“Dasar nenek lampir,” gumam Nina gusar begitu menginjakkan kaki di kelas 10-B.
Ia mengempaskan tubuh ke kursi paling belakang. Pergerakannya yang kasar mengundang tatapan heran dari gadis di sebelahnya.
“Ada apaan, Nin? Pagi-pagi tuh muka udah kusut aja. Jam pertama belum mulai loh,” tanya Nadin, teman sebangkunya yang selalu tampak tenang.
Nina mendengus panjang. “Huft... Bu Rahma rese banget. Masa gue disuruh ngawasin kakak kelas killer dari kelas 11-B. Lo tahu kan, si Mar... Mar siapa dah? Ah, Marpin.”
Nadin menoleh cepat. Gerakan tangannya yang sedang merapikan kotak pensil berhenti selama beberapa detik, sebelum ia kembali bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
“Hah? Maksud lo, Kak Marvel?” tanya Nadin, nadanya kini terdengar jauh lebih datar.
“Nah, itu dia. Rese banget, kan?” Nina melipat kedua tangan di dada dengan dahi berkerut.
“Yah, meskipun tuh cowok bakal jadi tutor belajar gue. Tapi tetep aja gue ogah. Ntar kalau gue kenapa-kenapa gimana?” lanjut Nina bergidik.
Mendengar ucapan itu, Nadin malah terkekeh geli. “Hahaha... Bukannya kebalik, Nin?”
“Dih, ngeledek lu!” Nina menoleh sinis sambil mengacungkan kepalan tinjunya.
Nadin bergeser mendekat. “Iya deh, iya... Nih,” ucapnya seraya menyodorkan sebuah buku tulis.
“Semalam udah gue rangkum catatan gue buat lo.”
Mata Nina seketika berbinar cerah. “Awh... Nadin sweet banget! Tahu aja apa yang gue mau.”
“Iya dong, Nina Bobo.”
“Iissst... Jangan panggil gue pakai nama itu!” sungut Nina, wajahnya merengut.
Nadin terkekeh. Ia menopang dagu dengan sebelah tangan, menatap Nina dengan binar yang sulit diartikan. “Iya deh, iya. Tapi, Nin... beneran lo harus berurusan sama Kak Marvel?”
Nina hanya mengangkat bahu, enggan ambil pusing. “Ya gitu deh. Lagian gue juga enggak punya pilihan lain.”
“Tapi lo santai aja gitu? Maksud gue, anak-anak satu sekolah kan pada masang muka tegang tiap kali nama dia disebut,” pancing Nadin lagi, nadanya terdengar kasual seolah hanya menanyakan menu kantin.
“Ngapain takut? Selama dia enggak macem-macem sama gue, ya gue biasa aja,” sahut Nina santai, meski dalam hati ada sedikit rasa sangsi. “Gue cuma males ribetnya.”
Nadin memperhatikan raut wajah teman sebangkunya itu cukup lama, seolah tengah menimbang sesuatu.
Begitu mendapati ketenangan di mata Nina, seulas senyum lega yang amat tipis akhirnya terbit di bibir Nadin.
Sembari mengetuk pulpennya ke meja, Nadin kembali membuka suara. “Tapi dipikir-pikir, seru juga. Kayaknya hubungan kalian bakal jadi mirip kayak kita sekarang.”
Nina mengernyitkan dahi, menoleh heran. “Mirip kita? Gimana maksud lo?”
“Gue pinjemin catatan gue ke lo. Terus, karena anak-anak di sini pada segen dan agak takut sama lo, gue jadi aman. Enggak ada yang berani ngusik,” bisik Nadin. “Sama-sama untung, kan?”
“Yeee... itu mah lo doang yang untung banyak!” cerocos Nina.