My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #5

4.Gosip Tentang Nina

Hari berikutnya di SMA Bakti Luhur tidak dimulai dengan rutinitas biasa—melompati pagar tembok belakang. 

Pagi ini, Nina memutuskan untuk melangkah melewati gerbang utama, mencoba membaur di antara gelombang siswa.

Lagi pula, nekat memanjat pagar lagi sama saja dengan mengundang petaka. Bisa-bisa ia benar-benar dilaporkan kepada keluarga kandungnya mengenai tabiat membangkang di sekolah.

Nina sama sekali tidak sudi membiarkan wali kelasnya membuka mulut pada orang kesayangannya itu. Maka, demi keselamatan posisinya, kali ini ia memilih bermain aman.

Suasana di sekitar gerbang depan tampak kondusif. Langkah kakinya menyatu dengan arus riuh para siswa, meskipun seragam yang melekat di tubuhnya jelas-jelas telah menyalahi aturan.

Dengan dagu terangkat dan penuh percaya diri, ia terus melangkah. Toh, ia sudah beritikad baik untuk tidak berulah hari ini.

Tepat saat kakinya melewati batas gerbang, sebuah seruan tegas memecah kebisingan.

“Hei, kamu!”

Nina mengabaikan panggilan itu dan mempercepat langkah. Namun, pergerakannya terpaksa terkunci ketika dua siswa bertubuh tinggi mengadang langkahnya.

Mereka mengenakan seragam lengkap, berbalut almamater abu-abu dengan bis putih—atribut resmi yang hanya dikenakan pada momentum tertentu, atau oleh jajaran anggota OSIS.

Mata Nina membulat sempurna ketika sosok yang menegurnya tadi melangkah maju, membuat dua siswa yang menghalanginya otomatis menyingkir dengan senyum puas.

Axel—sang Ketua OSIS berparas rupawan—berdiri di sana, dikawal oleh dua tangan kanannya, Willy dan Maxime.

Nina tentu tidak asing dengan tiga serangkai itu. Wajah-wajah alim yang kerap menjadi pujaan para siswi di SMA Bakti Luhur, sekaligus manusia-manusia yang paling ia hindari. Sebab, ketiga orang ini—terutama Axel—selalu memiliki radar tajam untuk mencari-cari kesalahan dari siswa bermasalah seperti dirinya.

Sepasang mata Axel bergerak lambat, memindai penampilan Nina dari atas hingga bawah dengan tatapan menyelidik.

“Kamu pikir bisa lolos dari razia seragam?” tanya Axel, nadanya mengintimidasi.

Nina mendengus remeh, membuang muka demi menyembunyikan kekesalan. “Nyari ribut,” gumamnya lirih.

Ia menyentak tali tas di pundaknya agar posisinya lebih nyaman, lalu menatap Axel dengan tatapan menantang. “Terus mau hukum gue? Yaudah, buruan. Mumpung gue lagi mode nurut.”

Nina memutar bola matanya jengah. “Lagi pula, gue juga males dengerin lo ngomong. Bahasa lo sok baku. Kaku kayak buku paket.”

Axel mendengus, rahangnya mengeras mendengar respons santai tersebut.

“Tumben cewek barbar kayak lo mau lewat depan,” cibir Maxime yang berdiri di sisi kanan. “Kenapa? Pagar tembok belakang dipasang kawat berduri?”

Sepasang mata Nina menyipit tajam, tangannya mengepal seolah siap melayangkan hantaman ke wajah sang kakak kelas. Namun, sebelum situasi memanas, Axel segera menengahi. “Max!”

Nina mengurungkan niat, meski tatapannya masih mengunci Maxime dengan pandangan mengancam.

Ketegangan sempat menggantung sebelum Axel kembali bersuara, “Max, Will… kalian pantau anak-anak yang lain aja di depan. Biar cewek ini gue yang urus.”

Maxime dan Willy mengangguk patuh lalu segera memisahkan diri, kembali mengawasi barisan siswa yang terus mengalir masuk.

Sementara itu, Axel beralih menatap Nina, yang matanya masih sibuk menguliti punggung Maxime dengan jengkel.

“Saya hargain inisiatif kamu yang mau lewat gerbang depan hari ini,” ujar Axel, kali ini dengan intonasi yang lebih tenang.

Nina menoleh cepat, satu alisnya terangkat sangsi. “Maksud lo?”

Axel mengulas senyum tipis, tipikal senyuman yang sulit diartikan. “Ya… saya tahu. Pasti susah kan buat enggak bikin masalah? Apalagi buat ukuran cewek kayak kamu.” Tatapannya kembali menyapu jajaran atribut seragam Nina yang berantakan.

Nina berdecak, merasa risih dengan perhatian tersebut. “Halah, bacot. Cepetan deh, kalau mau dihukum, hukum aja. Enggak usah buang-buang waktu gue.”

Axel mengangguk lambat, senyum puasnya semakin lebar. Ia tahu betul bagaimana reputasi Nina sebagai siswi pemberontak di sekolah ini.

Menyaksikan gadis itu tidak banyak mendebat atau memberikan perlawanan berarti memicu kepuasan tersendiri di benaknya sebagai pemimpin.

Ada sesuatu yang berbeda dari cara Nina menatapnya—datar dan ketus, tanpa ada binar kekaguman seperti siswi-siswi lain yang kerap mencari perhatiannya. Hal itu justru memacu adrenalin Axel untuk mengulik lebih dalam.

Lihat selengkapnya