Begitu bel jam istirahat berdentang, Nina segera melangkah keluar dari ruang kelas.
Ia berjalan santai membelah koridor, sengaja mengenakan jaket hoodie milik Marvel yang tampak tenggelam di tubuhnya agar tidak lupa untuk mengembalikan benda itu kepada pemiliknya.
Di tengah langkah, memori Nina memutar kembali ucapan pemuda itu tadi pagi. “Bu Rahma bilang tutornya dipindahin ke ruang OSIS.”
Langkah kaki Nina mendadak terkunci. “Ruang OSIS,” gumamnya lirih.
Ia mengedikkan bahu acuh. Tanpa ragu, ia memutar tumit, berbalik arah menjauh dari lokasi yang dimaksud.
Sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket tersebut, ia melangkah santai menuju tempat pelarian favoritnya.
Sementara itu, suasana di dalam ruang OSIS terasa kaku. Marvel telah menunggu cukup lama, menyadari bahwa gadis yang seharusnya ia bimbing tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Ruangan itu sebenarnya tidak terlalu ramai. Tetap saja, Marvel merasa risih karena beberapa pasang mata anggota OSIS di sana sesekali mencuri pandang ke arah sudut tempatnya duduk.
Beruntung, headset kabel putih yang menyumbat telinganya cukup ampuh untuk menghalau bisik-bisik sumbang yang enggan ia dengar.
Meski begitu, musik di telinganya gagal meredam rasa gelisah yang kian menebal. Apa tuh anak mangkir? batinnya gusar.
Marvel menyentak tubuhnya berdiri, lalu melangkah keluar meninggalkan ruang OSIS dengan tergesa.
“Udah dibilangin jangan telat, malah enggak dateng,” gerutunya pelan sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling koridor.
Sepasang matanya menyisir setiap sudut sekolah. Menariknya, rasa panik yang biasa mendera akibat tatapan sinis dan menghakimi dari para siswa kini menguap begitu saja.
Kegelisahan itu berganti dengan rasa kesal dan penasaran yang membuncah tentang keberadaan gadis pembuat onar yang sukses mengusik ketenangannya.
Langkah kaki Marvel melambat di dekat area lapangan sekolah. Ia menengadah, memindai lantai tertinggi gedung.
Tepat di pembatas rooftop, samar-samar Marvel menangkap kepulan asap tipis yang menari di udara, diikuti oleh helaian rambut seorang gadis yang berkibar pelan ditiup angin.
Marvel mendengus pelan. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengayunkan langkah lebar menuju tangga atap gedung.
Beberapa menit kemudian, pintu besi rooftop terbuka. Dugaan Marvel terbukti sepenuhnya ketika mendapati Nina sedang duduk santai di bangku panjang, asyik menyesap selinting nikotin.
“Gue udah nungguin dari tadi. Lo malah enak-enakan di sini,” ujar Marvel ketus sembari melangkah mendekat.
Nina hanya memalingkan wajah, enggan memedulikan presensi pemuda itu dan kembali mengisap nikotinnya dalam-dalam.
“Kenapa lo mangkir?” tanya Marvel lagi. Kini ia telah berdiri tepat di hadapan Nina, melipat kedua tangan di dada menuntut penjelasan.
“Kagak mangkir,” sahut Nina santai, pandangannya masih terlempar ke arah langit. “Gue nyebat dulu. Mulut gue asem banget belum kena r*kok dari pagi.”
Rahang Marvel mengeras. Tanpa aba-aba, ia merampas paksa benda itu dari jemari Nina, melemparkannya ke lantai, lalu menginjaknya dengan kasar hingga gepeng.
Nina sontak menoleh dan berdiri, matanya berkilat marah. “Apaan sih, lo! Ikut campur banget!”
“R*kok itu enggak baik buat kesehatan. Lo baru kelas 10, mau mati muda?” balas Marvel, nadanya meninggi.
Mendengar gertakan itu, Nina justru melipat tangan di dada. Seulas seringai provokatif terbit di sudut bibirnya. “Kenapa? Lo khawatir sama gue?”
“Enggak penting,” tepis Marvel cepat, menyembunyikan letupan aneh di dadanya.
“Sekarang gue tanya lagi. Kenapa lo sengaja enggak dateng? Tadi pagi udah gue bilangin, kan, tempatnya dipindahin ke ruang OSIS.”
Marvel melirik jam tangannya sekilas sebelum kembali mengunci tatapan pada Nina. “Jam istirahat udah mau abis, dan lo masih bisa santai-santai di sini.”
“Gue males,” potong Nina, kembali membuang muka.
“Lo pikir tindakan lo ini enggak ngebuang waktu gue?”