Mutiara Samudra

ayu melati
Chapter #17

SAKSI MATA

Samudra kembali mencium Muti, menciumnya, menciumnya, so desperately, so needy. Sepanjang hidupnya, ini adalah kali pertama ia kehilangan kontrol total dan akal sehat hanya karena bibir seorang wanita. Rasa manis dan hangat dari Mutiara membuatnya serakus ini. Detak jantung Samudra berdegup kencang tak beraturan, kepalanya mendadak pusing oleh gairah yang meledak-ledak. Namun di sela-sela pagutan pekat itu, suara desahan halus yang lolos dari mulut Mutiara menyisipkan sedikit ketakutan di benaknya. Apakah ia menyakitinya? Apakah Muti merasa sangat terintimidasi oleh perbuatannya?

Namun sebelum Samudra sempat menyuarakan kekhawatirannya atau mengurai pagutannya, sebuah suara lantang yang sangat familier mendadak menggelegar memecah keheningan ruangan.

"Ya Gusti nu agung!!!"

Napas Samudra mendadak tertahan. Mutiara refleks membuka mata dengan napas yang masih tersengal-sengal. Di balik bahu telanjang Samudra, seorang pria sepuh bertubuh tegap dengan tongkat kayu berukir berdiri tepat di ambang pintu. Matanya membelalak lebar, memandangi posisi mereka di atas meja kayu dengan mulut ternganga.

Mutiara syok setengah mati. Darah serasa berhenti mengalir ke kepalanya saat itu juga. Siapa pria tua berpakaian necis ini?!

"Kakek?!" cetus Samudra terperanjat. Pria itu terburu-buru menarik tubuhnya mundur lalu merengkuh tubuh Mutiara protektif, sebelum menyambar kaus hitamnya yang tergeletak tak jauh di atas lantai.

"Bisa berhenti tertawa, Kek?" gerutu Samudra sambil membelakangi kakeknya, berusaha memakai kausnya yang agak sukar ditarik karena tubuhnya basah oleh keringat dan noda cat. Tangan satunya sempat bergerak cepat menutupi penampilan Mutiara yang masih berantakan.

Pria tua itu bukannya berhenti, malah semakin terbahak-bahak sampai terbatuk pelan. Ia menyandarkan kedua tangannya di atas kepala tongkat, menatap cucunya yang baru saja kedapatan mencumbu seorang wanita di atas meja berdebu.

"Euleuh-euleuh, Gusti nu agung! Ya ampun, Sam... Maneh bilang ke Kakek lagi sibuk cek lokasi proyek, eh ternyata malah lagi sibuk 'bikin proyek sendiri' sama wanita!" ledek pria tua itu dengan tawa renyahnya yang lantang. "Kumaha diri maneh ayeuna?!"

Mutiara buru-buru melompat turun dari meja kayu, merapikan bajunya yang lecek serta rambutnya yang acak-acakan hasil karya Samudra. Wajahnya membara merah padam; rasanya ia ingin membelah bumi dan bersembunyi di dalamnya saat itu juga. Ia memang belum pernah bertemu dengan pria tua ini sebelumnya, tetapi mendengar Samudra memanggilnya 'Kakek', Mutiara langsung sadar siapa sosok di hadapannya: Kakek Rajendra, sang pemilik warisan yang menjadi alasan utama Samudra mengajukan nikah kontrak padanya.

"Saya... saya cuma asistennya, Pak," cicit Mutiara terbata-bata, berdiri kaku sembari menyembunyikan kedua tangannya yang penuh noda cat di belakang punggung.

Lihat selengkapnya