Mutiara Samudra

ayu melati
Chapter #18

KOPI, KENANGAN

"Sobat!"

Muti tertawa saat melihat Afif berlari-lari kecil menuju ke arah tempatnya berdiri. Lelaki ini benar-benar teman sejatinya sejak kecil. Siapa sangka mereka akan kembali sering bertemu di kota yang sama—bahkan kini Afif menjelma menjadi pemilik kafe bernuansa indie yang cozy dan selalu dipenuhi alunan musik folk. Perkataan orang-orang tentang manusia yang akan kembali berakar di tempat ia tumbuh memang benar adanya. Kafe ini rasa-rasanya sudah menjadi rumah kedua bagi mereka.

Afif tak lagi bertubuh gemuk seperti zaman SD dulu. Semua lemaknya menghilang, berganti penampilan rapi ala pemuda senja—kaos polos berlapis kemeja flannel longgar dengan lengan yang digulung, memperlihatkan lengan kokohnya. Muti rasa, ia bahkan bisa menggelayut di sana dan menjadikan lengan Afif sebagai pegangan ayunan. Afif kini jangkung, tampan, dan wajahnya sangat enak dipandang. Menurut pengakuan banyak pelanggan wanita yang sering nongkrong di kafenya, lelaki itu masuk dalam jajaran top three pria idaman dan calon mantu favorit para ibu-ibu.

"Makin hari makin ganteng aja kawanku yang satu ini," goda Muti.

Afif mengusap tengkuknya canggung, lalu tersenyum tipis. "Tapi tetap aja kamu enggak mau denganku."

"Kita teman. Selamanya," Muti menepuk-nepuk bahu Afif, menegaskan setiap katanya dengan cengiran khas.

"Aku sedih," Afif mencebik, pura-pura meranan. Sedari dulu ia tahu ia tak pernah punya peluang.

"Sudah ketemu?" tanya Afif kemudian, memotong kelakarnya.

Muti mengangguk. Mereka sama-sama tahu siapa yang sedang dibicarakan tanpa perlu menyebutkan nama Samudra.

"Katanya, sifatnya masih sama kayak dulu?"

Muti mengangguk lagi, menghembuskan napas pelan. "Masih sama. Masih menyebalkan setengah mati."

Pikiran Muti melayang kembali pada perjalanan pulang di dalam mobil Jeep Wrangler milik Samudra sore itu. Aura Samudra benar-benar berubah drastis setelah mereka berpamitan dengan Kakek Rajendra. Muti sempat geleng-geleng kepala melihat bagaimana pria itu bisa berganti raut wajah hanya dalam sepersekian detik; Samudra selalu punya cara untuk mengontrol emosinya dengan begitu tenang, berbanding terbalik dengan Muti yang selalu gampang tersulut.

"It went well, I guess," gumam Samudra santai sembari memutar kemudi dengan satu tangan.

"What are you talking about?" cetus Muti sambil memandangnya heran. Ke mana perginya pria yang beberapa menit lalu mencumbunya dengan begitu pekat dan tanpa ampun di atas meja kayu? Yang duduk di kursi pengemudi saat ini justru sosok dokter bernada tenang yang bertingkah seolah tak ada hal besar yang baru saja terjadi. "Kakek lo tadi nemuin kita lagi kayak gitu, dan lo bilang 'went well'?!"

"No, not my grandpa," sahut Samudra lirih, melirik Muti lewat sudut matanya dengan binar tengil yang tertahan. "Our kiss."

Wajah Muti seketika memerah padam, panas sampai ke ujung telinga. "It wasn't a KISS, Samsul! It was BARBARIC, YOU IDIOT!"

Samudra justru tertawa renyah, kekehan puasnya bergema hangat memenuhi kabin mobil sebelum ia kembali memfokuskan pandangan ke jalanan malam yang tenang.

"Kamu pernah jatuh cinta nggak?"

Afif terdiam. Pernah kan? Jatuh cinta ke kamu.

Namun lelaki itu tak menyuarakan isi hatinya. Ia tahu betul Muti akan tetap mengumumkan pada dunia kalau mereka hanyalah sahabat dan tak akan pernah lebih dari status itu. Rasa sukanya sejak mereka kanak-kanak hingga hari ini tak pernah padam, justru semakin dalam.

Afif menatap lekat binar mata Muti saat gadis itu menceritakan Samudra. Muti boleh saja mengomel, bersumpah serapah, dan bersikap denial setengah mati mengaku sangat membenci pria itu. Tapi bagi Afif yang sudah sering memperhatikan Muti dari dulu, binar mata itu tak bisa berbohong. Ada getaran berbeda di sana; mata Muti jelas-jelas memperlihatkan sosok wanita yang tanpa sadar mulai jatuh hati, meski gengsinya setinggi langit untuk mengakui.

Lihat selengkapnya