“Fiuuuw… Cewek, sini dong temenin abang,” sebuah suara cempreng bergaung lancang di tengah sepi dari arah bangku sebuah warung kelontong.
Seorang gadis berambut panjang berdiri tak jauh dari sana.
Seragam sekolahnya tampak berantakan; lengan baju yang digulung tinggi, kemeja yang dikeluarkan dari rok di atas lutut, serta tas ransel yang hanya tersampir lesu di sebelah pundak.
Ia sama sekali tidak menggubris panggilan itu. Dengan saksama, sang gadis justru menyesap dalam-dalam selinting nikotin di jemarinya.
“Fiuuuw… Sombong amat sih, Neng!” godaan itu kembali terdengar, memburu bersama tawa remeh.
Gadis itu menarik napas panjang, membiarkan nikotin membakar dadanya sebelum mengempaskan puntung tersebut ke tanah.
Sepatu sekolahnya menggilas bara yang tersisa, bersamaan dengan asap tebal yang diembuskannya ke udara.
Sepasang manik matanya menoleh tajam, menghunjam langsung ke arah sekelompok pemuda yang sedari tadi bersiul menggoda.
“Nyari ribut lo?” teriak sang gadis, mulai tersulut.
Beberapa siswa yang berada di sekitar tempat itu membelalak tegang saat melihat sang gadis justru mengepalkan tinju, siap menantang balik.
Tanpa komando, para siswa lain yang awalnya asyik nongkrong di warung itu langsung berhamburan pergi. Menyisakan tiga pemuda asing yang masih tertahan di bangku panjang.
Gadis itu melangkah tegap, mengikis jarak dengan tempo yang mengintimidasi.
Brak!
Telapak tangannya menghantam meja kayu dengan keras. Ia menatap ketiga pemuda itu bergantian dengan sorot mata dingin yang merendahkan.
“Kalian nggak tahu siapa gue? Anak-anak sini nggak ada yang ngasih tahu kalian?” suaranya terdengar datar, namun sarat akan ancaman.
Salah satu pemuda mendadak panik saat netranya tidak sengaja menangkap papan nama yang tersemat di seragam sang gadis.
“Bro, mendingan kita cabut. Dia si 'Nina Bobo' yang sering diomongin anak-anak tongkrongan,” bisiknya dengan suara bergetar.
Pemuda yang tadi memimpin siulan hanya bisa mendengus kasar guna menyembunyikan rasa gengsi. Tak ingin memicu keributan lebih jauh, ketiganya segera bangkit dan bergegas pergi dari sana.
Begitu kepulan debu dari langkah tergesa-gesa mereka menghilang, rasa dongkol di wajah sang gadis luntur, digantikan oleh senyum puas yang mengembang lebar.
Ia kemudian menghampiri pemilik warung yang mengintip dari balik etalase.
“Bu, mau bayar. Sama yang kemarin juga, yah. Totalnya berapa?” tanyanya sembari merogoh saku seragam.
“Cepek, Neng,” sahut ibu pemilik warung dengan helaan napas lega.
Gadis itu menyodorkan selembar uang merah. Bersamaan dengan itu, jemarinya bergerak lincah menyendok beberapa butir permen karet dari dalam toples plastik di atas meja.
“Sekalian catat yang ini ya, Bu,” ujarnya menyeringai jenaka, lalu melenggang pergi begitu saja.
Ibu pemilik warung hanya bisa menggelengkan kepala kehabisan kata, sembari membuka buku kusam untuk mencatat deretan utang baru yang ditinggalkan gadis tersebut.
Tak butuh waktu lama bagi sang gadis untuk tiba di area tembok samping, sebuah titik buta yang menjadi jalur alternatif favorit jika ingin menyusup ke dalam lingkungan sekolah.
Di sana, beberapa siswa—didominasi oleh barisan remaja laki-laki—tengah sibuk memanjat dinding beton yang menjulang tinggi. Ini adalah ritual rutin bagi para pencari masalah, termasuk dirinya.
Meskipun bel masuk belum berdentang, aksi menyelinap lewat tembok ini terpaksa dilakukan demi menghindari inspeksi kedisiplinan di gerbang utama.
Sebab, penampilannya saat ini adalah definisi dari bencana tata tertib: kemeja dikeluarkan, lengan digulung ketat, rok yang melanggar batas regulasi, dan yang paling krusial, aroma nikotin yang masih pekat melekat pada dirinya.
Sembari menunggu giliran untuk memanjat, gadis itu bersedekap dengan raut wajah jengah.
“Cepetan, woy! Lelet banget!” serunya mendesak.
“Sabar napa,” protes salah satu siswa dari atas pijakan tembok. “Mulut lo noh, bau rokok!”
Gadis itu tersentak.
“Anjrit…”
Ia segera mengembuskan napas ke telapak tangan untuk memeriksa kebenaran ucapan tersebut, lalu beralih mengendus aroma seragamnya sendiri. Sepasang matanya membelalak.
Ia bergerak cepat merogoh kantong ransel, mengeluarkan sebotol minyak wangi beraroma kuat lalu menyemprotkannya secara brutal ke seluruh permukaan seragam demi menyamarkan bau asap yang menusuk.
Selesai dengan urusan baju, ia lekas mengunyah dua butir permen karet mint sekaligus untuk menyegarkan napasnya.
Begitu para siswa lain berhasil melompati pembatas, kini menyisakan dirinya seorang diri di bawah tembok.
Suasana mendadak senyap. Setelah memastikan situasi sekitar aman dari jangkauan pandangan, ia mengambil ancang-ancang dan mulai memanjat dinding beton tersebut dengan gerakan yang cukup terlatih.