"Apa lo tahu hari apa hari ini?! Ini hari Minggu, sialan! Hari istirahat! Hari santai! Hari untuk menyegarkan pikiran setelah seminggu penuh lo peras sebagai asisten poli! Dan itu juga berlaku untuk gue!" amuk Mutiara, suaranya melengking memenuhi kabin Jeep Wrangler Samudra.
"Dan lo merusaknya hanya dalam satu tarikan napas! Kurang ajar! Brengsek! Seharusnya hari ini gue punya janji untuk bersantai, tapi karena ulah sinting lo ini, semuanya batal! Dan ini balasan yang gue dapat?! Apa?! Lo malah menyamakan usaha gue buat tidur seharian dengan kemalasan?! Bangsat jahanam!"
Napas Mutiara terengah-engah, dadanya naik-turun menahan lahar amarah. Namun, ia masih berusaha mengeluarkan makian terbaiknya pada Samudra yang duduk santai di kursi pengemudi dengan sikap tenang tak terpengaruh.
Memang manusia luar biasa jahat, iblis berwujud manusia!
Gemas karena diabaikan, Mutiara melayangkan pukulan bertubi-tubi pada pintu mobil, dashboard, lalu lengan tegap Samudra yang berotot. Tidak ada satu pun dari ketiganya yang mengaduh kesakitan—hanya menyisakan rasa panas pada buku-buku tinjunya sendiri, dan hal itu justru membuat amarah Mutiara semakin membakar dada.
Samudra terkekeh tanpa dosa, lalu menyalakan mesin mobil dan perlahan keluar dari area tempat tinggal Mutiara. Pria itu berkendara dengan santai, ditemani 'nyanyian' mulut kasar Muti yang tiada henti menyumpah-nyumpah di sepanjang jalan.
Setelah Muti akhirnya kehabisan napas dan memilih diam bersedekap dengan muka ditekuk, Samudra membawanya ke sebuah kawasan komersial yang terkenal akan deretan kafe dan restoran mewahnya.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan dua lantai yang tampaknya sedang direnovasi besar-besaran. Banyak material bangunan yang terlihat berantakan di beberapa titik pelataran.
Mutiara menaikkan sebelah alisnya, heran setengah mati. Ia sengaja tak bertanya kenapa diseret ke tempat penuh debu ini dan hanya diam melangkah mengekor di belakang Samudra saat mereka keluar dari dalam mobil.
Muti melipat kedua tangannya di dada, menatap sekeliling ruangan yang masih berdebu dengan kening berkerut dalam. "Kenapa lo bawa gue ke tempat rongsokan gini, Samsul? Lo mau suruh gue jadi kuli bangunan di hari libur gue?"
Samudra memutar tubuhnya, menatap Muti lurus-lurus dengan binar mata tengil yang mendadak berganti penuh rahasia.
"Bukan," sahut Samudra santai, melangkah mendekat. "Aku cuma mau memperlihatkan calon bisnis baruku... yang rencananya bakal aku namai pakai namamu."
Ehem!
Mutiara seketika membeku. Kata-kata Samudra bahwasanya tempat itu akan dinamai dengan namanya sukses membuat tenggorokannya mendadak tersumbat. Jantungnya berdesir hebat, membuat rasa canggung yang teramat sangat menyelimuti Mutiara hingga ia terpaksa mengalihkan pandangan ke sembarang arah, tak berani bertatap mata dengan pria itu.
Untuk menutupi salah tingkah dan kegugupannya, Mutiara sengaja berdeham keras-keras dan berpura-pura sibuk mengamati konstruksi plafon yang belum selesai.
Samudra menatap Muti sejenak, "Dinamai pakai namamu itu biar kalau bisnisnya bangkrut, yang dicari penagih utang itu kamu. Muka kamu lebih cocok jadi jaminan kredit macet."
Romantisme yang baru saja mampir satu detik di otak Mutiara lenyap seketika.