangan sekolah setelah selesai pelajaran olahraga. Mereka—terutama Samudra dan komplotannya—meyakinkannya untuk tidak lekas jemawa, karena pacar Boboho yang mereka maksud bukanlah gadis manis berambut hitam panjang, melainkan anak perempuan pendek bulat dan berambut kotak, yang riang walaupun sering disia-siakan dan diusili.
Muti sebenarnya tak peduli karena ia memang jarang mematut diri di cermin ataupun menyisir rambutnya yang kaku. Tetapi karena ia harus melewati gerombolan anak-anak usil itu setiap kali berjalan menuju kantin atau saat jam istirahat tiba, tak pelak membuat dirinya gusar juga. Bukan semata karena diledek sebagai anak perempuan berpipi bulat bakpao, melainkan karena gurauan tersebut tak pernah berganti dengan hal baru—itu-itu saja yang diulangi Samudra dan teman-temannya di sepanjang tahun ajaran.
Muti menghentikan langkahnya tepat di bawah naungan pohon beringin, menatap Samudra yang sedang mengunyah es lilin dengan cengiran sok jagoan.
"Muti! Jangan lari-lari gitu dong, ntar bumi bergoyang terus gempa skala besar!" teriak Samudra setengah tertawa, melambai-lambaikan tangannya seolah-olah tanah di sekitarnya benar-benar sedang bergetar hebat.
"Enggak usah lebay lo!" semprot Muti sambil menunjuk muka Samudra dengan penggaris plastik yang dibawanya. "Muka lo tuh yang bikin bumi mau kiamat!"
Samudra bukannya kapok, justru terkekeh renyah sambil melempar bungkus es lilinnya ke dalam tempat sampah. "Lah, kan aku cuma mengingatkan. Bahaya kalau kamu lari-lari, semua anak se-SD bisa ikut kehempasan!"
Anak-anak laki-laki di sekeliling Samudra bersorak gembira memanasi suasana. Muti mengepalkan tangannya kuat-kuat, dadanya naik-turun menahan dongkol. Di matanya saat itu, Samudra adalah musuh abadi yang paling ingin ia singkirkan dari peta kehidupan sekolahnya.
Enggan melayani lelucon konyol itu lebih lama, Muti akhirnya memutar badan dan memilih melangkah pergi—meski pada kenyataannya, pandangannya tak pernah benar-benar bisa lepas dari cowok itu.
"Ngapain lo ngintip-ngintip dari balik pohon?" tegur Afif tiba-tiba, muncul dari belakang dengan bola plastik terapit di pinggangnya.
Muti tersentak kaget, buru-buru membenarkan posisi berdiri dan berusaha bersikap biasa saja. Matanya yang tadinya tak berkedip menatap Samudra yang sedang bermain di tengah lapangan sekolah kini mencoba mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
Afif menyipitkan mata, lalu menyeringai mengejek setelah paham apa yang sebenarnya terjadi. "Alah, ngeles aja lo! Mata lo tuh udah kayak mau copot ngeliatin Samudra dari tadi."
Afif memutar bola matanya jengah, menatap Muti dengan raut malas. Ia sudah bosan setengah mati melihat Samudra yang hobi sekali menjadikan Muti bahan lelucon, dan lebih heran lagi melihat Muti yang terus-terusan melayani kejahilan cowok itu. Seolah tak ada hal lain yang lebih menarik untuk dilakukan.
Mengalihkan fokusnya, Afif memutar bola plastik di tangannya, lalu memanggil Samudra dari pinggir lapangan dengan nada santai—seolah-olah ia hanya ingin menghabiskan sisa jam istirahat.
"Sam! Daripada lo sibuk ngelawak, mending masuk lapangan aja, deh. Tim gue kekurangan orang nih, berani adu penalti enggak?"