My Dear Nina

Rnisyrff
Chapter #7

6. Bunga

​Seusai santap pagi, Nina berpamitan kepada kedua orang tua angkatnya. 

Kendati kini hidup berkecukupan, ia selalu menolak halus fasilitas sopir pribadi yang ditawarkan Bayu dan Naila dengan dalih transportasi publik jauh lebih praktis.

​Padahal, di lubuk hati, ia enggan terus menikmati kemudahan dari keluarga yang bukan darah dagingnya sendiri. Lagipula, diawasi seorang sopir hanya akan merenggut kebebasannya bergerak. 

Bayu dan Naila sama sekali tidak menaruh curiga. Di mata mereka, Nina tetaplah putri angkat yang santun dan tahu menjaga perangai. Lampu hijau pun dengan mudah ia dapatkan.

Kini, di atas sepeda motor ojek daring yang melaju membelah jalanan, pergolakan kembali muncul di benak Nina. Ia memajukan posisi duduk, lalu menepuk pelan pundak sang pengemudi.

​“Pak, di depan belok kanan ya,” ujar Nina, mengeraskan suara di balik deru angin.

​Sang pengemudi melirik dari kaca spion, tampak mengernyit. “Loh, salah jalan dong, Mbak? Enggak sesuai sama destinasi di aplikasi?”

​“Ke Bakti Luhur enggak jadi, Pak. Saya mau melipir dulu.”

​“Oh, siap, Mbak. Ikut rute Sampeyan aja kalau gitu.”

​“Abis belok kanan langsung lurus terus ya, Pak. Nanti ada rumah cat putih sebelah kiri.”

​Motor tersebut melesat lincah memotong tikungan, hingga akhirnya menepi tepat di depan sebuah hunian bersahaja. Pepohonan rindang di halaman depan menyebarkan nuansa asri yang teduh. 

Inilah satu-satunya ruang yang dirasakan Nina sebagai tempat pulang yang sesungguhnya—sebuah suaka kedamaian di saat rumah mewah yang ia tempati terasa asing.

​Suasana pagi itu sepi, persis dugaan Nina. Cempaka Lestari—nenek kandungnya—pasti telah beranjak ke pasar sejak fajar demi berburu perlengkapan menjahit. 

Sementara di dalam bangunan yang terkunci rapat dari luar itu, Bunga Lestari, ibu kandung Nina, sedang mengurung diri dalam dunianya sendiri. 

Semenjak tragedi kelam belasan tahun silam, wanita dengan spektrum autisme tersebut enggan menapakkan kaki ke dunia luar. Trauma mendalam telah membelenggu jiwanya.

​Dengan langkah hati-hati, Nina mendekati pintu. Jemarinya merogoh isi tas, mengeluarkan kunci cadangan, lalu memutarnya perlahan. 

Begitu pintu terbuka, pemandangan lantai yang dipenuhi serakan kain perca—sisa potongan bahan dari pesanan jahitan milik Oma Cempaka—terhampar tak beraturan.

​Nina menghela napas pelan. Ia melangkah menuju sebuah kamar di sudut rumah. Kepalanya menyembul dari balik pintu yang sedikit terbuka. “Bubu!” serunya lirih namun riang.

​ Wanita berusia tiga puluh tahunan yang tadinya duduk di sofa itu menoleh. Mendengar suara yang familier, kedua tangannya langsung mengepak-ngepak cepat di depan dada—sebuah gerakan refleks tubuh yang mendadak dipenuhi kegembiraan.

​“Nina… Nina!” seru Bunga sembari mengulurkan kedua tangan dengan kaku, meminta dekapan tanpa menatap langsung manik mata putrinya. Fokus matanya justru tertuju pada kerah seragam Nina.

​Nina langsung merengkuh tubuh ibunya. Namun, baru beberapa detik bersentuhan, Bunga mulai menggeliat gelisah dan menepuk pundak Nina berulang kali. 

Dekapan erat itu rupanya membuat Bunga merasa sesak. Nina yang sangat memahami kondisi tersebut segera mengurai pelukan mereka, mundur selangkah untuk memberikan ruang.

​“Nina bawa permen?” tanya Bunga cepat. Jemarinya bergerak gelisah, meraba-raba ujung saku seragam Nina dengan gerakan tak sabar, sementara tubuhnya mulai menggoyang-goyangkan diri ke kiri dan ke kanan.

​ Nina mengangguk kecil, lalu merogoh saku seragamnya. “Nih… Nina bawa banyak buat Bubu,” ujarnya sembari menyodorkan beberapa butir permen warna-warni di atas telapak tangannya.

​Wanita itu bertepuk tangan gembira. Namun, tepat saat jemari Bunga hendak menyambar permen itu, Nina menariknya kembali ke balik punggung.

​“Tapi ada syaratnya. Soalnya Bubu nakal,” ucap Nina sembari mengerucutkan bibir, berpura-pura sebal. 

Matanya mengedar, menyapu sekeliling kamar yang berantakan. Benang wol warna-warni berserakan di lantai, berkejaran dengan sebuah hakpen yang masih mengait untaian rajutan setengah jadi.

​“Bubu nakal? Enggak. Permen, permen,” beo Bunga cepat. Tatapannya menumpu lekat pada gulungan benang wol di lantai, seolah menolak dialihkan sebelum tujuannya terpenuhi.

​Nina kembali menatap ibunya dengan tatapan menyelidik. “Bubu begadang lagi, ya, ngerajutnya?”

​Bunga langsung menggeleng cepat. “Ngerajutnya… enggak,” gumamnya lirih, meniru intonasi Nina di akhir kalimat sembari menyembunyikan jemarinya yang kapalan di balik lipatan rok.

​Nina maju selangkah, menundukkan tubuh agar sejajar dengan sang ibu. “Boleh. Tapi abis makan permen, Bubu harus tidur, ya? Entar Nina temenin.”

​“Bubu tidur, ya. Tidur, tidur,” ucap Bunga sambil mengangguk pasrah, mengulang instruksi agar meresap ke dalam kepalanya.

Lihat selengkapnya