My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #2

1. Simbiosis Mutualisme

​“Fiuuuw… Cewek, sini dong temenin abang,” sebuah suara cempreng bergaung lancang di tengah sepi dari arah bangku sebuah warung kelontong.

​Seorang gadis berambut panjang berdiri tak jauh dari sana. 

Seragam sekolahnya tampak berantakan; lengan baju yang digulung tinggi, kemeja yang dikeluarkan dari rok di atas lutut, serta tas ransel yang hanya tersampir lesu di sebelah pundak.

​Ia sama sekali tidak menggubris panggilan itu. Dengan saksama, sang gadis justru menyesap dalam-dalam selinting nikotin di jemarinya.

​“Fiuuuw… Sombong amat sih, Neng!” godaan itu kembali terdengar, memburu bersama tawa remeh.

​Gadis itu menarik napas panjang, membiarkan nikotin membakar dadanya sebelum mengempaskan puntung tersebut ke tanah.

​Sepatu sekolahnya menggilas bara yang tersisa, bersamaan dengan asap tebal yang diembuskannya ke udara. 

Sepasang manik matanya menoleh tajam, menghunjam langsung ke arah sekelompok pemuda yang sedari tadi bersiul menggoda.

​“Nyari ribut lo?” teriak sang gadis, mulai tersulut.

​Beberapa siswa yang berada di sekitar tempat itu membelalak tegang saat melihat sang gadis justru mengepalkan tinju, siap menantang balik.

​ Tanpa komando, para siswa lain yang awalnya asyik nongkrong di warung itu langsung berhamburan pergi. Menyisakan tiga pemuda asing yang masih tertahan di bangku panjang.

​Gadis itu melangkah tegap, mengikis jarak dengan tempo yang mengintimidasi.

Brak!

​ Telapak tangannya menghantam meja kayu dengan keras. Ia menatap ketiga pemuda itu bergantian dengan sorot mata dingin yang merendahkan.

​ “Kalian nggak tahu siapa gue? Anak-anak sini nggak ada yang ngasih tahu kalian?” suaranya terdengar datar, namun sarat akan ancaman.

​Salah satu pemuda mendadak panik saat netranya tidak sengaja menangkap papan nama yang tersemat di seragam sang gadis.

​ “Bro, mendingan kita cabut. Dia si 'Nina Bobo' yang sering diomongin anak-anak tongkrongan,” bisiknya dengan suara bergetar.

​Pemuda yang tadi memimpin siulan hanya bisa mendengus kasar guna menyembunyikan rasa gengsi. Tak ingin memicu keributan lebih jauh, ketiganya segera bangkit dan bergegas pergi dari sana.

​ Begitu kepulan debu dari langkah tergesa-gesa mereka menghilang, rasa dongkol di wajah sang gadis luntur, digantikan oleh senyum puas yang mengembang lebar.

​Ia kemudian menghampiri pemilik warung yang mengintip dari balik etalase.

​“Bu, mau bayar. Sama yang kemarin juga, yah. Totalnya berapa?” tanyanya sembari merogoh saku seragam.

​ “Cepek, Neng,” sahut ibu pemilik warung dengan helaan napas lega.

​ Gadis itu menyodorkan selembar uang merah. Bersamaan dengan itu, jemarinya bergerak lincah menyendok beberapa butir permen karet dari dalam toples plastik di atas meja.

​ “Sekalian catat yang ini ya, Bu,” ujarnya menyeringai jenaka, lalu melenggang pergi begitu saja.

​ Ibu pemilik warung hanya bisa menggelengkan kepala kehabisan kata, sembari membuka buku kusam untuk mencatat deretan utang baru yang ditinggalkan gadis tersebut.

​Tak butuh waktu lama bagi sang gadis untuk tiba di area tembok samping, sebuah titik buta yang menjadi jalur alternatif favorit jika ingin menyusup ke dalam lingkungan sekolah.

​Di sana, beberapa siswa—didominasi oleh barisan remaja laki-laki—tengah sibuk memanjat dinding beton yang menjulang tinggi. Ini adalah ritual rutin bagi para pencari masalah, termasuk dirinya.

​Meskipun bel masuk belum berdentang, aksi menyelinap lewat tembok ini terpaksa dilakukan demi menghindari inspeksi kedisiplinan di gerbang utama.

​Sebab, penampilannya saat ini adalah definisi dari bencana tata tertib: kemeja dikeluarkan, lengan digulung ketat, rok yang melanggar batas regulasi, dan yang paling krusial, aroma nikotin yang masih pekat melekat pada dirinya.

​Sembari menunggu giliran untuk memanjat, gadis itu bersedekap dengan raut wajah jengah.

​“Cepetan, woy! Lelet banget!” serunya mendesak.

​“Sabar napa,” protes salah satu siswa dari atas pijakan tembok. “Mulut lo noh, bau rokok!”

​Gadis itu tersentak.

​“Anjrit…”

​Ia segera mengembuskan napas ke telapak tangan untuk memeriksa kebenaran ucapan tersebut, lalu beralih mengendus aroma seragamnya sendiri. Sepasang matanya membelalak.

​ Ia bergerak cepat merogoh kantong ransel, mengeluarkan sebotol minyak wangi beraroma kuat lalu menyemprotkannya secara brutal ke seluruh permukaan seragam demi menyamarkan bau asap yang menusuk.

​ Selesai dengan urusan baju, ia lekas mengunyah dua butir permen karet mint sekaligus untuk menyegarkan napasnya.

​Begitu para siswa lain berhasil melompati pembatas, kini menyisakan dirinya seorang diri di bawah tembok.

​Suasana mendadak senyap. Setelah memastikan situasi sekitar aman dari jangkauan pandangan, ia mengambil ancang-ancang dan mulai memanjat dinding beton tersebut dengan gerakan yang cukup terlatih.

Lihat selengkapnya