“Nina... bobo... oh, Nina bobo...”
Suara perempuan itu mengalun lirih di dalam rumah kecil yang nyaris tanpa cahaya.
Dunia di dalam kepala wanita itu berjalan dalam sekatnya sendiri—sebuah labirin sunyi bernama autisme yang kerap diberi label “gila” oleh orang-orang luar.
Bunga menyanyikannya dengan artikulasi yang tidak sempurna. Nadanya sesekali meleset, tetapi bagi bayi yang berada dalam dekapannya, itulah melodi paling menenangkan yang pernah ada.
Ia mengayunkan tubuh pelan mengikuti irama lagunya sendiri. Senyumnya begitu tulus, begitu hangat, seolah dunia tidak pernah berbuat kejam kepadanya.
Perlahan, tangis bayi itu mereda. Jemari Bunga mengusap pipi mungil putrinya berkali-kali, lalu tertawa pelan ketika tangan kecil itu menggenggam salah satu jarinya.
Aroma minyak telon dan bedak bayi yang khas dari tubuh Bunga menyelimuti pelukan itu, menjadi wujud kasih sayang pertama yang diterima bayi kecil tersebut.
“Nina...”
Bunga mengulang nama itu berkali-kali dengan mata berbinar.
“Nina... Bunga...”