Begitu menapakkan kaki di perpustakaan, hawa senyap segera menyambutnya. Marvel sengaja mengincar bangku di sudut, sebuah titik tak kasat mata demi menghalau sorot mata dingin yang kerap menghakimi eksistensinya.
Setelah menghempaskan tubuh di kursi, sepasang netranya mengedar lambat. Belum ada tanda-tanda keberadaan gadis pemberontak yang sempat didefinisikan oleh Bu Rahma.
Marvel menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan, membiarkan dadanya kembali berdegup normal.
Sembari menunggu, ia membuka buku catatan dan mulai merangkai beberapa soal sederhana untuk menguji si siswi nanti.
Beberapa menit berselang.
Gedebuk!
Guncangan keras bergema dari arah luar. Melalui pintu kaca, tampak siluet seorang gadis menendang kencang tong sampah yang bertengger di sisi pintu, seolah benda mati itu baru saja menyinggung harga dirinya.
Tanpa beban, gadis itu melangkah masuk sambil mengunyah permen karet dengan ritme santai. Netranya memicing, memindai seisi ruangan demi mencari kakak kelas yang diutus Bu Rahma untuk memberikan tutor untuknya.
Tak butuh waktu lama. Tatapannya instan terkunci pada seorang pemuda di sudut ruangan yang setengah terhalang rak buku tinggi.
Pemuda itu duduk tenang dengan headset kabel yang terpasang, tampak tenggelam dalam barisan angka.
Gadis itu melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di samping meja seraya berdehem kentara. “Ehem... Marpin.”
Pemuda di hadapannya tak bergeming, masih larut di dalam dunia privatnya.
“Woy... Marpuah!” seru gadis itu, sedikit menaikkan oktaf suaranya.
“Hussst!” Penjaga perpustakaan langsung melayangkan teguran tajam dari balik meja sirkulasi.
Gadis itu menoleh, melempar anggukan canggung dan cengiran tanpa dosa sebagai permohonan maaf.
Melihat Marvel yang masih abai, kegusaran ringkas mulai merayap di benaknya. Dengan gerakan impulsif, ia mengulurkan tangan, mencabut salah satu earpiece dari telinga Marvel, lalu menjatuhkan diri di kursi tepat di hadapan pemuda itu.
Marvel tersentak, tatapan tajamnya langsung menghujam figur yang kini tengah menyengir lebar di depannya.
“Lo telat,” tegur Marvel, suaranya dingin tanpa riak.
Senyum ramah yang sempat dipasang gadis itu langsung berganti cemberut. “Elo yang datang kecepetan!” balasnya sengit sembari menudingkan jari ke depan wajah Marvel.
Marvel memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang menghadapi interupsi yang mengusiknya. Tanpa membuang kata, ia menyodorkan buku catatannya ke depan dada gadis itu. “Kerjain sekarang. Sebelum jam istirahat selesai.”
Sudut bibir gadis itu terangkat, melayangkan tatapan sinis antara barisan soal di meja dan wajah ketus Marvel secara bergantian. “Ye... nyari ribut lo?”
Marvel menyilangkan lengan di depan dada, bersandar santai. “Kenapa? Gak bisa?”