My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #3

2. Marvel(ous) & The Rebel

​“Dasar nenek lampir,” gumam Nina gusar begitu menginjakkan kaki di kelas 10-B.

​Ia mengempaskan tubuh ke kursi paling belakang. Pergerakannya yang kasar mengundang tatapan heran dari gadis di sebelahnya.

​“Ada apaan, Nin? Pagi-pagi tuh muka udah kusut aja. Jam pertama belum mulai loh,” tanya Nadin, teman sebangkunya yang selalu tampak tenang.

​Nina mendengus panjang. “Huft... Bu Rahma rese banget. Masa gue disuruh ngawasin kakak kelas killer dari kelas 11-B. Lo tahu kan, si Mar... Mar siapa dah? Ah, Marpin.”

​Nadin menoleh cepat. Gerakan tangannya yang sedang merapikan kotak pensil berhenti selama beberapa detik, sebelum ia kembali bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

​“Hah? Maksud lo, Kak Marvel?” tanya Nadin, nadanya kini terdengar jauh lebih datar.

​“Nah, itu dia. Rese banget, kan?” Nina melipat kedua tangan di dada dengan dahi berkerut.

​“Yah, meskipun tuh cowok bakal jadi tutor belajar gue. Tapi tetep aja gue ogah. Ntar kalau gue kenapa-kenapa gimana?” lanjut Nina bergidik.

​Mendengar ucapan itu, Nadin malah terkekeh geli. “Hahaha... Bukannya kebalik, Nin?”

​“Dih, ngeledek lu!” Nina menoleh sinis sambil mengacungkan kepalan tinjunya.

​Nadin bergeser mendekat. “Iya deh, iya... Nih,” ucapnya seraya menyodorkan sebuah buku tulis.

​“Semalam udah gue rangkum catatan gue buat lo.”

​Mata Nina seketika berbinar cerah. “Awh... Nadin sweet banget! Tahu aja apa yang gue mau.”

​“Iya dong, Nina Bobo.”

​“Iissst... Jangan panggil gue pakai nama itu!” sungut Nina, wajahnya merengut.

​Nadin terkekeh. Ia menopang dagu dengan sebelah tangan, menatap Nina dengan binar yang sulit diartikan. “Iya deh, iya. Tapi, Nin... beneran lo harus berurusan sama Kak Marvel?”

​Nina hanya mengangkat bahu, enggan ambil pusing. “Ya gitu deh. Lagian gue juga enggak punya pilihan lain.”

​“Tapi lo santai aja gitu? Maksud gue, anak-anak satu sekolah kan pada masang muka tegang tiap kali nama dia disebut,” pancing Nadin lagi, nadanya terdengar kasual seolah hanya menanyakan menu kantin.

​“Ngapain takut? Selama dia enggak macem-macem sama gue, ya gue biasa aja,” sahut Nina santai, meski dalam hati ada sedikit rasa sangsi. “Gue cuma males ribetnya.”

​Nadin memperhatikan raut wajah teman sebangkunya itu cukup lama, seolah tengah menimbang sesuatu. 

Begitu mendapati ketenangan di mata Nina, seulas senyum lega yang amat tipis akhirnya terbit di bibir Nadin.

​Sembari mengetuk pulpennya ke meja, Nadin kembali membuka suara. “Tapi dipikir-pikir, seru juga. Kayaknya hubungan kalian bakal jadi mirip kayak kita sekarang.”

​Nina mengernyitkan dahi, menoleh heran. “Mirip kita? Gimana maksud lo?”

​“Gue pinjemin catatan gue ke lo. Terus, karena anak-anak di sini pada segen dan agak takut sama lo, gue jadi aman. Enggak ada yang berani ngusik,” bisik Nadin. “Sama-sama untung, kan?”

​“Yeee... itu mah lo doang yang untung banyak!” cerocos Nina.

Lihat selengkapnya